Aku
mengenal cinta
Sejak
aku mengenal cinta-Mu
Aku
selalu siap mendesahkan nama-Mu
Duhai
Kau Yang Melihat
Seluruh
rahasia-rahasia setiap hari
Sedang
aku yang tak bisa menatap wajah-Mu
Cinta.
Bait syair tersebut menggambarkan ekspresi seseorang yang sedang jatuh cinta.
Sosok itu adalah Robi’ah Al-‘Adawiyah, wanita yang populer dengan nilai ke-sufi-annya.
Enam baris singkat syair cintanya mampu menerjemahkan jutaan kata cinta yang
terpatri dalam hatinya. Hingga lidahnya berikrar pada jiwanya untuk bernafas
dengan asma-Nya.
Ilmu ikhlas. Wanita
populer tak pernah mengatakan dari mana ia belajar ‘ikhlas’, tapi aku yakin ia
pun akan mengikrarkan ilmu itu didapat dari Sang Maha Cintanya. Ikhlas tak
mengharap balas. Meski yang ia cintai adalah Sang Maha Kaya dan memiliki
segalanya. Namun ia benar-benar tak ingin apapun selain cinta dari yang
dicintai. Seperti syair berikut ini:
Ilahi,
jika aku mengabdi kepada-MU karena takut neraka-MU
Bentangkan
lebar-lebar pintu neraka itu untukku
Dan
bila aku mengabdi kepada-MU karena menginginkan surga-MU
Tutup
saja pintunya
Tetapi
bila aku mengabdi kepada-MU karena cinta
Maka
bukalah tirai wajah-MU hingga aku dapat memandanginya.
Maka
aku pun hanya mampu menelan ludah membaca syair indahnya. Bayangkan saja, ia ikhlas
terjerembab ke jurang neraka jika cintanya sedikit bercampur dengan ketakutan
neraka. Ia ikhlas hanya menatap pintu surga dari luar jika nafsunya melirik
kenikmatan surga.
Kata-kataku
mungkin tak mampu berkata seperti itu karena kelemahanku. Belum berani bahkan.
Aku juga belum mampu menikmati cinta sebesar itu pada-Nya. Maafkan aku...
karena Cinta-MU masih sering aku madu dengan hal kedua bahkan hal-hal
berikutnya. Aku mencintai-MU dengan beberapa alasan cinta, sudut pandang yang
belum dapat aku spesifikkan seperti alasan ‘dua cinta’ miliknya berikut:
أحبكَ
حُبّينِ حبَ الهوى و حُبًا
لأنكَ أهلٌ لذاك
فأمّا
الذي هو حب الهوى فشغلي بذكرك
عمن سواك
وأمّا
الذي أنت اهل له فكشفك لى
الحجب حتى أراك
فلا
الحمد في ذا ولا ذاك لي ولكن لك
الحمد في ذا وذاك
Aku
mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta
karena hasrat diriku kepada-MU
Dan
cinta karena hanya Engkau yang memilikinya
Dengan
cinta hasrat, aku selalu sibuk menyebut nama-MU
Dengan
cinta karena Diri-MU saja
Dan
tidak yang lainnya
Karena
aku berharap Engkau singkapkan tirai Wajah-MU
Biar
aku bisa menatap-MU seluruh
Tak
ada puja-puji bagi yang ini atau yang itu
Seluruh
puja-puji untuk-MU saja.
Cintanya
terlalu dalam. Cintanya sudah terlalu dalam merasuk jiwa raganya. Cintanya sukses
mengantarkan yang dicintai sebagai yang paling pertama, paling segalanya, dan
menganggapnya sebagai Sang Pecinta sejati. Bahagianya hanya karena Sang Pecinta,
rindunya hanya untuk Sang Pecinta, nyawanya, jiwanya dan harapannya adalah
milik Sang Pecinta. Ia tak mampu hidup tanpa Sang Pecinta. Karena hidupnya
hanya untuk Sang Pecinta, Sang Ilahi semata.
يا
سروري و مُنْيَتي و عمادي وأنيسي
وعدتي و مرادي
أنت
روحُ الفؤاد أنت رجائي أنت لي
مؤنس وشوقك زادي
أنت
لولاك ياحياتي وأنسي ما تشتّت
في فسيح البلاد
كم
بدت منّة وكم لك عندي من عطاء
ونعمة وأيادي
حبك
الآن بغيتي ونعيمي وجلاء
لعين قلبي الصادي
ليس
لي عنك ما حييت براح أنت منى
ممكن في السواد
ان
تكن راضيا عليّ فانّي يا منى
القلب قد بدا إسعادي
Duhai
kegembiraanku duhai rinduku
Duhai
tambatan hatiku
Duhai
manisku
Duhai
nyawaku, duhai dambaanku
Engkau
ruh jiwaku
Engkaulah
harapanku
Engkaulah
manisku
Rasa
rinduku kepada-MU adalah nafasku
Duhai
Engkau, andai aku tanpa-MU
Duhai
hidupku, duhai manisku
Aku
tak kan menyusuri jalan terbentang di negeri-negeri
Betapa
banyak anugerah, kenikmatan dan pertolongan-MU
Tapi
kini cinta-MU lah dambaanku, keindahanku
Dalam
pandangan mata-MU adalah dahagaku
Tanpa-MU
hidupku tak bergairah
Bila
Engkau rela, duhai dambaan jiwaku
Maka
itu adalah kebahagiaanku
*(Syair-syairnya dikutip dari Buku Memilih
Jomblo, karya: KH. Husein Muhammad)
Krapyak, 2 September 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar