Walisongo.
Perkumpulan 9 wali di tanah Jawa. Namanya begitu tenar dan harum semerbak di
seluruh penjuru tanah Indonesia. Mereka lah yang telah berjasa besar
menyebarkan Islam di tanah Jawa bahkan Indonesia. Mereka lah yang menancapkan
tradisi Islam lewat jiwa nasionalisme budaya Jawa. Betapa hebatnya mereka. Masyhur
akan kemanfaatannya.
Lalu, ikut memfoto-copy
nama-nama beserta jumlah beliau-beliau, aku bersama para sahabat di tanah
Krapyak ikut menyematkan nama itu dalam nama keluarga persahabatan kami, “Walisongo”.
Harapan kami pula dapat memfoto-copy dan mengamalkan sikap-sikap mereka beserta
cara dakwah mereka, dimana pun dan kapan pun. Maka ini lah kami, Walisongo
dengan berbagai ciri khas kami.
![]() |
| Walisongo |
9 orang anggota, berasal dari
trio GP (Leli, Alma, Nida), trio macan (Umroh, Zida, Ci’Neng), dan trio boy
(Syamsul, Izzat, Zaky). Sebenarnya awalnya tak sengaja sama sekali grup ini
terbentuk, benar-benar hanya kebetulan semata. Tak sengaja dalam organisasi dan
beberapa moment perjuangan, kami ada di dalamnya. Berjuang bersama, sering
berjumpa, dekat dalam pertemanan, dan merasa cocok satu sama lain. Sederhana
saja seperti itu.
Karena kedekatan itu kemudian
kami membuat sebuah moment untuk berlibur, saling bersilaturahim ke rumah semua
anggota Walisongo dan juga ziaroh para wali, sebagai aplikasi contoh-contoh
sikap para Walisongo yang sebenarnya. Bertepatan pada 2-4 September 2016 pada
hari Jum’at-Minggu rencana dilaksanakan. Namun yang disayangkan beberapa
anggota tak dapat ikut karena kepentingan keluarga yang tak dapat dihindarkan. Yang
akhirnya dapat berangkat adalah aku (Umroh), Ci’Neng, Alma, Leli, Nida, Mas
Imam (suamiku, bukan anggota Walisongo), dan Rifa’i (teman yang diminta jadi
sopir).
Ø Jepara
Perjalanan kami dimulai di
Kota Jepara, kota kelahiran serta tempat tinggal Alma. Anggota Walisongo yang
paling penyabar dan puitis. Dia sangat ahli membuat puisi dan kata-kata indah.
Seperti halnya tulisan di desain kaos kami itu, adalah hasil buah pikir Alma.
Top memang. Yang tak kalah top, dialah penanggung jawab utama sekaligus ketua
panitia acara perjalanan ini. 4 jempol untuk Alma.
![]() |
| Foto bersama di depan Benteng Portugis |
Nah langkah awal kita diawali
menginap di sebuah vila di kawasan Wisata Benteng Portugis, Jepara. Malam
ketika lelah perjalanan menyeruak tubuh kami sirna seketika menerima sambutan
hangat dari keluarga Alma, dipadu dengan keelokan pemandangan di pantai Benteng
Portugis ini. Benteng Portugis sendiri merupakan salah satu monument bersejarah
pada masa penjajahan Belanda. Salah satu bukti kuat adanya perjuangan
nasionalisme pengusiran penjajah antara Mataram dan Portugis. Mau tahu sejarah
lengkapnya? Silahkan baca buku bersejarah ya.hehe
![]() |
| Gerbang masuk Benteng Portugis |
![]() |
| Pelataran pantai Benteng Portugis |
Lanjut pagi hari ketika
matahari telah menampakkan seluruh wajahnya, kami pun berdandan rapi, kemudian
menikmati pemandangan pantai. Tak lupa kami sempatkan berziaroh di makam salah
satu wali, Mbah Leseh namanya yang berada di hadapan pantai. Tak lupa pula dan
yang paling utama, kami jebrat-jebret menghabiskan beberapa giga untuk
berfoto ria. *Maklum anak muda.hehe
Perjalanan berlanjut dengan
menaiki perahu menuju pulau Mandalika, Jepara. Pada tahap ini semua sudah
disewa dan dirancang Alma beberapa bulan lalu. Kami sendiri ada yang sudah
pernah naik perahu dan ada yang belum. Nah begitu kami antri menaiki perahu
dengan bantuan tetangga Alma, kami mendengar rintihan seseorang di perahu.
Bunyi apakah itu? Ternyata... oh Leli. Dia terlalu bersemangat memanjat perahu,
begitu naik perahu ia langsung melompat kegirangan, lupa bagaimana dan betapa
gendutnya dia, *eh. Ibu Alma yang melihat tingkah Leli pun terpana, batinnya
“Ini bocah semangat amat ya?”. Al-hasil sebuah kayu di tengah perahu patah,
kakinya terperosok dan darahnya mengaliri perahu. Beberapa menit kemudian
perahu ramai oleh pertolongan pertama pada Si Leli.
![]() | |
| Foto ceria setelah aksi tragedi Leli. Lihat balutan di kakinya. |
Lanjut, ke perjalanan.
Untungnya Leli masih bisa berjalan lancar meski dengan balutan kaos kakiku itu.
langkah kami berlanjut mengarungi keindahan Pulau Mandalika. Sebuah pulau kecil
di kawasan Pantai Jepara. Salah satu pulau kekayaan Indonesia yang mengandung
keeksotisan luar biasa. Indah, sejuk, dan menanjak. Karena kami mesti naik
beberapa meter untuk beristirahat dan memetik beberapa plastik buah kweni.
![]() |
| Pulau Mandalika |
Ø Pati-Rembang
Selepas Ashar perjalan
berlanjut ke Pati, yakni ziaroh ke makam Mbah Mutamakin, Kajen, Margoyoso,
Pati. Nah mulai dari ini kami para cewek bergotong-royong memapah Si Leli yang
baru saja mulai tidak bisa berjalan karena peristiwa cedera perahu. Singkat
saja sowannya ke Mbah Mutamakin, dengan tahlil dan doa secukupnya. Nah dari
sini juga ada yang berucap “Kok nggak ada truknya tonggoku sing lewat ya?”,
ucap Ci’Neng di mobil sambil tengok kanan kiri sembari tangannya sibuk
memainkan hp.
“La ngopo to Mbak Ci’
golek trukke tonggomu?” sahut yang lain.
“Yo ra popo, meh nitip
salam wae nggo keluargaku neng omah”.
“Hahaha....” kami serempak.
“Cik.. Cik... kowe kok
gelisah ngono e, kowe pengen mampir omahmu to? Haha”
“Hehe.. iyo sih”,
jawab Ci’Neng.
“Piye cah-cah.. mampir
neng Rembang ora? Cik Neng gelisah ki loh, kangen omah kok ndadak meh nyegat
truk barang.haha”
“Piye ya? Ayo-ayo
rundingan”.
Akhirnya disepakati setelah
dari Juwana mampir ke Mojorembun, Kaliori, Rembang, tanah kelahiranku dan
Ci’neng. Kenapa Ci’Neng galau? Karena rencananya memang tidak mampir Rembang,
sebab kami dan teman-teman Walisongo sudah sering mampir ke Mojorembun. Tapi..
untuk sahabat kami, kami rela merubah rencana. Rencana yang membuat Ci’neng tak
lagi gelisah akan nyegat truk.hahaha.
Lalu perjalanan berlanjut ke
Langgenharjo, Juwana, Pati, di tanah kelahiran dan rumah orang tua Mas Imam
(suami saya). Setengah 7, selepas maghrib kami sampai dan selepas isya’ kami
berlanjut ke Rembang.
Rembang berjumpa kembali. Di
sinilah kemarin anggota Walisongo hadir dan berkumpul dalam acara pernikahanku,
satu setengah bulan lalu. Kini kami berkumpul lagi. Berkumpul dan
bersilaturahim di rumahku dan Ci’Neng. Meski singkat namun kami sama-sama bahagia.
Orang tua kami tak kalah bahagia menyambut kedatangan anak-anak bersama para
sahabatnya. Nah Ci’neng ini anggota Walisongo yang paling jahil, suka menggoda
teman-teman yang lain, suka menjodoh-jodohkan temannya, tapi jika dia
dijodoh-dijodohkan juga tak mau. Berjuluk Bu DPR, karena bekerja di DPR. Ahli
bidang jurnalis dan sastra, kami pun punya kata ciri khas untuknya. “Memeluk,
mendekap”, kata-kata yang selalu ada di tulisan Ci’Neng.
Ø Kudus
Pukul 21.00 WIB perjalanan
berlanjut ke Kudus, kota kelahiran sekaligus tempat tinggal Nida. Anggota
Walisongo berkaca mata, yang paling sipit, paling hobi tertawa, dan paling
rajin bobok di mobil. Ini anggota yang barusan mendapat gelar sarjana dari UIN
Sunan Kalijaga dan dalam hitungan hari bakalan boyong ke tanah kelahirannya
meninggalkan Jogja Istimewa.
Begitu sampai di Kudus, pukul
22.30 kami disambut hangat oleh keluarga Nida. Beberapa suguhan tersaji di
meja, melambai-lambai untuk dinikmati. Tapi kami hanya memandanginya sambil
menikmati rasa kantuk. Sayang sekali, maaf wahai para teh dan jajan di meja,
kami hanya butuh kasur. Lalu... setelah dipersilahkan kami pun berlomba
memejamkan mata, beristirahat.
Pagi harinya, setelah sarapan
dan dandan rada cantik kami lanjut sowan berziaroh ke Sunan Kudus. Dan diajak foto
bareng di depan menara oleh Alma. Seumur-umur aku tinggal di Kudus, baru kali
ini aku foto di Menara Kudus.
![]() |
Ø Semarang
Selepas dari Kudus perjalanan
berlanjut ke Semarang, kota kelahiran sekaligus tempat tinggal Leli. Anggota
Walisongo yang barusan cedera perahu, paling rame, paling koplak, paling
ekspresif kalau foto. Dialah satu-satunya ragil di Walisongo. Si ragil kesayangan
Babenya dari 7 bersaudara. Sejenak beristirahat, sambil memandangi para
peliharaan Leli di samping rumahnya. Puluhan sapi dan kambing gemuk-gemuk yang
siap disediakan bagi para pencari hewan kurban.
Ternyata para hewan itu tak
hanya dibiarkan hidup saja, tapi juga sengaja disembelih untuk kami para
tamunya. Maka menu makan siang kali ini tengkleng kambing dan daging sapi.
“Pantes Leli gendut, la makanannya kayak ginian”, batin kami. Bagi para pecinta
kambing makanan langsung disikat habis. Dan ternyata semua pecinta daging
kambing, kecuali aku yang tak dapat makan kambing. Alhamdulillah.
Ø Yogyakarta
Pukul 15.00 kami bertolak
dari Semarang menuju Yogyakarta kembali. Perjalanan telah usai, misi
terlaksana. Semua bahagia. Semua puas. Silaturahim terjalin erat. Dan semoga
akan selalu bermanfaat perjalanan ini dan terutama persahabatan ini.
Kami berharap selanjutnya
dapat melakukan perjalanan kembali lengkap dengan anggota Walisongo yang lain.
-
Ada Mbak Zida, pejuang asal
Pekalongan, bersuara merdu, anggota Walisongo yang paling Gendut, paling
keibuan, paling dermawan yang sedang berjuang untuk skripsinya.
-
Ada Izzat, santri Krapyak
asalnya juga Krapyak, Yogyakarta. Si kepala madin, kriting, kalau panjang
rambutnya seperti pohon beringin, sok cool, jutek, datar, gengsian tapi
sebenarnya seneng curhat dan sayang pada kita semua. Misinya mencari istri yang
lebih muda dan galak.
-
Ada Syamsul, penabuh rebana
asal Demak. Ahli dalam segala hal tentang rebana, kurus, anak Kodama yang
paling supel, koplak, suka maen, dia yang selalu kerja keras membantu temannya.
-
Ada Zaki, ahli sate asal
Madura tinggal di Krapyak. Agak pendiam tapi setia kawan. Sekarang sedang sibuk
membahagiakan istrinya, menjalin keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah.
![]() |
| Anggota Walisongo yang lain |
Inilah jargon kami: “Kuncoro tanpo woro-woro, digdoyo tanpo aji
mandraguno, senjoto kalimosodo”. Artinya: “Masyhur tanpa mengumumkan diri
(koa-koar), kuat perkasa tanpa jurus dan ajian mandraguna, bersenjata kalimat
syahadat”.
Demikian cerita panjangku. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.
Jejeran-Wonokromo, 5 September 2016













tentang kalian, tinta ini tak akan mampu membahasakan kata. sungguh sangat cinta....paling ngakak ketika dalam tulisan ini disebut kriting. semoga mimpiku, mimpi kita dipeluk erat tuhan. terimakasih dan sayang kalian
BalasHapus