K
isah ini terjadi bertahun-tahun yang lalu di Kabilah
Kurdi. Pada waktu di Kabilah Kurdi terdapat sekelompok perampok yang amat
berbahaya. Perampok itu suka menjarah harta-harta orang-orang yang menurut
mereka dapat dijadikan sasaran empuk. Komplotan perampok itu bahkan suka
berpindah-pindah tempat untuk melampiaskan keinginan mereka.
Pada suatu siang di sela-sela pekerjaan mereka,
mereka beristirahat. Mereka duduk-duduk santai sambil melemaskan otot-otot yang
lelah. Menikmati semilir angin yang berhembus di sekeliling mereka. Kebetulan
tak jauh dari tempat duduk mereka, terdapat dua pohon kurma yang berdiri tegak.
Yang satu pohon kurma subur, lebat daunnya, dengan banyak buah kurma yang telah
masak. Sedangkan satu lagi pohon kurma yang kering, tak subur sama sekali, dan
tidak berbuah.
Di atas pohon kurma yang subur itu hinggap seekor
burung pipit. Burung pipit itu sibuk mematuk-matuk kurma yang telah masak
dengan paruhnya kemudian ia bawa terbang menuju pohon kurma yang kering. Ia
lalu kembali lagi ke pohon kurma yang subur, memetik kurma matang dan kembali
membawanya ke atas pohon kurma yang kering. Begitu terus sampai berkali-kali.
Melihat kejadian itu sekelompok perampok itu
merasa ada yang aneh. Rasa penasaran kemudian menyelimuti hati mereka. Ketua
perampok kemudian mendekati pohon kurma kering. Memeriksa apa yang terjadi.
Betapa herannya dia ternyata di atas pohon kurma kering terdapat seekor ular
buta sedang duduk melingkar. Ular itu menengadah membuka mulutnya, menerima
kurma matang yang dijatuhkan oleh burung pipit dari paruhnya. Rupanya burung
pipit itu sedang memberikan makan ular yang buta.
Seketika itu hati ketua perampok merasa tersentak.
Ada rasa haru bercampur kesedihan yang merasuk dalam relung jiwanya. Air matanya
tak terbendung lagi mengaliri pipinya. Ia menangis. Ia kemudian berbalik arah
dan langsung mematahkan pedang yang ia bawa seperti biasanya untuk merampok. Ia
terduduk sambil mulutnya berdoa, “Ya Allah… ampunilah aku, aku mohon Ya Allah…
ampunilah semua dosaku”.
Para perampok lain yang masih asyik duduk merasa
heran dengan tingkah laku aneh pemimpinnya. Mereka mendekati si ketua yang
sudah mulai berjalan ke tempat semula dan bertanya, “Wahai Ketua apa yang
sebenarnya terjadi?”
“Kalian… dengarlah, selama ini aku telah
meninggalkan jalan kebenaran. Namun saat ini tiba-tiba aku merasa Allah telah
mengingatkanku. Maka mulai saat ini aku ingin kembali ke jalan kebenaran, menjauhi
semua laranganNya dan menjalankan perintahNya”.
“Apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini ketua?”
“Kalian… lihatlah burung pipit itu…” ketua
perampok menunjukkan burung pipit di atas pohon kurma itu dan menceritakan kejadian
sebenarnya.
Mendengar cerita sang ketua, para komplotan
perampok itu langsung mematahkan pedang yang mereka bawa. Mereka pun mengikuti
jalan ketua perampok untuk bertaubat.
Setelah pertaubatan mereka, mereka kemudian
berniat melaksanakan ibadah haji bersama-sama. Mereka membeli pakaian ihram dan
memulai perjalanan menuju Makkah. Perjalanan ditempuh selama beberapa hari.
Setelah tiga hari tiga malam, mereka sampai di sebuah desa. Di desa tersebut
mereka bertemu dengan seorang wanita tua yang buta. Wanita itu menghampiri mereka
dan menanyakan salah satu nama diantara mereka. Mereka pun membenarkan nama
salah satu komplotan perampok yang ditanyakan wanita tua.
“Alhamdulillah. Begini Nak… anakku telah meninggal
tiga hari yang lalu dan ia meninggalkan pakaian-pakaian ini. Lalu dalam tidur
aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Beliau memintaku untuk memberikan pakaian
anakku padamu. Jadi terimalah baju ini dan pakailah”.
Mereka lalu menerima baju-baju tersebut dan
berterima kasih pada wanita tua itu. Setelah menyerahkan baju itu nenek tua
lantas pergi. Para mantan perampok itu kemudian memakai baju-baju yang
diberikan sang wanita tua dan melanjutkan perjalanan menuju tanah Makkah.
Sumber: Buku
Kisah Mimpi-Mimpi Orang Sholeh karya Muhammad Hamid