Era modern dan sangat modern, tak
seorang pun buta pengertian ‘motor’. Apalagi di perkotaan, Yogyakarta
contohnya.
Sebuah benda dengan beberapa
kemampuannya mampu mengantar beberapa orang menuju tujuan. Sebuah benda pula
yang dianggap penyebab polusi dan beberapa luka, derita lewat peristiwa
kecelakaan. Juga sebuah benda mewah penyebab virus ‘kesombongan’.
Namun sepeda motor tetap menyimpan
dimensi lain dalam jalan hidupnya.
Ia menyimpan teori ‘seimbang, percaya
diri, dan berani’.
Seimbang. Pengendara wajib memelihara
keseimbangan sepeda motornya. Seimbang depan-belakang, seimbang kanan-kiri.
Jika tak seimbang, ia akan jatuh dan hanya akan membahayakan dirinya,
pembonceng, bahkan pengendara lain. Artinya langkah hidupnya tak dapat memberi
kenyamanan bagi dirinya dan orang lain.
Percaya diri. Percaya diri dengan
segala penampilan diri maupun penampilan sepeda motornya. Percaya diri dalam
mengambil tiap jalan dan tikungan yang diambil. Dan percaya diri bahwa dirinya
adalah pengendali sepeda motor. Agar hidup tak terombang-ambing. Mantap dan
bangkit meski suatu saat harus tersesat.
Berani. Tiap sudut tatapan mata
berisi keberanian penuh. Berani mengayunkan kaki dan tangan untuk mengendalikan
kendaraan serta dirinya. Berani mengambil langkah untuk jalan ke depan. Berani
untuk berhenti dan menepi dalam kelemahannya. Berani mendahului dan melewati
segala rintangan di sepanjang jalan. Dan berani berlari dalam berbagai
kemungkinan. Jika tak berani, ia takkan sampai ke tempat tujuan, dan hanya diam
menatap jalan panjangnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar