28 Feb 2017

Sapiku Penarik Jodohku


Dikisahkan di sebuah desa di penjuru negeri Turki bernama Desa Nurs, terdapat cerita cinta yang amat suci. Cinta sucinya pantas dijadikan panutan bagi para pecinta lainnya. Cinta bukan karena hawa nafsu dan keinginannya. Tapi cinta yang karena kecintaannya padaNya ia dikaruniai cinta suci. Hingga menjadikan dia, cintanya, dan keturunannya menjadi buah-buah teladan penuh penghargaan.
Dia bernama Mirza. Seorang pemuda yang dikaruniai akhlak mulia, kedisiplinan tinggi, taat pada agama, ramah pada sesama, dan penyayang makhluk. Seorang pemuda berumur 25 tahun yang pekerjaan utamanya penggembala. Setiap harinya setelah Sholat Shubuh ia menggiring sapi-sapi gembalaannya menuju tempat padang gembalaan. Sebelum berangkat ia selalu memakaikan penutup mulut pada sapi-sapinya. Hal itu dimaksudkan agar gembalaannya itu di tengah perjalanan tidak memakan rumput yang tidak haknya. Ia sangat berhati-hati menjaga hewannya dari barang syubhat dan barang haram.
Sepanjang perjalanan hatinya tak pernah lepas mengucapkan dzikir. Desah nafasnya sudah larut dengan asma-asma suciNya. Tak kalah dengan para gembalaannya yang tiap jejak langkahnya hanya mengingat Allah. Meski tak terlihat oleh manusia, itulah sebenarnya hakikat para hewan, berdikir.
Hingga tak terasa perjalanannya sudah mencapai waktu dua jam. Ia sampai di padang rumput yang ia tuju. Di sana ia menancapkan patok pada tali pengikatnya dan melepaskan penutup mulut para sapi agar mereka bisa makan sesuka hati rumput halal itu. Nah setelah merasa aman, ia kemudian meninggalkannya untuk melaksanakan sholat dhuha. Setelah sholat dhuha ia masih larut dalam khusyuk dzikirnya. Tak terasa apapun. Ia hanya merasakan nyaman dalam jiwanya.
Selepas sholat dan dzikirnya ia pun tertidur di bawah sebuah pohon nan rindang. Sejuk, nyaman, dengan udara yang masih sangat asri. Begitu pulas tidurnya. Hingga sekian lama akhirnya ia terbangun. Ia kemudian menengok gembalaannya, memastikan kalau mereka masih asyik menikmati padang rumput mereka. Namun begitu terkejutnya ia, saat melihat salah satu patok tali sapinya lepas. Seekor sapi jantan telah lepas. 
Hatinya gelisah. Gelisah karena takut jika sapi tersebut ternyata telah memakan rumput orang lain. Yang kedua gelisah karena sapi itu adalah benda berharga bagi keluarganya. Dari sapi itulah ia dan keluarganya mencari nafkah. Maka ia pun langsung mengitari seluruh penjuru padang rumput. Kemudian mencarinya ke daerah sekitar padang rumput. Ia juga menanyakan pada penggembala lain yang lewat. Kalau-kalau mereka melihat sapinya. Tetapi tetap nihil.
Tak lama kemudian ia menemukan sapinya sedang asyik memakan rumput di sebuah ladang penduduk. Betapa terkejutnya dia. Ia merasa sangat bersalah karena sapinya telah kemasukan rumput yang bukan haknya. Ia lalu menarik sapinya keluar dari ladang tersebut. Ia kemudian menutup mulut sapinya dan mengikatkan tali di leharnya pada pohon. Ia tinggalkan sapinya sejenak hendak mencari siapa pemilik ladang tersebut. Dari kejauhan ia melihat sebuah rumah. Ia berharap pemilik rumah itu adalah juga pemilik ladang tersebut.
Mirza mengetuk pintu rumah. Beberapa saat keluar seorang laki-laki agak tua. Mirza lalu menyampaikan maksud kedatangannya.
“Maaf  Pak, saya mau bertanya. Apakah ladang di ujung sana itu milik Bapak?” Tanya Mirza.
“Iya Nak… ada apa memangnya?”
“Begini Pak, saya mohon maaf sekali karena barusan sapi saya telah makan rumput di ladang Bapak. Kedatangan saya kemari saya ingin minta maaf sekaligus meminta keikhlasan Bapak atas rumput yang telah sapi saya makan tadi. Kalau tidak, kasihan keluarga kami jika apa yang dihasilkan dari sapi ini ada barang yang tidak halal, berarti kami menggunakan sesuatu yang haram.”
“Hemmm… begitu ya?” laki-laki itu belum menjawab permintaan Mirza. Ia masih asyik memandangi anak muda di hadapannya. Ada rasa ketertarikan di hatinya.
“Begini Nak… dimana kamu tinggal?”
“Saya tinggal di Desa Nurs Pak. Kira-kira dua jam dari sini”.
“Ya…ya… lalu siapa nama orang tuamu Nak?”
“Pak…. Tolong jangan bawa masalah ini pada orang tua saya. Nanti mereka bisa memarahi saya. Biarlah ini saya saja yang menyelesaikan. Jika memang Bapak ingin meminta ganti rugi saya akan penuhi meskipun dengan mencicil Pak..”
“Nak… aku hanya ingin tahu nama orang tuamu”.
“Baiklah Pak. Ayah saya bernama Ali ibu saya Aminah. Lalu Pak… apakah Bapak menerima permintaan maaf saya?”
“Haha… iya Nak aku memaafkanmu.”
“Lalu apa Bapak ikhlas dengan rumput di perut sapi saya”.
“Ya Nak… aku sudah ikhlas”, jawab lelaki itu tersenyum.
“Terima kasih banyak Pak… terima kasih”, Mirza bersuka cita
          Mendapatkan apa yang yang ia cari, Mirza pun berpamitan karena matahari sudah mulai bergerak ke barat. Ia kembali menggiring sapinya mengarungi jalan menuju desanya. Perlahan dengan dzikir yang selalu melekat di hatinya.
Sesampainya di rumah, Mirza mengikat sapinya di kandang. Membiarkannya beristirahat setelah kenyang mancari makan seharian. Saatnya Mirza masuk rumah untuk beristirahat pula. Namun betapa terkejutnya dia saat di rumah melihat seorang tamu sedang bercakap-cakap dengan ayahnya. Tamu tersebut adalah lelaki pemilik ladang tadi siang. Mirza lalu bersalaman dengannya dan bersapa dengannya.
“Loh, Bapak kenapa bisa berada di sini? Dan bagaimana bisa Bapak mengenal ayah saya”, Tanya Mirza penuh tanda tanya.
“Ya Nak… aku karena aku melihat wajahmu. Wajahmu sangat mirip dengan wajah ayahmu. Dan ayahmu ini adalah sahabat lamaku, yang sudah sangat lama tak bertemu. Dan dengan lantaranmu aku bisa berjumpa kembali dengan ayahmu. Aku bahagia karena dia memiliki anak yang sholeh sepertimu.”
Ayah Mirza tersenyum “Mirza, ya ini teman ayah. Namanya Molla Thahir.”
Mereka pun larut dalam nostalgia masa muda. Melepas rasa rindu masing-masing.
Suatu ketika saat Mirza sedang menggembalakan sapi-sapinya seperti biasanya, kedua orang tuanya berkunjung ke kediaman Molla Thahir sahabatnya. Mereka membalas kunjungan beberapa hari yang lalu. Ketika sedang asyik berbincang, keluarlah seorang gadis cantik menghidangkan suguhan. Seketika itu ayah dan ibu Mirza tertarik.
“Molla… kau ternyata punya anak perempuan yang cantik ya? Apakah putrimu sudah memiliki calon suami?”
“Hehe, namanya Nuriye. Ali… belum pernah ada laki-laki yang mendekati putriku. Karena tiap ia keluar rumah ia selalu menutup rapat wajahnya, sehingga tak ada yang tahu kecantikannya.”
“Hemmm…. Hayo ada apa kau menanyakan hal itu?” goda Molla Thahir.
“Bagaimana pendidikannya selama ini Molla?”
“Dari kecil kami mengajarinya sendiri. Kami mendidik ilmu-ilmu alqur’an dan hadits padanya. Hingga sampai saat ini dia selalu berusaha menjaga wudlunya tiap saat.” Jelas Molla Thahir.
“Masya Allah, gadis yang sholehah.” Puji Ali.
Ali kemudian melirik istrinya sambil tersenyum.
“Molla bagaimana kalau kita jodohkan putra putri kita berdua?”
“Hebat kau Ali, aku pun berfikiran sama denganmu. Aku setuju saja. Namun Nuriye tidak memiliki keahlian apa-apa. Dia hanya gadis desa biasa yang kesehariannya hanya membantu ayah ibunya di ladang.”
“Tak apa Molla. Mirza pun demikian. Dia juga anak desa biasa yang pekerjaannya hanya penggembala sapi.”
Mereka kemudian bersepakat untuk menikahkan kedua putra-putri mereka. Mirza pemuda sholeh yang berumur 25 tahun dinikahkan dengan Nuriye gadis yang sholehah. Kedua muda mudi itu pun setuju. Mereka percaya pada pilihan kedua orang tuanya. Mereka juga tak ingin menolak keinginan orang tuanya. Karena itulah cara mereka berbakti pada orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
Pernikahan pun dilaksanakan tak lama setelah kesepakatan itu berlangsung. Dan kelak dari pernikahan keduanya mereka dikaruniai anak-anak yang sholeh. Anak yang ahli ilmu, taat, dan membanggakan bagi orang tuanya. Nama Mirza sendiri di kemudian hari banyak dikenal dengan sebutan Sufi Mirza, karena sifat wira’i dan kesholehannya, yang tak tentu saja semua itu tak lepas dari dukungan dari istrinya, Nuriye. [] Um-R
*Kisah terinspirasi dari Novel “Api Tauhid” karya Habiburrahman El Shirazy
(Yogyakarta, 28 Februari 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar