17 Apr 2016

Menulis Cara Gus Mus

Sudah lewat pukul 10.00 pagi. Aku masih duduk berdampingan dengan ibuku, di ruangan ini. Ruang tamu milik seorang kyai yang luar biasa. Seorang kyai idolaku. Beliau KH. Ahmad Mustofa Bisri Rembang. Orang-orang memanggilnya Gus Mus tapi aku lebih suka menyebut beliau dengan panggilan Mbah Mus, mengingat umurnya tak jauh beda dengan almarhum kakekku. Di ruangan luas beralas karpet-karpet tebal ini kami tak sendirian. Ada dua orang laki-laki duduk berseberangan denganku. Jaraknya agak jauh. Aku tak mengenal mereka dan mereka juga tak mengenalku, karena kami sama-sama hanyalah tamu di rumah ini. Tuan rumah sendiri, berjarak satu meter duduk di sebelah kiriku.
Hari itu, Jum’at di bulan Juli sudah hampir satu jam aku berada di sini, sowan beliau. Beberapa kalimat telah ku dengar dari beliau, baik ketika berbicara dengan kami maupun tamu-tamu lain yang telah beberapa saat lalu pulang. Kini masih ada satu pertanyaan yang ingin aku utarakan pada beliau. Mumpung berada di sini, mumpung bertemu dengan beliau, dan mumpung-mumpung lainnya.
Belum sempat aku utarakan pertanyaanku tiba-tiba beliau kembali masuk ke dalam rumah. Ya memang sebelumnya pun beliau berkali-kali keluar masuk ruang tamu dan ruang belakang. Pasti lah ada keperluan. Kali ini aku gelisah karena Beliau masuk kembali. Agak lama menurutku. Aku cemas bila belum dapat mengungkapkan pertanyaanku, karena tak lama lagi waktu dhuhur tiba.
Tiba-tiba tirai terbuka, beliau kembali muncul dan menemui kami. Namun aku begitu terkejut karena ketika aku sedang asyik menunduk beliau menyodorkan dua buah buku kepadaku. “Iki buku kanggo referensi bacaan. Kumpulan cerpen dan sastra Arab Mesir”, kata Beliau. Aku pun menerimanya dengan bahagia bercampur heran. Bahagia karena mendapat hadiah buku dari beliau, heran karena aku belum mengungkapkan apa-apa tentang maksud hatiku. Seakan-akan beliau bisa membacanya. Seakan-akan Beliau sudah tahu tema pertanyaan yang akan kuungkapkan.
“Nggeh, matursuwun Mbah Yai..”
Beberapa saat suasana hening, aku pun mendapatkan kesempatan menyatakan pertanyaan yang sedari tadi aku pendam. Aku lalu bertanya bagaimanakah tips menulis dari beliau, tentang bagaimana cara beliau menjadi seorang penulis produktif dengan puluhan karya, bagaimana buku-buku beliau dapat menginspirasi banyak orang.
“Menulislah apa saja, bebas terserah kamu. Tulis saja apa yang ingin Kamu tulis tak usah pakai teori macem-macem. Tulis saja. Masalah teori atau kritik sastra apapun itu, itu urusan kritikus sastra. Bukan urusan kita.” Beliau lalu melanjutkan.
“Ketika Kamu nulis di media, bayangkan jika Kamu yang menjadi pembacanya. Nah untuk menghasilkan tulisan itu, Kamu harus memberi waktu khusus berapa jam untuk membaca dan menulis tiap hari. Wis pokoke membaca-menulis, membaca-menulis, terus. Itu sudah pasangannya”.
“Jangan lupa kemanapun Kamu pergi selalu bawa buku dan pulpen. Dulu pas saya sekolah kemana-mana bawa buku sama pulpen, jadi apapun saya catat. Sampai sekarang catatan saya masih ada. Jadi saya sekarang masih bisa membaca catatan-catatan itu”.
            Begitu jawaban panjang dari beliau. Kedengarannya sederhana, tapi kalau dipraktekkan akan sangat bermanfaat. Bisa mengasah kemampuan menulis, dan insya Allah bisa sebagai cara mewujudkan cita-cita kita semua jadi penulis profesional. Jawaban itu serasa sejuk ku dengar. Hatiku pun puas. Kini setelah beberapa waktu kemudian aku berpamitan kepada Beliau, dengan membawa buku dan pesan-pesan Beliau. Aku pulang ke rumahku yang jaraknya setengah jam dari rumah Beliau. Pulang ke rumahku yang masih satu kota dengan beliau, yaitu Kota Rembang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar