26 Apr 2017

Rindu

Aku berdiam dalam raga
Namun rasaku tak pernah bungkam
Berlari kian kemari bergidik menapaki ombak
Mungkin aku sendiri tak paham tentang gelombangnya tapi kukira aku mengerti
Ini tentangnya
Ukiran yang telah indah berhias dalam jiwa
Cintamu dan cintaku terpatri dalam jalan pantura
Bagaikan sepasang mata yang tak sempurna bila tak bersama
Bagaikan sepasang sayap yang kompak mengepak
Namun kini mata itu tertutup minus tinggi tanpa kacamata
Sayap itu menutup sebagian angin
Kini bagaimana rasanya?
Kau tau sendiri apa namanya
Kau tau sendiri bagaimana rasanya
Detakan waktu masih tersenyum menguji
Membiarkan menit-menitnya menggenggamku
Hingga suatu titik ia kembali merengkuh sayap kita berdua
Menjadi sepasang sayap yang menghitung detik waktu

6 Apr 2017

Amalan Si Burung Pipit

Kisah ini terjadi bertahun-tahun yang lalu di Kabilah Kurdi. Pada waktu di Kabilah Kurdi terdapat sekelompok perampok yang amat berbahaya. Perampok itu suka menjarah harta-harta orang-orang yang menurut mereka dapat dijadikan sasaran empuk. Komplotan perampok itu bahkan suka berpindah-pindah tempat untuk melampiaskan keinginan mereka.

Pada suatu siang di sela-sela pekerjaan mereka, mereka beristirahat. Mereka duduk-duduk santai sambil melemaskan otot-otot yang lelah. Menikmati semilir angin yang berhembus di sekeliling mereka. Kebetulan tak jauh dari tempat duduk mereka, terdapat dua pohon kurma yang berdiri tegak. Yang satu pohon kurma subur, lebat daunnya, dengan banyak buah kurma yang telah masak. Sedangkan satu lagi pohon kurma yang kering, tak subur sama sekali, dan tidak berbuah.
Di atas pohon kurma yang subur itu hinggap seekor burung pipit. Burung pipit itu sibuk mematuk-matuk kurma yang telah masak dengan paruhnya kemudian ia bawa terbang menuju pohon kurma yang kering. Ia lalu kembali lagi ke pohon kurma yang subur, memetik kurma matang dan kembali membawanya ke atas pohon kurma yang kering. Begitu terus sampai berkali-kali.
Melihat kejadian itu sekelompok perampok itu merasa ada yang aneh. Rasa penasaran kemudian menyelimuti hati mereka. Ketua perampok kemudian mendekati pohon kurma kering. Memeriksa apa yang terjadi. Betapa herannya dia ternyata di atas pohon kurma kering terdapat seekor ular buta sedang duduk melingkar. Ular itu menengadah membuka mulutnya, menerima kurma matang yang dijatuhkan oleh burung pipit dari paruhnya. Rupanya burung pipit itu sedang memberikan makan ular yang buta.
Seketika itu hati ketua perampok merasa tersentak. Ada rasa haru bercampur kesedihan yang merasuk dalam relung jiwanya. Air matanya tak terbendung lagi mengaliri pipinya. Ia menangis. Ia kemudian berbalik arah dan langsung mematahkan pedang yang ia bawa seperti biasanya untuk merampok. Ia terduduk sambil mulutnya berdoa, “Ya Allah… ampunilah aku, aku mohon Ya Allah… ampunilah semua dosaku”.
Para perampok lain yang masih asyik duduk merasa heran dengan tingkah laku aneh pemimpinnya. Mereka mendekati si ketua yang sudah mulai berjalan ke tempat semula dan bertanya, “Wahai Ketua apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kalian… dengarlah, selama ini aku telah meninggalkan jalan kebenaran. Namun saat ini tiba-tiba aku merasa Allah telah mengingatkanku. Maka mulai saat ini aku ingin kembali ke jalan kebenaran, menjauhi semua laranganNya dan menjalankan perintahNya”.
“Apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini ketua?”
“Kalian… lihatlah burung pipit itu…” ketua perampok menunjukkan burung pipit di atas pohon kurma itu dan menceritakan kejadian sebenarnya.
Mendengar cerita sang ketua, para komplotan perampok itu langsung mematahkan pedang yang mereka bawa. Mereka pun mengikuti jalan ketua perampok untuk bertaubat.
Setelah pertaubatan mereka, mereka kemudian berniat melaksanakan ibadah haji bersama-sama. Mereka membeli pakaian ihram dan memulai perjalanan menuju Makkah. Perjalanan ditempuh selama beberapa hari. Setelah tiga hari tiga malam, mereka sampai di sebuah desa. Di desa tersebut mereka bertemu dengan seorang wanita tua yang buta. Wanita itu menghampiri mereka dan menanyakan salah satu nama diantara mereka. Mereka pun membenarkan nama salah satu komplotan perampok yang ditanyakan wanita tua.
“Alhamdulillah. Begini Nak… anakku telah meninggal tiga hari yang lalu dan ia meninggalkan pakaian-pakaian ini. Lalu dalam tidur aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Beliau memintaku untuk memberikan pakaian anakku padamu. Jadi terimalah baju ini dan pakailah”.
Mereka lalu menerima baju-baju tersebut dan berterima kasih pada wanita tua itu. Setelah menyerahkan baju itu nenek tua lantas pergi. Para mantan perampok itu kemudian memakai baju-baju yang diberikan sang wanita tua dan melanjutkan perjalanan menuju tanah Makkah.
Sumber: Buku Kisah Mimpi-Mimpi Orang Sholeh karya Muhammad Hamid