Kuberitahu Nak…
Hari ini dan beberapa hari ini kau sering
perlihatkan sesuatu yang indah
Kau berkomentar meski belum jelas apa kata-katamu
itu
Itu Hujan Nak…
Aliran deras air yang jatuh dari langit
Membasahi halaman pekarangan kita, bahkan membanjirinya
Kau memandangnya Nak… penuh suka cita
Sampai lonjakannya mengejutkan tubuhku
Itu hujan Nak…
Itu hujan yang datangnya ditemani hembusan angin
dingin
Yang tibanya diliputi suara gemuruh yang aneh
Yang di sekelilingnya diselimuti suara gemetar
gemericik
Itu hujan Nak…
Sekarang kau bahagia memandangnya
Karena indah dan dahsyat pemandangannya
Tapi apa kau akan menyukainya kelak Nak
Itu hujan Nak…
Yang akan menjadi penghalang jika manusia ingin
keluar rumah
Yang menjadi penyebab benda-benda tak kering
Yang menjadi musuh bagi manfaat sinar mentari
Yang menjadi timbunan banjir di penjuru negeri
Itu hujan Nak….
Begitu kata manusia yang tak pandai bersyukur
Begitu kata orang-orang yang lupa telah meminta
hujan
Begitu kata hati yang tertutup nafsu
Nak…. Lihatlah itu Hujan.
Kau tak boleh membenci mesti perih
Kau tak boleh mengutuk hujan dalam dada
Kau tak boleh menyalahkan hujan karena ia hanyalah
hujan
Itu Hujan Nak…
Hujan hanyalah makhluk yang datang atas
perintahNya
Hujan hanyalah aliran air yang mendinginkan di
saat panas memanggang
Hujan hanyalah kucuran rahmat di saat dahaga
mendera
Itu Hujan Nak…
Kau tahu Nak, Dia sendiri berkata bahwa hujan
adalah makhluknya
Makhluk yang membuka kelapangan atas doa
Makhluk yang membawa kemudahan harapan-harapan
makhluk yang berdoa
Maka berdoalah Nak saat hujan tiba
Itu hujan Nak…
Ingatlah cerita ini suatu hari kelak
Bahwa kau akan menyukai hujan seperti kau menyukai
langit yang terang
Kau akan bahagia untuk hujan seperti bahagia untuk
mentari pagi
Kau akan menyambut hujan dalam nafas doa
Kau akan tersenyum pada hujan seperti kau
tersenyum padaku
Krapyak
Selasa, 28
November 2017
