15 Sep 2016

ke-Konco-an Walisongo

Walisongo. Perkumpulan 9 wali di tanah Jawa. Namanya begitu tenar dan harum semerbak di seluruh penjuru tanah Indonesia. Mereka lah yang telah berjasa besar menyebarkan Islam di tanah Jawa bahkan Indonesia. Mereka lah yang menancapkan tradisi Islam lewat jiwa nasionalisme budaya Jawa. Betapa hebatnya mereka. Masyhur akan kemanfaatannya. 
Lalu, ikut memfoto-copy nama-nama beserta jumlah beliau-beliau, aku bersama para sahabat di tanah Krapyak ikut menyematkan nama itu dalam nama keluarga persahabatan kami, “Walisongo”. Harapan kami pula dapat memfoto-copy dan mengamalkan sikap-sikap mereka beserta cara dakwah mereka, dimana pun dan kapan pun. Maka ini lah kami, Walisongo dengan berbagai ciri khas kami.
Walisongo
 9 orang anggota, berasal dari trio GP (Leli, Alma, Nida), trio macan (Umroh, Zida, Ci’Neng), dan trio boy (Syamsul, Izzat, Zaky). Sebenarnya awalnya tak sengaja sama sekali grup ini terbentuk, benar-benar hanya kebetulan semata. Tak sengaja dalam organisasi dan beberapa moment perjuangan, kami ada di dalamnya. Berjuang bersama, sering berjumpa, dekat dalam pertemanan, dan merasa cocok satu sama lain. Sederhana saja seperti itu. 

Karena kedekatan itu kemudian kami membuat sebuah moment untuk berlibur, saling bersilaturahim ke rumah semua anggota Walisongo dan juga ziaroh para wali, sebagai aplikasi contoh-contoh sikap para Walisongo yang sebenarnya. Bertepatan pada 2-4 September 2016 pada hari Jum’at-Minggu rencana dilaksanakan. Namun yang disayangkan beberapa anggota tak dapat ikut karena kepentingan keluarga yang tak dapat dihindarkan. Yang akhirnya dapat berangkat adalah aku (Umroh), Ci’Neng, Alma, Leli, Nida, Mas Imam (suamiku, bukan anggota Walisongo), dan Rifa’i (teman yang diminta jadi sopir).

Ø   Jepara
Perjalanan kami dimulai di Kota Jepara, kota kelahiran serta tempat tinggal Alma. Anggota Walisongo yang paling penyabar dan puitis. Dia sangat ahli membuat puisi dan kata-kata indah. Seperti halnya tulisan di desain kaos kami itu, adalah hasil buah pikir Alma. Top memang. Yang tak kalah top, dialah penanggung jawab utama sekaligus ketua panitia acara perjalanan ini. 4 jempol untuk Alma.
Foto bersama di depan Benteng Portugis
Nah langkah awal kita diawali menginap di sebuah vila di kawasan Wisata Benteng Portugis, Jepara. Malam ketika lelah perjalanan menyeruak tubuh kami sirna seketika menerima sambutan hangat dari keluarga Alma, dipadu dengan keelokan pemandangan di pantai Benteng Portugis ini. Benteng Portugis sendiri merupakan salah satu monument bersejarah pada masa penjajahan Belanda. Salah satu bukti kuat adanya perjuangan nasionalisme pengusiran penjajah antara Mataram dan Portugis. Mau tahu sejarah lengkapnya? Silahkan baca buku bersejarah ya.hehe
Gerbang masuk Benteng Portugis
Pelataran pantai Benteng Portugis
 Lanjut pagi hari ketika matahari telah menampakkan seluruh wajahnya, kami pun berdandan rapi, kemudian menikmati pemandangan pantai. Tak lupa kami sempatkan berziaroh di makam salah satu wali, Mbah Leseh namanya yang berada di hadapan pantai. Tak lupa pula dan yang paling utama, kami jebrat-jebret menghabiskan beberapa giga untuk berfoto ria. *Maklum anak muda.hehe


Perjalanan berlanjut dengan menaiki perahu menuju pulau Mandalika, Jepara. Pada tahap ini semua sudah disewa dan dirancang Alma beberapa bulan lalu. Kami sendiri ada yang sudah pernah naik perahu dan ada yang belum. Nah begitu kami antri menaiki perahu dengan bantuan tetangga Alma, kami mendengar rintihan seseorang di perahu. Bunyi apakah itu? Ternyata... oh Leli. Dia terlalu bersemangat memanjat perahu, begitu naik perahu ia langsung melompat kegirangan, lupa bagaimana dan betapa gendutnya dia, *eh. Ibu Alma yang melihat tingkah Leli pun terpana, batinnya “Ini bocah semangat amat ya?”. Al-hasil sebuah kayu di tengah perahu patah, kakinya terperosok dan darahnya mengaliri perahu. Beberapa menit kemudian perahu ramai oleh pertolongan pertama pada Si Leli.
Foto ceria setelah aksi tragedi Leli. Lihat balutan di kakinya.
Yang lain menikmati ombak, Si Nida sibuk mabuk laut.
Lanjut, ke perjalanan. Untungnya Leli masih bisa berjalan lancar meski dengan balutan kaos kakiku itu. langkah kami berlanjut mengarungi keindahan Pulau Mandalika. Sebuah pulau kecil di kawasan Pantai Jepara. Salah satu pulau kekayaan Indonesia yang mengandung keeksotisan luar biasa. Indah, sejuk, dan menanjak. Karena kami mesti naik beberapa meter untuk beristirahat dan memetik beberapa plastik buah kweni. 
Pulau Mandalika

Ø   Pati-Rembang
Selepas Ashar perjalan berlanjut ke Pati, yakni ziaroh ke makam Mbah Mutamakin, Kajen, Margoyoso, Pati. Nah mulai dari ini kami para cewek bergotong-royong memapah Si Leli yang baru saja mulai tidak bisa berjalan karena peristiwa cedera perahu. Singkat saja sowannya ke Mbah Mutamakin, dengan tahlil dan doa secukupnya. Nah dari sini juga ada yang berucap “Kok nggak ada truknya tonggoku sing lewat ya?”, ucap Ci’Neng di mobil sambil tengok kanan kiri sembari tangannya sibuk memainkan hp.
La ngopo to Mbak Ci’ golek trukke tonggomu?” sahut yang lain.
Yo ra popo, meh nitip salam wae nggo keluargaku neng omah”.
“Hahaha....” kami serempak.
Cik.. Cik... kowe kok gelisah ngono e, kowe pengen mampir omahmu to? Haha”
“Hehe.. iyo sih”, jawab Ci’Neng.
Piye cah-cah.. mampir neng Rembang ora? Cik Neng gelisah ki loh, kangen omah kok ndadak meh nyegat truk barang.haha
Piye ya? Ayo-ayo rundingan”.
Akhirnya disepakati setelah dari Juwana mampir ke Mojorembun, Kaliori, Rembang, tanah kelahiranku dan Ci’neng. Kenapa Ci’Neng galau? Karena rencananya memang tidak mampir Rembang, sebab kami dan teman-teman Walisongo sudah sering mampir ke Mojorembun. Tapi.. untuk sahabat kami, kami rela merubah rencana. Rencana yang membuat Ci’neng tak lagi gelisah akan nyegat truk.hahaha.
Lalu perjalanan berlanjut ke Langgenharjo, Juwana, Pati, di tanah kelahiran dan rumah orang tua Mas Imam (suami saya). Setengah 7, selepas maghrib kami sampai dan selepas isya’ kami berlanjut ke Rembang.
Rembang berjumpa kembali. Di sinilah kemarin anggota Walisongo hadir dan berkumpul dalam acara pernikahanku, satu setengah bulan lalu. Kini kami berkumpul lagi. Berkumpul dan bersilaturahim di rumahku dan Ci’Neng. Meski singkat namun kami sama-sama bahagia. Orang tua kami tak kalah bahagia menyambut kedatangan anak-anak bersama para sahabatnya. Nah Ci’neng ini anggota Walisongo yang paling jahil, suka menggoda teman-teman yang lain, suka menjodoh-jodohkan temannya, tapi jika dia dijodoh-dijodohkan juga tak mau. Berjuluk Bu DPR, karena bekerja di DPR. Ahli bidang jurnalis dan sastra, kami pun punya kata ciri khas untuknya. “Memeluk, mendekap”, kata-kata yang selalu ada di tulisan Ci’Neng. 

Ø   Kudus
Pukul 21.00 WIB perjalanan berlanjut ke Kudus, kota kelahiran sekaligus tempat tinggal Nida. Anggota Walisongo berkaca mata, yang paling sipit, paling hobi tertawa, dan paling rajin bobok di mobil. Ini anggota yang barusan mendapat gelar sarjana dari UIN Sunan Kalijaga dan dalam hitungan hari bakalan boyong ke tanah kelahirannya meninggalkan Jogja Istimewa.
Begitu sampai di Kudus, pukul 22.30 kami disambut hangat oleh keluarga Nida. Beberapa suguhan tersaji di meja, melambai-lambai untuk dinikmati. Tapi kami hanya memandanginya sambil menikmati rasa kantuk. Sayang sekali, maaf wahai para teh dan jajan di meja, kami hanya butuh kasur. Lalu... setelah dipersilahkan kami pun berlomba memejamkan mata, beristirahat.
Pagi harinya, setelah sarapan dan dandan rada cantik kami lanjut sowan berziaroh ke Sunan Kudus. Dan diajak foto bareng di depan menara oleh Alma. Seumur-umur aku tinggal di Kudus, baru kali ini aku foto di Menara Kudus.

Ø   Semarang
Selepas dari Kudus perjalanan berlanjut ke Semarang, kota kelahiran sekaligus tempat tinggal Leli. Anggota Walisongo yang barusan cedera perahu, paling rame, paling koplak, paling ekspresif kalau foto. Dialah satu-satunya ragil di Walisongo. Si ragil kesayangan Babenya dari 7 bersaudara. Sejenak beristirahat, sambil memandangi para peliharaan Leli di samping rumahnya. Puluhan sapi dan kambing gemuk-gemuk yang siap disediakan bagi para pencari hewan kurban.
Ternyata para hewan itu tak hanya dibiarkan hidup saja, tapi juga sengaja disembelih untuk kami para tamunya. Maka menu makan siang kali ini tengkleng kambing dan daging sapi. “Pantes Leli gendut, la makanannya kayak ginian”, batin kami. Bagi para pecinta kambing makanan langsung disikat habis. Dan ternyata semua pecinta daging kambing, kecuali aku yang tak dapat makan kambing. Alhamdulillah.

Ø   Yogyakarta
Pukul 15.00 kami bertolak dari Semarang menuju Yogyakarta kembali. Perjalanan telah usai, misi terlaksana. Semua bahagia. Semua puas. Silaturahim terjalin erat. Dan semoga akan selalu bermanfaat perjalanan ini dan terutama persahabatan ini.
Kami berharap selanjutnya dapat melakukan perjalanan kembali lengkap dengan anggota Walisongo yang lain.
-      Ada Mbak Zida, pejuang asal Pekalongan, bersuara merdu, anggota Walisongo yang paling Gendut, paling keibuan, paling dermawan yang sedang berjuang untuk skripsinya.
-      Ada Izzat, santri Krapyak asalnya juga Krapyak, Yogyakarta. Si kepala madin, kriting, kalau panjang rambutnya seperti pohon beringin, sok cool, jutek, datar, gengsian tapi sebenarnya seneng curhat dan sayang pada kita semua. Misinya mencari istri yang lebih muda dan galak.
-      Ada Syamsul, penabuh rebana asal Demak. Ahli dalam segala hal tentang rebana, kurus, anak Kodama yang paling supel, koplak, suka maen, dia yang selalu kerja keras membantu temannya.
-      Ada Zaki, ahli sate asal Madura tinggal di Krapyak. Agak pendiam tapi setia kawan. Sekarang sedang sibuk membahagiakan istrinya, menjalin keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. 
Anggota Walisongo yang lain
Inilah jargon kami: “Kuncoro tanpo woro-woro, digdoyo tanpo aji mandraguno, senjoto kalimosodo”. Artinya: “Masyhur tanpa mengumumkan diri (koa-koar), kuat perkasa tanpa jurus dan ajian mandraguna, bersenjata kalimat syahadat”.
Demikian cerita panjangku. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. 

Jejeran-Wonokromo, 5 September 2016

1 komentar:

  1. tentang kalian, tinta ini tak akan mampu membahasakan kata. sungguh sangat cinta....paling ngakak ketika dalam tulisan ini disebut kriting. semoga mimpiku, mimpi kita dipeluk erat tuhan. terimakasih dan sayang kalian

    BalasHapus