Tulisan ini aku buat sebagai salah satu caraku
untuk mencurahkan rasa sayang sekaligus kerinduanku pada almarhumah nenekku
yang baru saja meninggalkanku dan keluarga besarku untuk selama-lamanya. Ya,
nenek. Beliau ibu dari ibuku.
Nenek. Beliau ibu dari ibuku. Ibuku adalah anak
pertama beliau, dan aku adalah putri pertama ibuku. Yang artinya aku adalah
cucu pertama nenekku. Cucu yang diberi kesempatan pernah melihat nenek lebih
lama dari 8 adikku yang lain. Aku pernah mendengar ungkapan bahwa “Biasanya
cucu itu lebih lengket dengan neneknya”, atau “Biasanya nenek itu lebih sayang
pada cucunya daripada anaknya”. Mungkin ungkapan itu ada benarnya juga. Tapi
kalau ungkapan nenek lebih sayang pada cucu daripada dengan anaknya ini salah menurutku.
Lebih tepatnya karena anak-anaknya sudah mendapatkan kasih sayang ibunya
(nenek) dari kecil sampai dewasa, jadi sudah saatnya anak itu mandiri. Kemudian
saatnya nenek mencurahkan kasih sayangnya pada cucunya yang belum dewasa.
Begitu.
Seperti halnya nenekku. Beliau seorang nenek yang
telah hidup menjanda semenjak 18 tahun lalu, setelah ditinggal kakek meninggal
dunia. Sebagai seorang janda, rasa kesepian tak ubahnya seorang teman sejati
yang selalu menyelimutinya tiap waktu. Beliau lalu melampiaskan dan berusaha
menghilangkan rasa sepi itu dengan rajin berkunjung pada anak-anaknya dan pada
cucu-cucunya. Seperti kulihat selama bertahun-tahun, saat nenek di rumah tiap
hari tak terhitung berapa kali nenek wira-wiri ke rumahku dari rumahnya yang
ada di barat rumahku. Tak terhitung berapa kali beliau selalu
memanggil-manggilku dan adik-adikku juga orang tuaku saat masih berjalan santai
di belakang rumah. Tak terhitung entah dengan membawa barang apa, minta bantuan
apa, atau sekedar lewat saja.
Beliau nenek yang baik dan sangat sayang pada
cucu-cucunya. Lihat saja, saat beliau punya makanan apapun, beliau selalu
berusaha memberikannya pada kami. Meskipun hanya sedikit. Misalnya ada pisang,
ketela, krupuk, dan apapun. Intinya ada jajan apa saja di rumah beliau, beliau
selalu ingat cucunya. Atau saat beliau minta bantuan cucu-cucunya dipijitin,
menata kamarnya, merebus air, saat selesai beliau selalu memberikan kami jajan.
Aku tahu itu adalah tanda terima kasihnya. Atau juga saat kami mengirimkan
sedikit makanan untuk nenek, nenek pun selalu juga memberikan makanan balik.
Ibaratnya, aku mengirimkan makanan sepiring, aku akan pulang dengan membawa
jajan sepiring lagi.
Aku dan adik-adikku yang kebanyakan dari kami
menuntut ilmu merantau mondok ke kota lain, selalu bersalaman dengan beliau
saat mau berangkat atau saat pulang dari belajar. Nah saat berangkat itu nenek
selalu berusaha memberikan uang saku pada kami plus memberikan seplastik jajan
untuk dibawa ke pondok. Meskipun terkadang sedang tidak punya uang. Kulihat,
ada rasa puas dan kebahagiaan saat beliau memberikan itu pada kami.
Lalu, saat aku masuk kuliah di UGM Yogyakarta,
beliau orang yang paling semangat bilang akan ikut mengantarkanku ke
Yogyakarta. Begitu pun saat aku diwisuda, beliau jauh-jauh hari sudah
mendaftarkan diri untuk ikut hadir memberikan selamat dan berfoto bersama.
Lihat saja beliau bahkan dengan semangat minta foto berdua saja denganku yang
masih memakai toga kelulusan. Foto itu sudah kuberikan pada beliau, dan
langsung dipajang di kamar beliau. Kulihat senyum lebar menghiasi wajahnya.
Kemudian saat aku akan menikah. Beliau dengan
wajah sangat bahagia menyambut kedatangan calon suami dan keluarganya saat
berkunjung ke rumahku. Semua melihat wajah ceria dari nenek. Bahkan
berkali-kali beliau bertanya bagaimana bisa aku berkenalan dengan calon suamiku
di Jogja itu. Beberapa waktu kemudian saat aku menikah, beliau selalu ambil
andil ikut mengurusi proses pernikahanku dan ikut menyambut para tamu.
Begitupun saat berfoto. Beliau minta foto bersamaku yang sedang memakai baju
pernikahan. Lalu ku berikan cetakan foto itu pada beliau. Dan layaknya orang
yang berbahagia, beliau lalu memajang foto itu di kamarnya.
Kisah berlanjut beberapa bulan kemudian, ada kabar
kalau aku dinyatakan positif hamil. Kabar itu sudah tersebar di seluruh
keluarga besar. Dan orang yang terlihat paling bahagia adalah nenek. “Aku mau
punya cicit”, kata beliau. “Piye buyute kabare?”, tanya beliau saat aku sedang
mudik ke rumah orang tuaku. Betapa bahagianya beliau. Nenek sangat menantikan
kelahiran cicitnya.
Namun di balik semua perhatian dan kasih sayang
nenek pada cucunya, sebenarnya beliau sedang diuji dengan penyakit yang berat.
Berbagai penyakit singgah di tubuh beliau. Berawal dari penyakit diabetes
mellitus yang kemudian menjalar ke penyakit-penyakit yang lain, seperti: mata,
punggung, lambung, hingga jantung. Selama bertahun-tahun nenek juga bersahabat
erat dengan sakit-sakit itu. Suntikan-suntikan insulin tiap hari beliau
tusukkan 4 kali dalam sehari. Obat-obatan begitu memenuhi porsi minumannya tiap
saat, pantangan demi pantangan menghalangi menu makannya. Pengobatan demi
pengobatan menjadi penjelajahan hidupnya dan operasi demi operasi menentukan
fase-fase hidupnya.
Ujian kesabaran selalu diperuntukkan untuknya.
Kami yakin betapa sakit yang dideritanya tak ringan. Hanya doa yang selalu kami
panjatkan untuknya untuk kesabaran, kesembuhan, dan panjang umurnya.
Mei 2017 menjadi peristiwa penting bagiku dan bagi
nenek. Aku telah berada di rumah orang tuaku selama sebulan, menanti kelahiran
putra dalam kandunganku. Nyatanya kelahiranku mundur hampir dua minggu dari
perkiraan kelahiran. Dan selama penantian kelahiran itu, nenek telah
bolak-balik ke Semarang untuk pengobatan di rumah sakit. Dalam hati mendalam
sebenarnya nenek ingin segera pulang, karena ingin menanti kelahiran cicitnya.
“Saya ingin cepet pulang Dok… saya mau punya cicit, cicit pertama”. Begitu ucap
beliau dengan wajah sangat sumringah pada dokter. Hingga beliau pulang lagi,
ternyata cicitnya belum juga lahir.
Beberapa hari kemudian dengan diantar dua orang
santri nenek datang ke rumahku. Beliau menjengukku di rumah, sambil
melihat-lihat rumah. Saat itu wajah beliau terlihat cerah, cantik, &
sumringah. Nenek pun berpesan, “Nek lahiran ora usah wedi, Mbahe wae nglahirno
ping limo” (Kalau kamu melahirkan nggak usah takut, Mbahe saja dulu melahirkan
lima kali). Esok harinya saat aku olah raga jalan pagi, nenek memanggilku dari
halaman rumahnya. “Cu… mau kemana? Kok sampai sana?”. “Mau jalan-jalan Nek…” jawabku.
“Oh ya wis”, jawab beliau sambil tersenyum. Kemudian beliau balik badan sambil
olah raga ringan dan jalan-jalan di halaman rumahnya. Dan kenapa tak seperti
biasanya saat beliau memanggil seperti itu rasanya aku ingin melihat wajah
beliau lagi. Tapi sayang beliau sudah berjalan pergi menuju rumahnya.
Hari berikutnya siang hari sebelum nenek berangkat
ke Semarang, beliau menyuruh seorang santri untuk mengirimkan jantung pisang ke
ibuku. “Nduk, berikan jantung pisang ini pada anakku Rus”. Jantung pisang itu
kecil dan sudah agak kisut. Seperti berasal dari pisang yang tidak lagi segar.
Aku sekeluarga pun bertanya-tanya kenapa juga nenek memberikan hanya jantung
pisang yang bentuknya seperti itu. Dan hanya jantung pisang, tidak dengan benda
lain. Tapi kata ayah dan ibu, “Nek orang tua memberikan benda-benda itu mesti
ada maksudnya”. “La memang maksudnya apa Buk?”, tanyaku. “Ya tak tahu, besok
juga tahu sendiri”.
Beberapa hari kemudian, hari Minggu malam aku
melahirkan seorang anak laki-laki melalui operasi cesar di RS Rembang. Sebelum dan
sesudah melahirkan, suamiku sempat menelpon nenek untuk mengabarkan cucu dan
cicitnya. Adikku juga sempat mengirimkan foto keponakannya pada nenek di
Semarang. Mendapat kiriman foto itu, nenek tak henti-hentinya memandang foto
kiriman itu. Selang 3 hari, Bulek mengabarkan kalau nenek harus menjalani
operasi pemasangan ring di jantung, karena dada nenek sesak. Kamis saat sahur
jam 3 pagi Bulek kembali mengabarkan kalau nenek ngedrop dan sekarang dirawat
di ruang ICU. Dengan suara yang sedih, beliau meminta agar ibukku dan yang
lainnya segera datang ke Semarang.
Maka setelah sholat subuh, berangkatlah rombongan
ke Semarang untuk menjenguk keadaan nenek kecuali aku. Karena keadaanku yang
masih lemah dan puteraku yang baru berusia 4 hari. Maka aku jaga rumah bersama
ayah dan budeku. Satu jam kemudian, pak lek berlarian dari rumahnya disertai
telpon ayah yang berdering, yang ternyata Bulek yang menelepon. “Pak De…. Mbah
kapundut”, begitu kata pak lek secara langsung dan bulek di telepon. Kami yang
di rumah kaget bukan main. Innalillahi wa
inna ilaihi rojiun.
Entah apa yang terlintas di pikiranku. Yang jelas
ada rasa tidak percaya dalam hati. “Mungkin yang dikatakan Pak Lek bisa dicabut
lagi”, seperti itu pikirku. Tapi apapun perasaan dan pikiranku, rasa ikhlas
harus digenggam erat dalam hati. Itu juga yang pelan-pelan harus disediakan
para anggota keluarga lainnya.
Dan dengan adanya kabar duka ini maka seketika
rumah nenek mendadak ramai. Ramai disiapkan untuk menyambut kedatangan jenazah
nenek. Ramai dengan para penta’ziah, ramai dengan bacaan tahlil dan tadarus
al-qur`an hingga nanti menjelang dhuhur, perkiraan jenazah tiba. Dan benar
saja, saat mobil ambulan yang memuat jenazah nenek datang dan lewat depan
rumahku tanpa ada aba-aba aku yang sedang istirahat seketika terbangun. Begitu
juga dengan si cicit, langsung saja dia menangis kencang seperti halnya
tangisan anak yang kaget. Maklum saja anak bayi yang baru berusia 4 hari dan
masih murni bisa merasakan hal-hal ghaib di sekitarnya. Dia seperti menyadari
dan merasakan lewatnya nenek dan makhluk ghaib yang melewatinya.
Sekarang aku paham bahwa Beliau memberikan pesan
kematiannya lewat jantung pisang, yang melambangkan beliau meninggal karena
sakit jantung. Begitulah kisah dari nenek. Nenek yang sangat menyayangi
cucu-cucunya. Nenek yang sangat bahagia dengan kehadiran cicit pertamanya,
namun belum sempat melihat cicit kesayangannya. Takdir Allah yang membuat
seperti itu. Saat Allah memberikan anggota baru dalam keluarga ini, Allah lalu
mengambil anggota keluarga yang paling sepuh. Atau bisa juga dibalik. Saat
Allah mengambil nenek, Allah memberikan ganti cicit di keluarga ini. Begitulah
takdir Allah untuk ‘Nenek, Cucu, & Cicitnya’. Allahummaghfirlaha warhamha wa’fu’anha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar