Tanganku menari berdansa bersama relung hati
Pikiranku tersenyum membiaskan simpul nurani
Maaf, hanya lewat ukiran-ukiran tulisan ini ku resapi
Karena lidahku pun kelu tak mampu ku kuasai
Ku kirim secarik hadiah ini untukmu yang kucintai
Ku tulis larik puisi ini untukmu yang menyayangi
Sayang... mungkin panggilan itu pun belum mewakili
Sayang... itu yang kini sedikit bisa ku panggilkan untukmu
Sayang... karena aku telah menyayangimu karena Sang Maha
Penyayang
Sayang... karenaNya aku diajarkan menyayangi
Sayang...
Sayang... Sebulan telah terpatri dalam sejarah takdir
kehidupan
Sebulan, empat minggu, 31 hari, dan ribuan jam telah ada
Aku ungkapkan berbagai rasa bercampur dalam nyata
Bumbu cinta berhias sayang tergenggam dalam dada
Dzikir-dzikir asma cintaNya merasuk dalam nafas
Menopang pondasi ketawakalan dan kesabaran
Sayang... aku beruntung telah disandingkan takdir bersamamu
Kau yang diciptakan dengan wajah rupawan dan hati menawan
Kau yang penuh keimanan menggenggam ketawakalan
Kau yang berhias kesopanan bernafas kesabaran
Kau yang mampu melukiskan keromantisan dalam tiap detakan
Kau yang tak pantang harapan berselimut kelembutan
Sayang...
Kau yang mampu meredam kegelisahan saat magma amarahku tak
padam
Kau yang mampu bersabar saat langkahku kencang membara
Kau yang mampu tersenyum saat wajahku kelu penuh lipatan
Kau yang mampu memeluk lembut tatapanku yang tajam
Kau yang mau ikhlas atas jiwaku tiap celaan
Sayang... aku bukanlah orang penuh keromantisan,
Yang selalu mengucurkan jernih-jernih cinta
Aku bukanlah orang penuh kelembutan,
Yang selalu tersenyum anggun dalam tatapan
Aku bukanlah seorang wanita penuh keanggunan,
Selayaknya para wanita cantik di luar sana
Sayang... inilah aku adanya
Aku hanyalah seorang wanita yang benar-benar biasa tanpa
apa-apa
Aku hanyalah seorang istri yang sedang melangkah berusaha
Menjadi orang yang pantas kau cintai dan kau sayangi...
Aku hanyalah seorang istri yang ingin selalu ada untukmu
Di sisimu menggenggam erat tanganmu
Tersenyum simpul mendampingi langkahmu
Berdzikir menengadah dalam singgasana kalbumu
Sayang... aku tasbihkan cintaku untukNya padamu
Di dunia ini hingga alam kekal akhirat kelak
Untukmu, Suamiku...
Yogyakarta,
18 Agustus 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar