Kulihat ia duduk di depanku, bersila sambil menghisap rokok
djarum favoritnya. Beberapa detik kemudian asap mengepul dari dalam mulutnya,
lalu ia ketokkan dua kali abu rokoknya pada sebuah asbak merah di depannya.
“Kula sangking Jepara Pak Yai”, kata seorang pemuda yang
sedang duduk menyamping di depannya bersama seorang lelaki tua di sampingnya.
Pemuda berusia sekitar 23 tahun itu kembali menunduk setelah menjawab
pertanyaan Pak Yai. Dari tampilannya, dapat ditebak ia adalah seorang santri
Pak Yai. Ia kenakan baju koko berwarna putih tulang, dengan peci hitam dan
bawahan sarung bercorak kotak-kotak merah hitam.
“Umm... ” suara itu memanggilku.
Seketika aku pun membuka mataku. Kembali pada alam sadarku,
meninggalkan kisahku yang baru saja duduk di hadapan Pak Yai. Oh... itu hanya
mimpi, namun terasa begitu nyata dalam pikiranku. Begitu dekatnya aku duduk
dengan beliau. Ada rasa bahagia dalam hatiku.
“Hei Umm... cepet bangun! Bentar lagi iqamat subuh loh..” ucap
Tini.
“Hmmm... ya ya,” aku pun bangun meninggalkan posisi tidurku
dan kasur putihku menuju kamar mandi.
Lima menit kemudian terdengar suara iqamat dari Masjid Nurul
Iman, masjid milik pesantrenku. Baru saja aku mengenakan satu potong mukena
bagian atas, sehingga kali ini aku harus mempercepat langkahku. Khawatir jika
aku harus mengalami masbuq dan terpaksa harus berdiri di shaf belakang.
***
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar