Sudah lewat
pukul 10.00 pagi. Aku masih duduk berdampingan dengan ibuku, di ruangan ini. Ruang
tamu milik seorang kyai yang luar biasa. Seorang kyai idolaku. Beliau KH. Ahmad
Mustofa Bisri Rembang. Orang-orang memanggilnya Gus Mus tapi aku lebih suka
menyebut beliau dengan panggilan Mbah Mus, mengingat umurnya tak jauh beda
dengan almarhum kakekku. Di ruangan luas beralas karpet-karpet tebal ini kami
tak sendirian. Ada dua orang laki-laki duduk berseberangan denganku. Jaraknya agak
jauh. Aku tak mengenal mereka dan mereka juga tak mengenalku, karena kami
sama-sama hanyalah tamu di rumah ini. Tuan rumah sendiri, berjarak satu meter
duduk di sebelah kiriku.
Hari itu, Jum’at
di bulan Juli sudah hampir satu jam aku berada di sini, sowan beliau. Beberapa
kalimat telah ku dengar dari beliau, baik ketika berbicara dengan kami maupun
tamu-tamu lain yang telah beberapa saat lalu pulang. Kini masih ada satu
pertanyaan yang ingin aku utarakan pada beliau. Mumpung berada di sini, mumpung
bertemu dengan beliau, dan mumpung-mumpung lainnya.
Belum sempat aku
utarakan pertanyaanku tiba-tiba beliau kembali masuk ke dalam rumah. Ya memang
sebelumnya pun beliau berkali-kali keluar masuk ruang tamu dan ruang belakang. Pasti
lah ada keperluan. Kali ini aku gelisah karena Beliau masuk kembali. Agak lama
menurutku. Aku cemas bila belum dapat mengungkapkan pertanyaanku, karena tak
lama lagi waktu dhuhur tiba.
Tiba-tiba tirai
terbuka, beliau kembali muncul dan menemui kami. Namun aku begitu terkejut
karena ketika aku sedang asyik menunduk beliau menyodorkan dua buah buku
kepadaku. “Iki buku kanggo referensi bacaan. Kumpulan cerpen dan sastra Arab
Mesir”, kata Beliau. Aku pun menerimanya dengan bahagia bercampur heran. Bahagia
karena mendapat hadiah buku dari beliau, heran karena aku belum mengungkapkan
apa-apa tentang maksud hatiku. Seakan-akan beliau bisa membacanya. Seakan-akan
Beliau sudah tahu tema pertanyaan yang akan kuungkapkan.
“Nggeh,
matursuwun Mbah Yai..”
Beberapa saat
suasana hening, aku pun mendapatkan kesempatan menyatakan pertanyaan yang
sedari tadi aku pendam. Aku lalu bertanya bagaimanakah tips menulis dari
beliau, tentang bagaimana cara beliau menjadi seorang penulis produktif dengan
puluhan karya, bagaimana buku-buku beliau dapat menginspirasi banyak orang.
“Menulislah apa saja, bebas
terserah kamu. Tulis saja apa yang ingin Kamu tulis tak usah pakai teori
macem-macem. Tulis saja. Masalah teori atau kritik sastra apapun itu, itu
urusan kritikus sastra. Bukan urusan kita.” Beliau lalu
melanjutkan.
“Ketika Kamu nulis di media,
bayangkan jika Kamu yang menjadi pembacanya. Nah untuk menghasilkan tulisan
itu, Kamu harus memberi waktu khusus berapa jam untuk membaca dan menulis tiap
hari. Wis pokoke membaca-menulis, membaca-menulis, terus. Itu sudah
pasangannya”.
“Jangan lupa kemanapun Kamu pergi
selalu bawa buku dan pulpen. Dulu pas saya sekolah kemana-mana bawa buku sama
pulpen, jadi apapun saya catat. Sampai sekarang catatan saya masih ada. Jadi saya
sekarang masih bisa membaca catatan-catatan itu”.
Begitu
jawaban panjang dari beliau. Kedengarannya sederhana, tapi kalau dipraktekkan
akan sangat bermanfaat. Bisa mengasah kemampuan menulis, dan insya Allah bisa sebagai
cara mewujudkan cita-cita kita semua jadi penulis profesional. Jawaban itu
serasa sejuk ku dengar. Hatiku pun puas. Kini setelah beberapa waktu kemudian
aku berpamitan kepada Beliau, dengan membawa buku dan pesan-pesan Beliau. Aku pulang
ke rumahku yang jaraknya setengah jam dari rumah Beliau. Pulang ke rumahku yang
masih satu kota dengan beliau, yaitu Kota Rembang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar