3 Sep 2015

Ekspresi Cinta Robi’ah Al-‘Adawiyah

Aku mengenal cinta
Sejak aku mengenal cinta-Mu
Aku selalu siap mendesahkan nama-Mu
Duhai Kau Yang Melihat
Seluruh rahasia-rahasia setiap hari
Sedang aku yang tak bisa menatap wajah-Mu

Cinta. Bait syair tersebut menggambarkan ekspresi seseorang yang sedang jatuh cinta. Sosok itu adalah Robi’ah Al-‘Adawiyah, wanita yang populer dengan nilai ke-sufi-annya. Enam baris singkat syair cintanya mampu menerjemahkan jutaan kata cinta yang terpatri dalam hatinya. Hingga lidahnya berikrar pada jiwanya untuk bernafas dengan asma-Nya.
Ilmu ikhlas. Wanita populer tak pernah mengatakan dari mana ia belajar ‘ikhlas’, tapi aku yakin ia pun akan mengikrarkan ilmu itu didapat dari Sang Maha Cintanya. Ikhlas tak mengharap balas. Meski yang ia cintai adalah Sang Maha Kaya dan memiliki segalanya. Namun ia benar-benar tak ingin apapun selain cinta dari yang dicintai. Seperti syair berikut ini:

Ilahi, jika aku mengabdi kepada-MU karena takut neraka-MU
Bentangkan lebar-lebar pintu neraka itu untukku
Dan bila aku mengabdi kepada-MU karena menginginkan surga-MU
Tutup saja pintunya
Tetapi bila aku mengabdi kepada-MU karena cinta
Maka bukalah tirai wajah-MU hingga aku dapat memandanginya.

Maka aku pun hanya mampu menelan ludah membaca syair indahnya. Bayangkan saja, ia ikhlas terjerembab ke jurang neraka jika cintanya sedikit bercampur dengan ketakutan neraka. Ia ikhlas hanya menatap pintu surga dari luar jika nafsunya melirik kenikmatan surga.
Kata-kataku mungkin tak mampu berkata seperti itu karena kelemahanku. Belum berani bahkan. Aku juga belum mampu menikmati cinta sebesar itu pada-Nya. Maafkan aku... karena Cinta-MU masih sering aku madu dengan hal kedua bahkan hal-hal berikutnya. Aku mencintai-MU dengan beberapa alasan cinta, sudut pandang yang belum dapat aku spesifikkan seperti alasan ‘dua cinta’ miliknya berikut:

أحبكَ حُبّينِ حبَ الهوى                و حُبًا لأنكَ أهلٌ لذاك
فأمّا الذي هو حب الهوى              فشغلي بذكرك عمن سواك
وأمّا الذي أنت اهل له                 فكشفك لى الحجب حتى أراك
فلا الحمد في ذا ولا ذاك لي             ولكن لك الحمد في ذا وذاك

Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta karena hasrat diriku kepada-MU
Dan cinta karena hanya Engkau yang memilikinya
Dengan cinta hasrat, aku selalu sibuk menyebut nama-MU
Dengan cinta karena Diri-MU saja
Dan tidak yang lainnya
Karena aku berharap Engkau singkapkan tirai Wajah-MU
Biar aku bisa menatap-MU seluruh
Tak ada puja-puji bagi yang ini atau yang itu
Seluruh puja-puji untuk-MU saja.

Cintanya terlalu dalam. Cintanya sudah terlalu dalam merasuk jiwa raganya. Cintanya sukses mengantarkan yang dicintai sebagai yang paling pertama, paling segalanya, dan menganggapnya sebagai Sang Pecinta sejati. Bahagianya hanya karena Sang Pecinta, rindunya hanya untuk Sang Pecinta, nyawanya, jiwanya dan harapannya adalah milik Sang Pecinta. Ia tak mampu hidup tanpa Sang Pecinta. Karena hidupnya hanya untuk Sang Pecinta, Sang Ilahi semata.

يا سروري و مُنْيَتي و عمادي           وأنيسي وعدتي و مرادي
أنت روحُ الفؤاد أنت رجائي            أنت لي مؤنس وشوقك زادي
أنت لولاك ياحياتي وأنسي              ما تشتّت في فسيح البلاد
كم بدت منّة وكم لك عندي           من عطاء ونعمة وأيادي
حبك الآن بغيتي ونعيمي                وجلاء لعين قلبي الصادي
ليس لي عنك ما حييت براح            أنت منى ممكن في السواد
ان تكن راضيا عليّ فانّي                يا منى القلب قد بدا إسعادي

Duhai kegembiraanku duhai rinduku
Duhai tambatan hatiku
Duhai manisku
Duhai nyawaku, duhai dambaanku
Engkau ruh jiwaku
Engkaulah harapanku
Engkaulah manisku
Rasa rinduku kepada-MU adalah nafasku

Duhai Engkau, andai aku tanpa-MU
Duhai hidupku, duhai manisku
Aku tak kan menyusuri jalan terbentang di negeri-negeri
Betapa banyak anugerah, kenikmatan dan pertolongan-MU

Tapi kini cinta-MU lah dambaanku, keindahanku
Dalam pandangan mata-MU adalah dahagaku
Tanpa-MU hidupku tak bergairah
Bila Engkau rela, duhai dambaan jiwaku
Maka itu adalah kebahagiaanku

*(Syair-syairnya dikutip dari Buku Memilih Jomblo, karya: KH. Husein Muhammad)
Krapyak, 2 September 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar