15 Mar 2018

Cerita Hujan

Kuberitahu Nak…
Hari ini dan beberapa hari ini kau sering perlihatkan sesuatu yang indah
Kau berkomentar meski belum jelas apa kata-katamu itu
Itu Hujan Nak…
Aliran deras air yang jatuh dari langit
Membasahi halaman pekarangan kita, bahkan membanjirinya
Kau memandangnya Nak… penuh suka cita
Sampai lonjakannya mengejutkan tubuhku
Itu hujan Nak…
Itu hujan yang datangnya ditemani hembusan angin dingin
Yang tibanya diliputi suara gemuruh yang aneh
Yang di sekelilingnya diselimuti suara gemetar gemericik
Itu hujan Nak…
Sekarang kau bahagia memandangnya
Karena indah dan dahsyat pemandangannya
Tapi apa kau akan menyukainya kelak Nak
Itu hujan Nak…
Yang akan menjadi penghalang jika manusia ingin keluar rumah
Yang menjadi penyebab benda-benda tak kering
Yang menjadi musuh bagi manfaat sinar mentari
Yang menjadi timbunan banjir di penjuru negeri
Itu hujan Nak….
Begitu kata manusia yang tak pandai bersyukur
Begitu kata orang-orang yang lupa telah meminta hujan
Begitu kata hati yang tertutup nafsu
Nak…. Lihatlah itu Hujan.
Kau tak boleh membenci mesti perih
Kau tak boleh mengutuk hujan dalam dada
Kau tak boleh menyalahkan hujan karena ia hanyalah hujan
Itu Hujan Nak…
Hujan hanyalah makhluk yang datang atas perintahNya
Hujan hanyalah aliran air yang mendinginkan di saat panas memanggang
Hujan hanyalah kucuran rahmat di saat dahaga mendera
Itu Hujan Nak…
Kau tahu Nak, Dia sendiri berkata bahwa hujan adalah makhluknya
Makhluk yang membuka kelapangan atas doa
Makhluk yang membawa kemudahan harapan-harapan makhluk yang berdoa
Maka berdoalah Nak saat hujan tiba
Itu hujan Nak…
Ingatlah cerita ini suatu hari kelak
Bahwa kau akan menyukai hujan seperti kau menyukai langit yang terang
Kau akan bahagia untuk hujan seperti bahagia untuk mentari pagi
Kau akan menyambut hujan dalam nafas doa  
Kau akan tersenyum pada hujan seperti kau tersenyum padaku

Krapyak
Selasa, 28 November 2017

9 Des 2017

Doa Malam


Hening malam mencekam
Tak ada gelak tawa anak manusia
Tak ada bising kendaraan
Tak ada tangan-tangan sibuk bekerja
Tak ada televisi menyanyi
Mengalunkan nada-nada cinta
Sepi.... sepi... semua mati

Irama jangkrik tak bosan mengerik
Memecah sunyi
krik.. krik.... krik...

Detak jam dinding terdengar jelas
Thek...thek...thek...
Seiring detak jantungku
Seiring hembusan nafasku
Mengingatkanku
Tuk selalu berdzikir di setiap waktu


Alunan ayam jago berkokok
kukuruyuuuuuk....
Pertanda dia selalu ronda setiap malam

Adakah hamba Allah yang terjaga dari tidurnya?
Mengagungkan KebesaranNya
Mensucikan AsmaNya


(Sabtu, 6 Maret 2010)
oleh: Ibuku

21 Jul 2017

Kau… Sang Malam itu



Aku sering mendengar cerita tentangmu
Aku sering mendengar keramaian di waktumu
Ya… kau tahu banyak insan mendiskusikanmu
Bahkan mereka ramai berlomba merayu kebaikanmu
Kau tahu kenapa?
Karena kau telah bersahabat dengan kemuliaan
Karena kau selalu berselimut kedamaian
Hingga sang mutiara pun mendaftarkan persahabatan
Membuat iri seisi alam
Hingga para malaikat ikut menyodorkan bintang
Membuat ribuan harapan terpampang
Kau malam itu… malam yang selalu bergelimang keindahan
Kau malam itu… malam yang selalu dijanjikan
Kau malam itu… malam jum’at penuh kemuliaan.

Rembang,
Kamis, 20 Juli 2017

19 Jul 2017

Nenek, Cucu, & Cicitnya

Tulisan ini aku buat sebagai salah satu caraku untuk mencurahkan rasa sayang sekaligus kerinduanku pada almarhumah nenekku yang baru saja meninggalkanku dan keluarga besarku untuk selama-lamanya. Ya, nenek. Beliau ibu dari ibuku.

Nenek. Beliau ibu dari ibuku. Ibuku adalah anak pertama beliau, dan aku adalah putri pertama ibuku. Yang artinya aku adalah cucu pertama nenekku. Cucu yang diberi kesempatan pernah melihat nenek lebih lama dari 8 adikku yang lain. Aku pernah mendengar ungkapan bahwa “Biasanya cucu itu lebih lengket dengan neneknya”, atau “Biasanya nenek itu lebih sayang pada cucunya daripada anaknya”. Mungkin ungkapan itu ada benarnya juga. Tapi kalau ungkapan nenek lebih sayang pada cucu daripada dengan anaknya ini salah menurutku. Lebih tepatnya karena anak-anaknya sudah mendapatkan kasih sayang ibunya (nenek) dari kecil sampai dewasa, jadi sudah saatnya anak itu mandiri. Kemudian saatnya nenek mencurahkan kasih sayangnya pada cucunya yang belum dewasa. Begitu.
Seperti halnya nenekku. Beliau seorang nenek yang telah hidup menjanda semenjak 18 tahun lalu, setelah ditinggal kakek meninggal dunia. Sebagai seorang janda, rasa kesepian tak ubahnya seorang teman sejati yang selalu menyelimutinya tiap waktu. Beliau lalu melampiaskan dan berusaha menghilangkan rasa sepi itu dengan rajin berkunjung pada anak-anaknya dan pada cucu-cucunya. Seperti kulihat selama bertahun-tahun, saat nenek di rumah tiap hari tak terhitung berapa kali nenek wira-wiri ke rumahku dari rumahnya yang ada di barat rumahku. Tak terhitung berapa kali beliau selalu memanggil-manggilku dan adik-adikku juga orang tuaku saat masih berjalan santai di belakang rumah. Tak terhitung entah dengan membawa barang apa, minta bantuan apa, atau sekedar lewat saja.
Beliau nenek yang baik dan sangat sayang pada cucu-cucunya. Lihat saja, saat beliau punya makanan apapun, beliau selalu berusaha memberikannya pada kami. Meskipun hanya sedikit. Misalnya ada pisang, ketela, krupuk, dan apapun. Intinya ada jajan apa saja di rumah beliau, beliau selalu ingat cucunya. Atau saat beliau minta bantuan cucu-cucunya dipijitin, menata kamarnya, merebus air, saat selesai beliau selalu memberikan kami jajan. Aku tahu itu adalah tanda terima kasihnya. Atau juga saat kami mengirimkan sedikit makanan untuk nenek, nenek pun selalu juga memberikan makanan balik. Ibaratnya, aku mengirimkan makanan sepiring, aku akan pulang dengan membawa jajan sepiring lagi.
Aku dan adik-adikku yang kebanyakan dari kami menuntut ilmu merantau mondok ke kota lain, selalu bersalaman dengan beliau saat mau berangkat atau saat pulang dari belajar. Nah saat berangkat itu nenek selalu berusaha memberikan uang saku pada kami plus memberikan seplastik jajan untuk dibawa ke pondok. Meskipun terkadang sedang tidak punya uang. Kulihat, ada rasa puas dan kebahagiaan saat beliau memberikan itu pada kami.
Lalu, saat aku masuk kuliah di UGM Yogyakarta, beliau orang yang paling semangat bilang akan ikut mengantarkanku ke Yogyakarta. Begitu pun saat aku diwisuda, beliau jauh-jauh hari sudah mendaftarkan diri untuk ikut hadir memberikan selamat dan berfoto bersama. Lihat saja beliau bahkan dengan semangat minta foto berdua saja denganku yang masih memakai toga kelulusan. Foto itu sudah kuberikan pada beliau, dan langsung dipajang di kamar beliau. Kulihat senyum lebar menghiasi wajahnya.

Kemudian saat aku akan menikah. Beliau dengan wajah sangat bahagia menyambut kedatangan calon suami dan keluarganya saat berkunjung ke rumahku. Semua melihat wajah ceria dari nenek. Bahkan berkali-kali beliau bertanya bagaimana bisa aku berkenalan dengan calon suamiku di Jogja itu. Beberapa waktu kemudian saat aku menikah, beliau selalu ambil andil ikut mengurusi proses pernikahanku dan ikut menyambut para tamu. Begitupun saat berfoto. Beliau minta foto bersamaku yang sedang memakai baju pernikahan. Lalu ku berikan cetakan foto itu pada beliau. Dan layaknya orang yang berbahagia, beliau lalu memajang foto itu di kamarnya.
Kisah berlanjut beberapa bulan kemudian, ada kabar kalau aku dinyatakan positif hamil. Kabar itu sudah tersebar di seluruh keluarga besar. Dan orang yang terlihat paling bahagia adalah nenek. “Aku mau punya cicit”, kata beliau. “Piye buyute kabare?”, tanya beliau saat aku sedang mudik ke rumah orang tuaku. Betapa bahagianya beliau. Nenek sangat menantikan kelahiran cicitnya.
Namun di balik semua perhatian dan kasih sayang nenek pada cucunya, sebenarnya beliau sedang diuji dengan penyakit yang berat. Berbagai penyakit singgah di tubuh beliau. Berawal dari penyakit diabetes mellitus yang kemudian menjalar ke penyakit-penyakit yang lain, seperti: mata, punggung, lambung, hingga jantung. Selama bertahun-tahun nenek juga bersahabat erat dengan sakit-sakit itu. Suntikan-suntikan insulin tiap hari beliau tusukkan 4 kali dalam sehari. Obat-obatan begitu memenuhi porsi minumannya tiap saat, pantangan demi pantangan menghalangi menu makannya. Pengobatan demi pengobatan menjadi penjelajahan hidupnya dan operasi demi operasi menentukan fase-fase hidupnya.
Ujian kesabaran selalu diperuntukkan untuknya. Kami yakin betapa sakit yang dideritanya tak ringan. Hanya doa yang selalu kami panjatkan untuknya untuk kesabaran, kesembuhan, dan panjang umurnya.
Mei 2017 menjadi peristiwa penting bagiku dan bagi nenek. Aku telah berada di rumah orang tuaku selama sebulan, menanti kelahiran putra dalam kandunganku. Nyatanya kelahiranku mundur hampir dua minggu dari perkiraan kelahiran. Dan selama penantian kelahiran itu, nenek telah bolak-balik ke Semarang untuk pengobatan di rumah sakit. Dalam hati mendalam sebenarnya nenek ingin segera pulang, karena ingin menanti kelahiran cicitnya. “Saya ingin cepet pulang Dok… saya mau punya cicit, cicit pertama”. Begitu ucap beliau dengan wajah sangat sumringah pada dokter. Hingga beliau pulang lagi, ternyata cicitnya belum juga lahir.
Beberapa hari kemudian dengan diantar dua orang santri nenek datang ke rumahku. Beliau menjengukku di rumah, sambil melihat-lihat rumah. Saat itu wajah beliau terlihat cerah, cantik, & sumringah. Nenek pun berpesan, “Nek lahiran ora usah wedi, Mbahe wae nglahirno ping limo” (Kalau kamu melahirkan nggak usah takut, Mbahe saja dulu melahirkan lima kali). Esok harinya saat aku olah raga jalan pagi, nenek memanggilku dari halaman rumahnya. “Cu… mau kemana? Kok sampai sana?”. “Mau jalan-jalan Nek…” jawabku. “Oh ya wis”, jawab beliau sambil tersenyum. Kemudian beliau balik badan sambil olah raga ringan dan jalan-jalan di halaman rumahnya. Dan kenapa tak seperti biasanya saat beliau memanggil seperti itu rasanya aku ingin melihat wajah beliau lagi. Tapi sayang beliau sudah berjalan pergi menuju rumahnya.
Hari berikutnya siang hari sebelum nenek berangkat ke Semarang, beliau menyuruh seorang santri untuk mengirimkan jantung pisang ke ibuku. “Nduk, berikan jantung pisang ini pada anakku Rus”. Jantung pisang itu kecil dan sudah agak kisut. Seperti berasal dari pisang yang tidak lagi segar. Aku sekeluarga pun bertanya-tanya kenapa juga nenek memberikan hanya jantung pisang yang bentuknya seperti itu. Dan hanya jantung pisang, tidak dengan benda lain. Tapi kata ayah dan ibu, “Nek orang tua memberikan benda-benda itu mesti ada maksudnya”. “La memang maksudnya apa Buk?”, tanyaku. “Ya tak tahu, besok juga tahu sendiri”.
Beberapa hari kemudian, hari Minggu malam aku melahirkan seorang anak laki-laki melalui operasi cesar di RS Rembang. Sebelum dan sesudah melahirkan, suamiku sempat menelpon nenek untuk mengabarkan cucu dan cicitnya. Adikku juga sempat mengirimkan foto keponakannya pada nenek di Semarang. Mendapat kiriman foto itu, nenek tak henti-hentinya memandang foto kiriman itu. Selang 3 hari, Bulek mengabarkan kalau nenek harus menjalani operasi pemasangan ring di jantung, karena dada nenek sesak. Kamis saat sahur jam 3 pagi Bulek kembali mengabarkan kalau nenek ngedrop dan sekarang dirawat di ruang ICU. Dengan suara yang sedih, beliau meminta agar ibukku dan yang lainnya segera datang ke Semarang.
Maka setelah sholat subuh, berangkatlah rombongan ke Semarang untuk menjenguk keadaan nenek kecuali aku. Karena keadaanku yang masih lemah dan puteraku yang baru berusia 4 hari. Maka aku jaga rumah bersama ayah dan budeku. Satu jam kemudian, pak lek berlarian dari rumahnya disertai telpon ayah yang berdering, yang ternyata Bulek yang menelepon. “Pak De…. Mbah kapundut”, begitu kata pak lek secara langsung dan bulek di telepon. Kami yang di rumah kaget bukan main. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Entah apa yang terlintas di pikiranku. Yang jelas ada rasa tidak percaya dalam hati. “Mungkin yang dikatakan Pak Lek bisa dicabut lagi”, seperti itu pikirku. Tapi apapun perasaan dan pikiranku, rasa ikhlas harus digenggam erat dalam hati. Itu juga yang pelan-pelan harus disediakan para anggota keluarga lainnya.
Dan dengan adanya kabar duka ini maka seketika rumah nenek mendadak ramai. Ramai disiapkan untuk menyambut kedatangan jenazah nenek. Ramai dengan para penta’ziah, ramai dengan bacaan tahlil dan tadarus al-qur`an hingga nanti menjelang dhuhur, perkiraan jenazah tiba. Dan benar saja, saat mobil ambulan yang memuat jenazah nenek datang dan lewat depan rumahku tanpa ada aba-aba aku yang sedang istirahat seketika terbangun. Begitu juga dengan si cicit, langsung saja dia menangis kencang seperti halnya tangisan anak yang kaget. Maklum saja anak bayi yang baru berusia 4 hari dan masih murni bisa merasakan hal-hal ghaib di sekitarnya. Dia seperti menyadari dan merasakan lewatnya nenek dan makhluk ghaib yang melewatinya.
Sekarang aku paham bahwa Beliau memberikan pesan kematiannya lewat jantung pisang, yang melambangkan beliau meninggal karena sakit jantung. Begitulah kisah dari nenek. Nenek yang sangat menyayangi cucu-cucunya. Nenek yang sangat bahagia dengan kehadiran cicit pertamanya, namun belum sempat melihat cicit kesayangannya. Takdir Allah yang membuat seperti itu. Saat Allah memberikan anggota baru dalam keluarga ini, Allah lalu mengambil anggota keluarga yang paling sepuh. Atau bisa juga dibalik. Saat Allah mengambil nenek, Allah memberikan ganti cicit di keluarga ini. Begitulah takdir Allah untuk ‘Nenek, Cucu, & Cicitnya’. Allahummaghfirlaha warhamha wa’fu’anha.

26 Apr 2017

Rindu

Aku berdiam dalam raga
Namun rasaku tak pernah bungkam
Berlari kian kemari bergidik menapaki ombak
Mungkin aku sendiri tak paham tentang gelombangnya tapi kukira aku mengerti
Ini tentangnya
Ukiran yang telah indah berhias dalam jiwa
Cintamu dan cintaku terpatri dalam jalan pantura
Bagaikan sepasang mata yang tak sempurna bila tak bersama
Bagaikan sepasang sayap yang kompak mengepak
Namun kini mata itu tertutup minus tinggi tanpa kacamata
Sayap itu menutup sebagian angin
Kini bagaimana rasanya?
Kau tau sendiri apa namanya
Kau tau sendiri bagaimana rasanya
Detakan waktu masih tersenyum menguji
Membiarkan menit-menitnya menggenggamku
Hingga suatu titik ia kembali merengkuh sayap kita berdua
Menjadi sepasang sayap yang menghitung detik waktu

6 Apr 2017

Amalan Si Burung Pipit

Kisah ini terjadi bertahun-tahun yang lalu di Kabilah Kurdi. Pada waktu di Kabilah Kurdi terdapat sekelompok perampok yang amat berbahaya. Perampok itu suka menjarah harta-harta orang-orang yang menurut mereka dapat dijadikan sasaran empuk. Komplotan perampok itu bahkan suka berpindah-pindah tempat untuk melampiaskan keinginan mereka.

Pada suatu siang di sela-sela pekerjaan mereka, mereka beristirahat. Mereka duduk-duduk santai sambil melemaskan otot-otot yang lelah. Menikmati semilir angin yang berhembus di sekeliling mereka. Kebetulan tak jauh dari tempat duduk mereka, terdapat dua pohon kurma yang berdiri tegak. Yang satu pohon kurma subur, lebat daunnya, dengan banyak buah kurma yang telah masak. Sedangkan satu lagi pohon kurma yang kering, tak subur sama sekali, dan tidak berbuah.
Di atas pohon kurma yang subur itu hinggap seekor burung pipit. Burung pipit itu sibuk mematuk-matuk kurma yang telah masak dengan paruhnya kemudian ia bawa terbang menuju pohon kurma yang kering. Ia lalu kembali lagi ke pohon kurma yang subur, memetik kurma matang dan kembali membawanya ke atas pohon kurma yang kering. Begitu terus sampai berkali-kali.
Melihat kejadian itu sekelompok perampok itu merasa ada yang aneh. Rasa penasaran kemudian menyelimuti hati mereka. Ketua perampok kemudian mendekati pohon kurma kering. Memeriksa apa yang terjadi. Betapa herannya dia ternyata di atas pohon kurma kering terdapat seekor ular buta sedang duduk melingkar. Ular itu menengadah membuka mulutnya, menerima kurma matang yang dijatuhkan oleh burung pipit dari paruhnya. Rupanya burung pipit itu sedang memberikan makan ular yang buta.
Seketika itu hati ketua perampok merasa tersentak. Ada rasa haru bercampur kesedihan yang merasuk dalam relung jiwanya. Air matanya tak terbendung lagi mengaliri pipinya. Ia menangis. Ia kemudian berbalik arah dan langsung mematahkan pedang yang ia bawa seperti biasanya untuk merampok. Ia terduduk sambil mulutnya berdoa, “Ya Allah… ampunilah aku, aku mohon Ya Allah… ampunilah semua dosaku”.
Para perampok lain yang masih asyik duduk merasa heran dengan tingkah laku aneh pemimpinnya. Mereka mendekati si ketua yang sudah mulai berjalan ke tempat semula dan bertanya, “Wahai Ketua apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kalian… dengarlah, selama ini aku telah meninggalkan jalan kebenaran. Namun saat ini tiba-tiba aku merasa Allah telah mengingatkanku. Maka mulai saat ini aku ingin kembali ke jalan kebenaran, menjauhi semua laranganNya dan menjalankan perintahNya”.
“Apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini ketua?”
“Kalian… lihatlah burung pipit itu…” ketua perampok menunjukkan burung pipit di atas pohon kurma itu dan menceritakan kejadian sebenarnya.
Mendengar cerita sang ketua, para komplotan perampok itu langsung mematahkan pedang yang mereka bawa. Mereka pun mengikuti jalan ketua perampok untuk bertaubat.
Setelah pertaubatan mereka, mereka kemudian berniat melaksanakan ibadah haji bersama-sama. Mereka membeli pakaian ihram dan memulai perjalanan menuju Makkah. Perjalanan ditempuh selama beberapa hari. Setelah tiga hari tiga malam, mereka sampai di sebuah desa. Di desa tersebut mereka bertemu dengan seorang wanita tua yang buta. Wanita itu menghampiri mereka dan menanyakan salah satu nama diantara mereka. Mereka pun membenarkan nama salah satu komplotan perampok yang ditanyakan wanita tua.
“Alhamdulillah. Begini Nak… anakku telah meninggal tiga hari yang lalu dan ia meninggalkan pakaian-pakaian ini. Lalu dalam tidur aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Beliau memintaku untuk memberikan pakaian anakku padamu. Jadi terimalah baju ini dan pakailah”.
Mereka lalu menerima baju-baju tersebut dan berterima kasih pada wanita tua itu. Setelah menyerahkan baju itu nenek tua lantas pergi. Para mantan perampok itu kemudian memakai baju-baju yang diberikan sang wanita tua dan melanjutkan perjalanan menuju tanah Makkah.
Sumber: Buku Kisah Mimpi-Mimpi Orang Sholeh karya Muhammad Hamid

28 Feb 2017

Sapiku Penarik Jodohku


Dikisahkan di sebuah desa di penjuru negeri Turki bernama Desa Nurs, terdapat cerita cinta yang amat suci. Cinta sucinya pantas dijadikan panutan bagi para pecinta lainnya. Cinta bukan karena hawa nafsu dan keinginannya. Tapi cinta yang karena kecintaannya padaNya ia dikaruniai cinta suci. Hingga menjadikan dia, cintanya, dan keturunannya menjadi buah-buah teladan penuh penghargaan.
Dia bernama Mirza. Seorang pemuda yang dikaruniai akhlak mulia, kedisiplinan tinggi, taat pada agama, ramah pada sesama, dan penyayang makhluk. Seorang pemuda berumur 25 tahun yang pekerjaan utamanya penggembala. Setiap harinya setelah Sholat Shubuh ia menggiring sapi-sapi gembalaannya menuju tempat padang gembalaan. Sebelum berangkat ia selalu memakaikan penutup mulut pada sapi-sapinya. Hal itu dimaksudkan agar gembalaannya itu di tengah perjalanan tidak memakan rumput yang tidak haknya. Ia sangat berhati-hati menjaga hewannya dari barang syubhat dan barang haram.
Sepanjang perjalanan hatinya tak pernah lepas mengucapkan dzikir. Desah nafasnya sudah larut dengan asma-asma suciNya. Tak kalah dengan para gembalaannya yang tiap jejak langkahnya hanya mengingat Allah. Meski tak terlihat oleh manusia, itulah sebenarnya hakikat para hewan, berdikir.
Hingga tak terasa perjalanannya sudah mencapai waktu dua jam. Ia sampai di padang rumput yang ia tuju. Di sana ia menancapkan patok pada tali pengikatnya dan melepaskan penutup mulut para sapi agar mereka bisa makan sesuka hati rumput halal itu. Nah setelah merasa aman, ia kemudian meninggalkannya untuk melaksanakan sholat dhuha. Setelah sholat dhuha ia masih larut dalam khusyuk dzikirnya. Tak terasa apapun. Ia hanya merasakan nyaman dalam jiwanya.
Selepas sholat dan dzikirnya ia pun tertidur di bawah sebuah pohon nan rindang. Sejuk, nyaman, dengan udara yang masih sangat asri. Begitu pulas tidurnya. Hingga sekian lama akhirnya ia terbangun. Ia kemudian menengok gembalaannya, memastikan kalau mereka masih asyik menikmati padang rumput mereka. Namun begitu terkejutnya ia, saat melihat salah satu patok tali sapinya lepas. Seekor sapi jantan telah lepas. 
Hatinya gelisah. Gelisah karena takut jika sapi tersebut ternyata telah memakan rumput orang lain. Yang kedua gelisah karena sapi itu adalah benda berharga bagi keluarganya. Dari sapi itulah ia dan keluarganya mencari nafkah. Maka ia pun langsung mengitari seluruh penjuru padang rumput. Kemudian mencarinya ke daerah sekitar padang rumput. Ia juga menanyakan pada penggembala lain yang lewat. Kalau-kalau mereka melihat sapinya. Tetapi tetap nihil.
Tak lama kemudian ia menemukan sapinya sedang asyik memakan rumput di sebuah ladang penduduk. Betapa terkejutnya dia. Ia merasa sangat bersalah karena sapinya telah kemasukan rumput yang bukan haknya. Ia lalu menarik sapinya keluar dari ladang tersebut. Ia kemudian menutup mulut sapinya dan mengikatkan tali di leharnya pada pohon. Ia tinggalkan sapinya sejenak hendak mencari siapa pemilik ladang tersebut. Dari kejauhan ia melihat sebuah rumah. Ia berharap pemilik rumah itu adalah juga pemilik ladang tersebut.
Mirza mengetuk pintu rumah. Beberapa saat keluar seorang laki-laki agak tua. Mirza lalu menyampaikan maksud kedatangannya.
“Maaf  Pak, saya mau bertanya. Apakah ladang di ujung sana itu milik Bapak?” Tanya Mirza.
“Iya Nak… ada apa memangnya?”
“Begini Pak, saya mohon maaf sekali karena barusan sapi saya telah makan rumput di ladang Bapak. Kedatangan saya kemari saya ingin minta maaf sekaligus meminta keikhlasan Bapak atas rumput yang telah sapi saya makan tadi. Kalau tidak, kasihan keluarga kami jika apa yang dihasilkan dari sapi ini ada barang yang tidak halal, berarti kami menggunakan sesuatu yang haram.”
“Hemmm… begitu ya?” laki-laki itu belum menjawab permintaan Mirza. Ia masih asyik memandangi anak muda di hadapannya. Ada rasa ketertarikan di hatinya.
“Begini Nak… dimana kamu tinggal?”
“Saya tinggal di Desa Nurs Pak. Kira-kira dua jam dari sini”.
“Ya…ya… lalu siapa nama orang tuamu Nak?”
“Pak…. Tolong jangan bawa masalah ini pada orang tua saya. Nanti mereka bisa memarahi saya. Biarlah ini saya saja yang menyelesaikan. Jika memang Bapak ingin meminta ganti rugi saya akan penuhi meskipun dengan mencicil Pak..”
“Nak… aku hanya ingin tahu nama orang tuamu”.
“Baiklah Pak. Ayah saya bernama Ali ibu saya Aminah. Lalu Pak… apakah Bapak menerima permintaan maaf saya?”
“Haha… iya Nak aku memaafkanmu.”
“Lalu apa Bapak ikhlas dengan rumput di perut sapi saya”.
“Ya Nak… aku sudah ikhlas”, jawab lelaki itu tersenyum.
“Terima kasih banyak Pak… terima kasih”, Mirza bersuka cita
          Mendapatkan apa yang yang ia cari, Mirza pun berpamitan karena matahari sudah mulai bergerak ke barat. Ia kembali menggiring sapinya mengarungi jalan menuju desanya. Perlahan dengan dzikir yang selalu melekat di hatinya.
Sesampainya di rumah, Mirza mengikat sapinya di kandang. Membiarkannya beristirahat setelah kenyang mancari makan seharian. Saatnya Mirza masuk rumah untuk beristirahat pula. Namun betapa terkejutnya dia saat di rumah melihat seorang tamu sedang bercakap-cakap dengan ayahnya. Tamu tersebut adalah lelaki pemilik ladang tadi siang. Mirza lalu bersalaman dengannya dan bersapa dengannya.
“Loh, Bapak kenapa bisa berada di sini? Dan bagaimana bisa Bapak mengenal ayah saya”, Tanya Mirza penuh tanda tanya.
“Ya Nak… aku karena aku melihat wajahmu. Wajahmu sangat mirip dengan wajah ayahmu. Dan ayahmu ini adalah sahabat lamaku, yang sudah sangat lama tak bertemu. Dan dengan lantaranmu aku bisa berjumpa kembali dengan ayahmu. Aku bahagia karena dia memiliki anak yang sholeh sepertimu.”
Ayah Mirza tersenyum “Mirza, ya ini teman ayah. Namanya Molla Thahir.”
Mereka pun larut dalam nostalgia masa muda. Melepas rasa rindu masing-masing.
Suatu ketika saat Mirza sedang menggembalakan sapi-sapinya seperti biasanya, kedua orang tuanya berkunjung ke kediaman Molla Thahir sahabatnya. Mereka membalas kunjungan beberapa hari yang lalu. Ketika sedang asyik berbincang, keluarlah seorang gadis cantik menghidangkan suguhan. Seketika itu ayah dan ibu Mirza tertarik.
“Molla… kau ternyata punya anak perempuan yang cantik ya? Apakah putrimu sudah memiliki calon suami?”
“Hehe, namanya Nuriye. Ali… belum pernah ada laki-laki yang mendekati putriku. Karena tiap ia keluar rumah ia selalu menutup rapat wajahnya, sehingga tak ada yang tahu kecantikannya.”
“Hemmm…. Hayo ada apa kau menanyakan hal itu?” goda Molla Thahir.
“Bagaimana pendidikannya selama ini Molla?”
“Dari kecil kami mengajarinya sendiri. Kami mendidik ilmu-ilmu alqur’an dan hadits padanya. Hingga sampai saat ini dia selalu berusaha menjaga wudlunya tiap saat.” Jelas Molla Thahir.
“Masya Allah, gadis yang sholehah.” Puji Ali.
Ali kemudian melirik istrinya sambil tersenyum.
“Molla bagaimana kalau kita jodohkan putra putri kita berdua?”
“Hebat kau Ali, aku pun berfikiran sama denganmu. Aku setuju saja. Namun Nuriye tidak memiliki keahlian apa-apa. Dia hanya gadis desa biasa yang kesehariannya hanya membantu ayah ibunya di ladang.”
“Tak apa Molla. Mirza pun demikian. Dia juga anak desa biasa yang pekerjaannya hanya penggembala sapi.”
Mereka kemudian bersepakat untuk menikahkan kedua putra-putri mereka. Mirza pemuda sholeh yang berumur 25 tahun dinikahkan dengan Nuriye gadis yang sholehah. Kedua muda mudi itu pun setuju. Mereka percaya pada pilihan kedua orang tuanya. Mereka juga tak ingin menolak keinginan orang tuanya. Karena itulah cara mereka berbakti pada orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
Pernikahan pun dilaksanakan tak lama setelah kesepakatan itu berlangsung. Dan kelak dari pernikahan keduanya mereka dikaruniai anak-anak yang sholeh. Anak yang ahli ilmu, taat, dan membanggakan bagi orang tuanya. Nama Mirza sendiri di kemudian hari banyak dikenal dengan sebutan Sufi Mirza, karena sifat wira’i dan kesholehannya, yang tak tentu saja semua itu tak lepas dari dukungan dari istrinya, Nuriye. [] Um-R
*Kisah terinspirasi dari Novel “Api Tauhid” karya Habiburrahman El Shirazy
(Yogyakarta, 28 Februari 2017)

18 Sep 2016

Mandalika

Mandalika..
Beberapa masyarakat mungkin tak mengenalmu
Sebentuk pulau yang dibentuk atas perhiasan samudra
Setitik pulau dari ribuan pulau kekayaan bangsa

Mandalika...
Aku pun belum mengenalmu, jika pun sebelum aku menginjak tanahmu
Mereka pun belum menjumpaimu, jika pun sebelum mereka menghirup aromamu

Mandalika...
Benar kata orang-orang bilang
Tiap sudut tanah airku berhias pulau-pulau indah penuh pesona
Kau buktinya
Kau wakilkan segenap pulau yang tak terjamah wisatawan
Kau tunjukkan, betapapun kecil pulaumu tetap aku tak sanggup menghitung pesonamu

Mandalika...
Patut ku suguhkan hormat pada para nelayan desa
Mereka menemukanmu, memeliharamu, mensyukurimu, memperkenalkanmu
Mereka mengajarkan betapa sederhananya mereka namun berharganya jasa mereka
Mereka mengorbankan ketampanan kulit mereka untuk mengarungimu
Mereka tersenyum bersusah payah menjagamu

Mandalika...
Patut ku tundukkan sujudku pada Pemilikmu
Patut ku teteskan syukur atas ciptamu
Aku yang tak mampu memandang hanya bergumam
Aku yang tak mampu berikhtiar hanya dapat berucap

Mandalika...
Mewakili bangsaku kuucapkan padamu
Keindahanmu, kebanggaanku, kekayaanku, syukurku
Untuk bangsaku, Indonesiaku

Bantul, 5 September 2016

15 Sep 2016

ke-Konco-an Walisongo

Walisongo. Perkumpulan 9 wali di tanah Jawa. Namanya begitu tenar dan harum semerbak di seluruh penjuru tanah Indonesia. Mereka lah yang telah berjasa besar menyebarkan Islam di tanah Jawa bahkan Indonesia. Mereka lah yang menancapkan tradisi Islam lewat jiwa nasionalisme budaya Jawa. Betapa hebatnya mereka. Masyhur akan kemanfaatannya. 
Lalu, ikut memfoto-copy nama-nama beserta jumlah beliau-beliau, aku bersama para sahabat di tanah Krapyak ikut menyematkan nama itu dalam nama keluarga persahabatan kami, “Walisongo”. Harapan kami pula dapat memfoto-copy dan mengamalkan sikap-sikap mereka beserta cara dakwah mereka, dimana pun dan kapan pun. Maka ini lah kami, Walisongo dengan berbagai ciri khas kami.
Walisongo
 9 orang anggota, berasal dari trio GP (Leli, Alma, Nida), trio macan (Umroh, Zida, Ci’Neng), dan trio boy (Syamsul, Izzat, Zaky). Sebenarnya awalnya tak sengaja sama sekali grup ini terbentuk, benar-benar hanya kebetulan semata. Tak sengaja dalam organisasi dan beberapa moment perjuangan, kami ada di dalamnya. Berjuang bersama, sering berjumpa, dekat dalam pertemanan, dan merasa cocok satu sama lain. Sederhana saja seperti itu. 

Karena kedekatan itu kemudian kami membuat sebuah moment untuk berlibur, saling bersilaturahim ke rumah semua anggota Walisongo dan juga ziaroh para wali, sebagai aplikasi contoh-contoh sikap para Walisongo yang sebenarnya. Bertepatan pada 2-4 September 2016 pada hari Jum’at-Minggu rencana dilaksanakan. Namun yang disayangkan beberapa anggota tak dapat ikut karena kepentingan keluarga yang tak dapat dihindarkan. Yang akhirnya dapat berangkat adalah aku (Umroh), Ci’Neng, Alma, Leli, Nida, Mas Imam (suamiku, bukan anggota Walisongo), dan Rifa’i (teman yang diminta jadi sopir).

Ø   Jepara
Perjalanan kami dimulai di Kota Jepara, kota kelahiran serta tempat tinggal Alma. Anggota Walisongo yang paling penyabar dan puitis. Dia sangat ahli membuat puisi dan kata-kata indah. Seperti halnya tulisan di desain kaos kami itu, adalah hasil buah pikir Alma. Top memang. Yang tak kalah top, dialah penanggung jawab utama sekaligus ketua panitia acara perjalanan ini. 4 jempol untuk Alma.
Foto bersama di depan Benteng Portugis
Nah langkah awal kita diawali menginap di sebuah vila di kawasan Wisata Benteng Portugis, Jepara. Malam ketika lelah perjalanan menyeruak tubuh kami sirna seketika menerima sambutan hangat dari keluarga Alma, dipadu dengan keelokan pemandangan di pantai Benteng Portugis ini. Benteng Portugis sendiri merupakan salah satu monument bersejarah pada masa penjajahan Belanda. Salah satu bukti kuat adanya perjuangan nasionalisme pengusiran penjajah antara Mataram dan Portugis. Mau tahu sejarah lengkapnya? Silahkan baca buku bersejarah ya.hehe
Gerbang masuk Benteng Portugis
Pelataran pantai Benteng Portugis
 Lanjut pagi hari ketika matahari telah menampakkan seluruh wajahnya, kami pun berdandan rapi, kemudian menikmati pemandangan pantai. Tak lupa kami sempatkan berziaroh di makam salah satu wali, Mbah Leseh namanya yang berada di hadapan pantai. Tak lupa pula dan yang paling utama, kami jebrat-jebret menghabiskan beberapa giga untuk berfoto ria. *Maklum anak muda.hehe


Perjalanan berlanjut dengan menaiki perahu menuju pulau Mandalika, Jepara. Pada tahap ini semua sudah disewa dan dirancang Alma beberapa bulan lalu. Kami sendiri ada yang sudah pernah naik perahu dan ada yang belum. Nah begitu kami antri menaiki perahu dengan bantuan tetangga Alma, kami mendengar rintihan seseorang di perahu. Bunyi apakah itu? Ternyata... oh Leli. Dia terlalu bersemangat memanjat perahu, begitu naik perahu ia langsung melompat kegirangan, lupa bagaimana dan betapa gendutnya dia, *eh. Ibu Alma yang melihat tingkah Leli pun terpana, batinnya “Ini bocah semangat amat ya?”. Al-hasil sebuah kayu di tengah perahu patah, kakinya terperosok dan darahnya mengaliri perahu. Beberapa menit kemudian perahu ramai oleh pertolongan pertama pada Si Leli.
Foto ceria setelah aksi tragedi Leli. Lihat balutan di kakinya.
Yang lain menikmati ombak, Si Nida sibuk mabuk laut.
Lanjut, ke perjalanan. Untungnya Leli masih bisa berjalan lancar meski dengan balutan kaos kakiku itu. langkah kami berlanjut mengarungi keindahan Pulau Mandalika. Sebuah pulau kecil di kawasan Pantai Jepara. Salah satu pulau kekayaan Indonesia yang mengandung keeksotisan luar biasa. Indah, sejuk, dan menanjak. Karena kami mesti naik beberapa meter untuk beristirahat dan memetik beberapa plastik buah kweni. 
Pulau Mandalika

Ø   Pati-Rembang
Selepas Ashar perjalan berlanjut ke Pati, yakni ziaroh ke makam Mbah Mutamakin, Kajen, Margoyoso, Pati. Nah mulai dari ini kami para cewek bergotong-royong memapah Si Leli yang baru saja mulai tidak bisa berjalan karena peristiwa cedera perahu. Singkat saja sowannya ke Mbah Mutamakin, dengan tahlil dan doa secukupnya. Nah dari sini juga ada yang berucap “Kok nggak ada truknya tonggoku sing lewat ya?”, ucap Ci’Neng di mobil sambil tengok kanan kiri sembari tangannya sibuk memainkan hp.
La ngopo to Mbak Ci’ golek trukke tonggomu?” sahut yang lain.
Yo ra popo, meh nitip salam wae nggo keluargaku neng omah”.
“Hahaha....” kami serempak.
Cik.. Cik... kowe kok gelisah ngono e, kowe pengen mampir omahmu to? Haha”
“Hehe.. iyo sih”, jawab Ci’Neng.
Piye cah-cah.. mampir neng Rembang ora? Cik Neng gelisah ki loh, kangen omah kok ndadak meh nyegat truk barang.haha
Piye ya? Ayo-ayo rundingan”.
Akhirnya disepakati setelah dari Juwana mampir ke Mojorembun, Kaliori, Rembang, tanah kelahiranku dan Ci’neng. Kenapa Ci’Neng galau? Karena rencananya memang tidak mampir Rembang, sebab kami dan teman-teman Walisongo sudah sering mampir ke Mojorembun. Tapi.. untuk sahabat kami, kami rela merubah rencana. Rencana yang membuat Ci’neng tak lagi gelisah akan nyegat truk.hahaha.
Lalu perjalanan berlanjut ke Langgenharjo, Juwana, Pati, di tanah kelahiran dan rumah orang tua Mas Imam (suami saya). Setengah 7, selepas maghrib kami sampai dan selepas isya’ kami berlanjut ke Rembang.
Rembang berjumpa kembali. Di sinilah kemarin anggota Walisongo hadir dan berkumpul dalam acara pernikahanku, satu setengah bulan lalu. Kini kami berkumpul lagi. Berkumpul dan bersilaturahim di rumahku dan Ci’Neng. Meski singkat namun kami sama-sama bahagia. Orang tua kami tak kalah bahagia menyambut kedatangan anak-anak bersama para sahabatnya. Nah Ci’neng ini anggota Walisongo yang paling jahil, suka menggoda teman-teman yang lain, suka menjodoh-jodohkan temannya, tapi jika dia dijodoh-dijodohkan juga tak mau. Berjuluk Bu DPR, karena bekerja di DPR. Ahli bidang jurnalis dan sastra, kami pun punya kata ciri khas untuknya. “Memeluk, mendekap”, kata-kata yang selalu ada di tulisan Ci’Neng. 

Ø   Kudus
Pukul 21.00 WIB perjalanan berlanjut ke Kudus, kota kelahiran sekaligus tempat tinggal Nida. Anggota Walisongo berkaca mata, yang paling sipit, paling hobi tertawa, dan paling rajin bobok di mobil. Ini anggota yang barusan mendapat gelar sarjana dari UIN Sunan Kalijaga dan dalam hitungan hari bakalan boyong ke tanah kelahirannya meninggalkan Jogja Istimewa.
Begitu sampai di Kudus, pukul 22.30 kami disambut hangat oleh keluarga Nida. Beberapa suguhan tersaji di meja, melambai-lambai untuk dinikmati. Tapi kami hanya memandanginya sambil menikmati rasa kantuk. Sayang sekali, maaf wahai para teh dan jajan di meja, kami hanya butuh kasur. Lalu... setelah dipersilahkan kami pun berlomba memejamkan mata, beristirahat.
Pagi harinya, setelah sarapan dan dandan rada cantik kami lanjut sowan berziaroh ke Sunan Kudus. Dan diajak foto bareng di depan menara oleh Alma. Seumur-umur aku tinggal di Kudus, baru kali ini aku foto di Menara Kudus.

Ø   Semarang
Selepas dari Kudus perjalanan berlanjut ke Semarang, kota kelahiran sekaligus tempat tinggal Leli. Anggota Walisongo yang barusan cedera perahu, paling rame, paling koplak, paling ekspresif kalau foto. Dialah satu-satunya ragil di Walisongo. Si ragil kesayangan Babenya dari 7 bersaudara. Sejenak beristirahat, sambil memandangi para peliharaan Leli di samping rumahnya. Puluhan sapi dan kambing gemuk-gemuk yang siap disediakan bagi para pencari hewan kurban.
Ternyata para hewan itu tak hanya dibiarkan hidup saja, tapi juga sengaja disembelih untuk kami para tamunya. Maka menu makan siang kali ini tengkleng kambing dan daging sapi. “Pantes Leli gendut, la makanannya kayak ginian”, batin kami. Bagi para pecinta kambing makanan langsung disikat habis. Dan ternyata semua pecinta daging kambing, kecuali aku yang tak dapat makan kambing. Alhamdulillah.

Ø   Yogyakarta
Pukul 15.00 kami bertolak dari Semarang menuju Yogyakarta kembali. Perjalanan telah usai, misi terlaksana. Semua bahagia. Semua puas. Silaturahim terjalin erat. Dan semoga akan selalu bermanfaat perjalanan ini dan terutama persahabatan ini.
Kami berharap selanjutnya dapat melakukan perjalanan kembali lengkap dengan anggota Walisongo yang lain.
-      Ada Mbak Zida, pejuang asal Pekalongan, bersuara merdu, anggota Walisongo yang paling Gendut, paling keibuan, paling dermawan yang sedang berjuang untuk skripsinya.
-      Ada Izzat, santri Krapyak asalnya juga Krapyak, Yogyakarta. Si kepala madin, kriting, kalau panjang rambutnya seperti pohon beringin, sok cool, jutek, datar, gengsian tapi sebenarnya seneng curhat dan sayang pada kita semua. Misinya mencari istri yang lebih muda dan galak.
-      Ada Syamsul, penabuh rebana asal Demak. Ahli dalam segala hal tentang rebana, kurus, anak Kodama yang paling supel, koplak, suka maen, dia yang selalu kerja keras membantu temannya.
-      Ada Zaki, ahli sate asal Madura tinggal di Krapyak. Agak pendiam tapi setia kawan. Sekarang sedang sibuk membahagiakan istrinya, menjalin keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. 
Anggota Walisongo yang lain
Inilah jargon kami: “Kuncoro tanpo woro-woro, digdoyo tanpo aji mandraguno, senjoto kalimosodo”. Artinya: “Masyhur tanpa mengumumkan diri (koa-koar), kuat perkasa tanpa jurus dan ajian mandraguna, bersenjata kalimat syahadat”.
Demikian cerita panjangku. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. 

Jejeran-Wonokromo, 5 September 2016