Aku berdiam dalam
raga
Namun rasaku tak
pernah bungkam
Berlari kian kemari
bergidik menapaki ombak
Mungkin aku sendiri
tak paham tentang gelombangnya tapi kukira aku mengerti
Ini tentangnya
Ukiran yang telah
indah berhias dalam jiwa
Cintamu dan cintaku
terpatri dalam jalan pantura
Bagaikan sepasang
mata yang tak sempurna bila tak bersama
Bagaikan sepasang
sayap yang kompak mengepak
Namun kini mata itu
tertutup minus tinggi tanpa kacamata
Sayap itu menutup
sebagian angin
Kini bagaimana
rasanya?
Kau tau sendiri apa
namanya
Kau tau sendiri
bagaimana rasanya
Detakan waktu masih
tersenyum menguji
Membiarkan
menit-menitnya menggenggamku
Hingga suatu titik ia
kembali merengkuh sayap kita berdua
Menjadi sepasang
sayap yang menghitung detik waktu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar