24 Okt 2015

Selamat Ulang Tahun UM ^_^

"Selamat Ulang Tahun UM...” kataku sambil tersenyum. Kata itu yang pertama kali aku ingat saat aku terbangun di pagi hariku. Entahlah... hari ini bagiku begitu spesial. Aku ingin memberi selamat sepuasnya pada diriku hari ini, selama lebih dari 20 tahun hidup di dunia ini. Belum sampai memperdulikan siapa yang akan mengucapkan kata itu setelah diriku, belum sampai peduli siapa saja yang akan mengucapkan kalimat itu hari ini. Namun... aku nyatanya aku mempedulikannya.
19 Oktober. Tiap tahun tanggal itu selalu berisi kenangan dan kesan berbeda. Namun bagaimanapun peristiwa yang meliputinya, aku tetap bahagia untuk diriku sendiri. Hari ini... bahagia itu terasa bertumpuk mesti tak sempurna. Puluhan ucapan selamat mengalir lewat berbagai media sosial, seperti Facebook, BBM, WA, Messenger, sms, dan ucapan langsung. Bisa dikatakan tangan dan mulutku sibuk tuk membalas semua ucapan itu.
Sore hari kemudian, bukan hanya sekedar ucapan yang aku terima tapi juga tindakan. Beberapa penghuni kos sukses menyiramku beberapa adonan ke tubuhku. Telor, tepung, dan entah benda apa lagi, ditambah siraman beberapa ember air. Tak bisa dibayangkan betapa kacaunya diriku. Meski parah, tapi terima kasih kawan-kawan atas adonannya.hahaha.
Perayaan selanjutnya pun berada di kamarku sendiri. Kamar kosku yang begitu sempit mendadak dipenuhi sebagian besar penghuni lain. Sesak. Mereka sengaja berkumpul untuk sedikit berpesta dan mengucapkan berbagai doa untukku. Sungguh mengharukan. Rupanya tak berselang lama rombongan lain yang biasa disebut trio GP diam-diam datang membawa kejutan dan kado menyenangkan. Oh... terima kasih kawan.... aku bahkan tak pernah menduga hal itu sama sekali. 

Hari belum berakhir, malam masih terus bergulir. Sang malam amat bersahabat denganku, karena hari ini memang benar-benar untukku. Malam hari di masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari kosku, sedang menggelar burdahan yang cukup meriah. Meski momentnya kebetulan, bagiku itu suatu keberkahan. Berkah sholawat dan ulang tahun. Lewat lantunan sholawat beriring tabuhan rebana itu doa bergulir. Indah didengar, khusyuk dirasa. Aku merasa acara itu bagian dari perayaan hariku, bagian doa itu adalah untukku. Perayaan spesial untuk Kanjeng Nabi itu aku ambil alih juga sebagai bagian perayaanku. Aku yakin Beliau takkan marah, bahkan bisa jadi ikut mendoakanku yang saat ini juga berbahagia menyambut kedatangannya. Ya Rasululallah... di hari spesialku ini, doakan aku serta berilah aku syafaatmu untuk sowanku pada-Nya.
Begitulah hariku. Maka kuucapkan terima kasih pada semuanya, atas ucapan, doa dan hadiah yang diberikan padaku. Semoga kebaikan-kebaikan itu terbalaskan dan doa-doa itu juga akan kembali pada yang mendoakan. Amiin. Dan di akhir tulisan ini, aku ingin mengucapkan ucapan selamatku pada diriku. Ucapan sesungguhnya dari sanubariku yang terdalam.

Selamat Ulang Tahun UM...
Kau pasti bahagia untuk hari ini
Kau pasti tak berhenti tersenyum untuk hari ini
Kau pasti berbinar pada hari ini

Selamat Ulang Tahun UM...
Aku pun amat berbahagia sepertimu
Aku pun ikut merayakannya sepertimu
Aku pun tak berhenti tersenyum untukmu

Selamat Ulang Tahun UM...
Semakin berkurang saja jatah kehidupanmu
Semakin menua saja detak jantungmu
Semakin cepat saja hari-harimu

Selamat Ulang Tahun UM...
Sudah sesenja ini langkahmu, apa kau sudah puas?
Sudah sejauh ini penjelajahanmu, apa kau sudah lelah?
Sudah selama ini perjalananmu, apa kau sudah sukses?
Apakah seperempat dari keinginanmu telah terwujud?
Apakah setonggak impianmu telah menjadi nyata?
Apa kau telah membuatku tersenyum?

Selamat Ulang Tahun UM...
Sungguh “Belum” untuk semua pertanyaanku padamu
Kau bahkan belum mampu menggoreskan senyum di wajahku
Kau belum mampu meneduhkan pandanganku
Kau belum mampu merangkul tubuhku
Kau belum mampu menggenggam tanganku

Selamat Ulang Tahun UM...
Dengarkan hatiku UM
Berjanjilah padaku UM
Semenjak hari ini kau tetap diriku
Saat kau mampu menggenggam janjimu

Berjanjilah untuk membuat kedua sosok itu tersenyum
Buat mereka menitikkan tetes bahagia
Saat kau mendekap mereka berada di atas semua impianmu
Berjanjilah untuk membuat mereka embun pagimu bahagia
Saat kau bermanfaat untuk mereka
Berjanjilah untuk membuatNya bangga
Saat tundukmu di setiap hembusan nafasmu
Berjanjilah untuk membuatnya cinta
Saat cinta dan teladanmu padanya
Berjanjilah
Berjanjilah UM

Selamat Ulang Tahun UM...
Aku selalu mendoakanmu setiap detak jantungmu
Aku selalu mendoakanmu setiap gerakan tubuhmu
Aku selalu mendukungmu untukku dan untukmu
Selamat Ulang Tahun UM ^_^

Selamat Ulang Tahun UM ^_^

"Selamat Ulang Tahun UM...” kataku sambil tersenyum. Kata itu yang pertama kali aku ingat saat aku terbangun di pagi hariku. Entahlah... hari ini bagiku begitu spesial. Aku ingin memberi selamat sepuasnya pada diriku hari ini, selama lebih dari 20 tahun hidup di dunia ini. Belum sampai memperdulikan siapa yang akan mengucapkan kata itu setelah diriku, belum sampai peduli siapa saja yang akan mengucapkan kalimat itu hari ini. Namun... aku nyatanya aku mempedulikannya.
19 Oktober. Tiap tahun tanggal itu selalu berisi kenangan dan kesan berbeda. Namun bagaimanapun peristiwa yang meliputinya, aku tetap bahagia untuk diriku sendiri. Hari ini... bahagia itu terasa bertumpuk mesti tak sempurna. Puluhan ucapan selamat mengalir lewat berbagai media sosial, seperti Facebook, BBM, WA, Messenger, sms, dan ucapan langsung. Bisa dikatakan tangan dan mulutku sibuk tuk membalas semua ucapan itu.
Sore hari kemudian, bukan hanya sekedar ucapan yang aku terima tapi juga tindakan. Beberapa penghuni kos sukses menyiramku beberapa adonan ke tubuhku. Telor, tepung, dan entah benda apa lagi, ditambah siraman beberapa ember air. Tak bisa dibayangkan betapa kacaunya diriku. Meski parah, tapi terima kasih kawan-kawan atas adonannya.hahaha.
Perayaan selanjutnya pun berada di kamarku sendiri. Kamar kosku yang begitu sempit mendadak dipenuhi sebagian besar penghuni lain. Sesak. Mereka sengaja berkumpul untuk sedikit berpesta dan mengucapkan berbagai doa untukku. Sungguh mengharukan. Rupanya tak berselang lama rombongan lain yang biasa disebut trio GP diam-diam datang membawa kejutan dan kado menyenangkan. Oh... terima kasih kawan.... aku bahkan tak pernah menduga hal itu sama sekali. 

Hari belum berakhir, malam masih terus bergulir. Sang malam amat bersahabat denganku, karena hari ini memang benar-benar untukku. Malam hari di masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari kosku, sedang menggelar burdahan yang cukup meriah. Meski momentnya kebetulan, bagiku itu suatu keberkahan. Berkah sholawat dan ulang tahun. Lewat lantunan sholawat beriring tabuhan rebana itu doa bergulir. Indah didengar, khusyuk dirasa. Aku merasa acara itu bagian dari perayaan hariku, bagian doa itu adalah untukku. Perayaan spesial untuk Kanjeng Nabi itu aku ambil alih juga sebagai bagian perayaanku. Aku yakin Beliau takkan marah, bahkan bisa jadi ikut mendoakanku yang saat ini juga berbahagia menyambut kedatangannya. Ya Rasululallah... di hari spesialku ini, doakan aku serta berilah aku syafaatmu untuk sowanku pada-Nya.
Begitulah hariku. Maka kuucapkan terima kasih pada semuanya, atas ucapan, doa dan hadiah yang diberikan padaku. Semoga kebaikan-kebaikan itu terbalaskan dan doa-doa itu juga akan kembali pada yang mendoakan. Amiin. Dan di akhir tulisan ini, aku ingin mengucapkan ucapan selamatku pada diriku. Ucapan sesungguhnya dari sanubariku yang terdalam.

Selamat Ulang Tahun UM...
Kau pasti bahagia untuk hari ini
Kau pasti tak berhenti tersenyum untuk hari ini
Kau pasti berbinar pada hari ini

Selamat Ulang Tahun UM...
Aku pun amat berbahagia sepertimu
Aku pun ikut merayakannya sepertimu
Aku pun tak berhenti tersenyum untukmu

Selamat Ulang Tahun UM...
Semakin berkurang saja jatah kehidupanmu
Semakin menua saja detak jantungmu
Semakin cepat saja hari-harimu

Selamat Ulang Tahun UM...
Sudah sesenja ini langkahmu, apa kau sudah puas?
Sudah sejauh ini penjelajahanmu, apa kau sudah lelah?
Sudah selama ini perjalananmu, apa kau sudah sukses?
Apakah seperempat dari keinginanmu telah terwujud?
Apakah setonggak impianmu telah menjadi nyata?
Apa kau telah membuatku tersenyum?

Selamat Ulang Tahun UM...
Sungguh “Belum” untuk semua pertanyaanku padamu
Kau bahkan belum mampu menggoreskan senyum di wajahku
Kau belum mampu meneduhkan pandanganku
Kau belum mampu merangkul tubuhku
Kau belum mampu menggenggam tanganku

Selamat Ulang Tahun UM...
Dengarkan hatiku UM
Berjanjilah padaku UM
Semenjak hari ini kau tetap diriku
Saat kau mampu menggenggam janjimu

Berjanjilah untuk membuat kedua sosok itu tersenyum
Buat mereka menitikkan tetes bahagia
Saat kau mendekap mereka berada di atas semua impianmu
Berjanjilah untuk membuat mereka embun pagimu bahagia
Saat kau bermanfaat untuk mereka
Berjanjilah untuk membuatNya bangga
Saat tundukmu di setiap hembusan nafasmu
Berjanjilah untuk membuatnya cinta
Saat cinta dan teladanmu padanya
Berjanjilah
Berjanjilah UM

Selamat Ulang Tahun UM...
Aku selalu mendoakanmu setiap detak jantungmu
Aku selalu mendoakanmu setiap gerakan tubuhmu
Aku selalu mendukungmu untukku dan untukmu
Selamat Ulang Tahun UM ^_^

4 Okt 2015

Jadi Jurnalis, Asyik Loh..!!!

Jurnalistik. Kata itu seringkali kita dengar, apalagi dalam dunia media. Jurnalistik itu apa ya? Jurnalistik adalah segala aktifitas yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berkaitan dengan tulis-menulis dan diumumkan. Kemudian orang yang melakukan aktifitas itu dinamakan jurnalis. Seorang jurnalis wajib memiliki tiga senjata penting, yakni: buku, pulpen atau pensil, dan hp (untuk rekaman dan foto). Berbicara tentang jurnalis, apa sebenarnya keasyikan jadi jurnalis? banyak. Di bawah ini beberapa diantaranya keuntungan dan keasyikan jadi jurnalis, berdasarkan riset dan pengalaman pribadi.
v  Bisa jalan-jalan dan berpetualang ke beberapa daerah.
Jurnalis itu kerjanya di lapangan, muter-muter cari berita dan liputan di berbagai daerah. Kalau nggak ke lapangan dia tak akan dapat berita. Ini menguntungkan, karena kita punya pengalaman ke berbagai daerah, bisa menikmati alam dan suasana dunia luar.
v  Tambah kenalan & link
Kita dapat berinteraksi dan berkenalan dari berbagai lapisan masyarakat, dari yang nggak terkenal sampai yang sangat terkenal. Sehingga kita juga dapat belajar menata bahasa dan sopan santun kita saat bertemu mereka.
v  Menjadi pribadi yang berani
Mental kita terlatih untuk berinteraksi dengan siapapun, terlatih untuk berkata apapun, dan terlatih untuk menghadapi resiko apapun.
v  Nambah ilmu
mestinya ilmu kalau mau wawancara orang kudu belajar dulu. Nah setelah wawancara orang juga dapat ilmu & motivasi.
v  Nambah pemasukan
Kita mendapatkan uang jajan saat tulisan kita sudah jadi dan terpampang di media. Selain itu terkadang saat liputan kita dapat oleh-oleh dari orang yang kita wawancarai.
v  Tulisan bermanfaat
Kepuasan sesungguhnya jadi jurnalis adalah ketika tulisan kita dibaca orang lain kemudian memberikan manfaat bagi pembaca. Bisa jadi kriteria ilmu yang bermanfaat juga (semoga).
Nah untuk menjadi jurnalis ada beberapa syarat yang kudu dipenuhi:
1.      Baiatkan diri sebagai jurnalis
Kalau kita udah berani bilang kita seorang jurnalis maka akan ada naluri untuk suka dan menikmati dunia jurnalistik.
2.      Kudu siap Suka Nulis, siap Belajar Nulis, & siap Selalu Nulis.
Itu udah kewajiban seorang jurnalis. Jadi kalau nantinya kita dapat tugas buat nulis sebuah rubrik harus siap, supaya siap ya harus belajar, belajarnya dengan rajin nulis. Nah kita juga jangan heran atau jengkel kalau nantinya diuber-uber sama pimred buat nyerahin tulisan karena udah deadline.hehe
3.      Taat sama waktu (ontime)
Ini penting bangeet.
Pertama, janjian wawancara sama orang harus ontime, kalau nggak kamu bakal kena pandangan negatif sama beliau, atau bisa jadi malah ditinggal pergi, nggak jadi wawancara malahan.
Kedua, saat liputan ini kudu ontime. Misalnya liputan pertandingan sepak bola. Sepak bola mulainya jam 10.00, kamu datengnya 10.15 ya telaat... ketinggalan berita.
Ketiga, deadline penyerahan tulisan harus tepat waktu, karena ini berpengaruh dengan pekerjaan selanjutnya, yaitu: editing, layout, cetak, dan penyebaran. Nah kalau tulisannya telat ya majalahnya terbitnya telat. Kasihan, pembacanya.hehe
Menjadi seorang jurnalis itu 20% bakat, 30% seneng, dan 50% latihan. Yang terpenting adalah selalu latihan menulis dan menyukai jurnalistik, sedangkan bakat itu bisa dipupuk dan diasah kok.
Begitu beberapa hal terkait asyiknya jadi seorang jurnalis. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.