Dikisahkan di sebuah desa di penjuru negeri Turki bernama Desa Nurs, terdapat cerita cinta yang amat suci. Cinta sucinya pantas dijadikan panutan bagi para pecinta lainnya. Cinta bukan karena hawa nafsu dan keinginannya. Tapi cinta yang karena kecintaannya padaNya ia dikaruniai cinta suci. Hingga menjadikan dia, cintanya, dan keturunannya menjadi buah-buah teladan penuh penghargaan.
Dia bernama Mirza. Seorang pemuda yang dikaruniai
akhlak mulia, kedisiplinan tinggi, taat pada agama, ramah pada sesama, dan
penyayang makhluk. Seorang pemuda berumur 25 tahun yang pekerjaan utamanya
penggembala. Setiap harinya setelah Sholat Shubuh ia menggiring sapi-sapi
gembalaannya menuju tempat padang gembalaan. Sebelum berangkat ia selalu
memakaikan penutup mulut pada sapi-sapinya. Hal itu dimaksudkan agar
gembalaannya itu di tengah perjalanan tidak memakan rumput yang tidak haknya.
Ia sangat berhati-hati menjaga hewannya dari barang syubhat dan barang haram.
Sepanjang perjalanan hatinya tak pernah lepas
mengucapkan dzikir. Desah nafasnya sudah larut dengan asma-asma suciNya. Tak
kalah dengan para gembalaannya yang tiap jejak langkahnya hanya mengingat
Allah. Meski tak terlihat oleh manusia, itulah sebenarnya hakikat para hewan,
berdikir.
Hingga tak terasa perjalanannya sudah mencapai
waktu dua jam. Ia sampai di padang rumput yang ia tuju. Di sana ia menancapkan
patok pada tali pengikatnya dan melepaskan penutup mulut para sapi agar mereka
bisa makan sesuka hati rumput halal itu. Nah setelah merasa aman, ia kemudian
meninggalkannya untuk melaksanakan sholat dhuha. Setelah sholat dhuha ia masih
larut dalam khusyuk dzikirnya. Tak terasa apapun. Ia hanya merasakan nyaman
dalam jiwanya.
Selepas sholat dan dzikirnya ia pun tertidur di
bawah sebuah pohon nan rindang. Sejuk, nyaman, dengan udara yang masih sangat
asri. Begitu pulas tidurnya. Hingga sekian lama akhirnya ia terbangun. Ia
kemudian menengok gembalaannya, memastikan kalau mereka masih asyik menikmati
padang rumput mereka. Namun begitu terkejutnya ia, saat melihat salah satu
patok tali sapinya lepas. Seekor sapi jantan telah lepas.
Hatinya gelisah. Gelisah karena takut jika sapi tersebut
ternyata telah memakan rumput orang lain. Yang kedua gelisah karena sapi itu
adalah benda berharga bagi keluarganya. Dari sapi itulah ia dan keluarganya
mencari nafkah. Maka ia pun langsung mengitari seluruh penjuru padang rumput.
Kemudian mencarinya ke daerah sekitar padang rumput. Ia juga menanyakan pada
penggembala lain yang lewat. Kalau-kalau mereka melihat sapinya. Tetapi tetap
nihil.
Tak lama kemudian ia menemukan sapinya sedang
asyik memakan rumput di sebuah ladang penduduk. Betapa terkejutnya dia. Ia merasa
sangat bersalah karena sapinya telah kemasukan rumput yang bukan haknya. Ia
lalu menarik sapinya keluar dari ladang tersebut. Ia kemudian menutup mulut
sapinya dan mengikatkan tali di leharnya pada pohon. Ia tinggalkan sapinya
sejenak hendak mencari siapa pemilik ladang tersebut. Dari kejauhan ia melihat
sebuah rumah. Ia berharap pemilik rumah itu adalah juga pemilik ladang
tersebut.
Mirza mengetuk pintu rumah. Beberapa saat keluar
seorang laki-laki agak tua. Mirza lalu menyampaikan maksud kedatangannya.
“Maaf
Pak, saya mau bertanya. Apakah ladang di
ujung sana itu milik Bapak?” Tanya Mirza.
“Iya
Nak… ada apa memangnya?”
“Begini
Pak, saya mohon maaf sekali karena barusan sapi saya telah makan rumput di
ladang Bapak. Kedatangan saya kemari saya ingin minta maaf sekaligus meminta
keikhlasan Bapak atas rumput yang telah sapi saya makan tadi. Kalau tidak,
kasihan keluarga kami jika apa yang dihasilkan dari sapi ini ada barang yang
tidak halal, berarti kami menggunakan sesuatu yang haram.”
“Hemmm…
begitu ya?” laki-laki itu belum menjawab permintaan Mirza. Ia masih asyik
memandangi anak muda di hadapannya. Ada rasa ketertarikan di hatinya.
“Begini
Nak… dimana kamu tinggal?”
“Saya
tinggal di Desa Nurs Pak. Kira-kira dua jam dari sini”.
“Ya…ya…
lalu siapa nama orang tuamu Nak?”
“Pak….
Tolong jangan bawa masalah ini pada orang tua saya. Nanti mereka bisa memarahi
saya. Biarlah ini saya saja yang menyelesaikan. Jika memang Bapak ingin meminta
ganti rugi saya akan penuhi meskipun dengan mencicil Pak..”
“Nak…
aku hanya ingin tahu nama orang tuamu”.
“Baiklah
Pak. Ayah saya bernama Ali ibu saya Aminah. Lalu Pak… apakah Bapak menerima
permintaan maaf saya?”
“Haha…
iya Nak aku memaafkanmu.”
“Lalu
apa Bapak ikhlas dengan rumput di perut sapi saya”.
“Ya
Nak… aku sudah ikhlas”, jawab lelaki itu tersenyum.
“Terima
kasih banyak Pak… terima kasih”, Mirza bersuka cita
Mendapatkan apa yang yang ia cari,
Mirza pun berpamitan karena matahari sudah mulai bergerak ke barat. Ia kembali
menggiring sapinya mengarungi jalan menuju desanya. Perlahan dengan dzikir yang
selalu melekat di hatinya.
Sesampainya di rumah, Mirza mengikat sapinya di
kandang. Membiarkannya beristirahat setelah kenyang mancari makan seharian. Saatnya
Mirza masuk rumah untuk beristirahat pula. Namun betapa terkejutnya dia saat di
rumah melihat seorang tamu sedang bercakap-cakap dengan ayahnya. Tamu tersebut
adalah lelaki pemilik ladang tadi siang. Mirza lalu bersalaman dengannya dan
bersapa dengannya.
“Loh, Bapak kenapa bisa berada di sini? Dan bagaimana
bisa Bapak mengenal ayah saya”, Tanya Mirza penuh tanda tanya.
“Ya Nak… aku karena aku melihat wajahmu. Wajahmu sangat
mirip dengan wajah ayahmu. Dan ayahmu ini adalah sahabat lamaku, yang sudah
sangat lama tak bertemu. Dan dengan lantaranmu aku bisa berjumpa kembali dengan
ayahmu. Aku bahagia karena dia memiliki anak yang sholeh sepertimu.”
Ayah Mirza tersenyum “Mirza, ya ini teman ayah. Namanya
Molla Thahir.”
Mereka pun larut dalam nostalgia masa muda. Melepas
rasa rindu masing-masing.
Suatu ketika saat Mirza sedang menggembalakan
sapi-sapinya seperti biasanya, kedua orang tuanya berkunjung ke kediaman Molla
Thahir sahabatnya. Mereka membalas kunjungan beberapa hari yang lalu. Ketika sedang
asyik berbincang, keluarlah seorang gadis cantik menghidangkan suguhan. Seketika
itu ayah dan ibu Mirza tertarik.
“Molla… kau ternyata punya anak perempuan yang
cantik ya? Apakah putrimu sudah memiliki calon suami?”
“Hehe, namanya Nuriye. Ali… belum pernah ada
laki-laki yang mendekati putriku. Karena tiap ia keluar rumah ia selalu menutup
rapat wajahnya, sehingga tak ada yang tahu kecantikannya.”
“Hemmm…. Hayo ada apa kau menanyakan hal itu?”
goda Molla Thahir.
“Bagaimana pendidikannya selama ini Molla?”
“Dari kecil kami mengajarinya sendiri. Kami mendidik
ilmu-ilmu alqur’an dan hadits padanya. Hingga sampai saat ini dia selalu
berusaha menjaga wudlunya tiap saat.” Jelas Molla Thahir.
“Masya Allah, gadis yang sholehah.” Puji Ali.
Ali kemudian melirik istrinya sambil tersenyum.
“Molla bagaimana kalau kita jodohkan putra putri kita
berdua?”
“Hebat kau Ali, aku pun berfikiran sama denganmu. Aku
setuju saja. Namun Nuriye tidak memiliki keahlian apa-apa. Dia hanya gadis desa
biasa yang kesehariannya hanya membantu ayah ibunya di ladang.”
“Tak apa Molla. Mirza pun demikian. Dia juga anak
desa biasa yang pekerjaannya hanya penggembala sapi.”
Mereka kemudian bersepakat untuk menikahkan kedua
putra-putri mereka. Mirza pemuda sholeh yang berumur 25 tahun dinikahkan dengan
Nuriye gadis yang sholehah. Kedua muda mudi itu pun setuju. Mereka percaya pada
pilihan kedua orang tuanya. Mereka juga tak ingin menolak keinginan orang
tuanya. Karena itulah cara mereka berbakti pada orang yang paling berjasa dalam
hidupnya.
Pernikahan pun dilaksanakan tak lama setelah
kesepakatan itu berlangsung. Dan kelak dari pernikahan keduanya mereka
dikaruniai anak-anak yang sholeh. Anak yang ahli ilmu, taat, dan membanggakan
bagi orang tuanya. Nama Mirza sendiri di kemudian hari banyak dikenal dengan
sebutan Sufi Mirza, karena sifat wira’i dan kesholehannya, yang tak tentu saja
semua itu tak lepas dari dukungan dari istrinya, Nuriye. [] Um-R
*Kisah terinspirasi dari Novel “Api Tauhid” karya Habiburrahman
El Shirazy
(Yogyakarta,
28 Februari 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar