Sebagai seorang penggemar Mbah KH. Musthofa Bisri aku mencatat beberapa puisi menarik menurutku. Berikut ini puisi-puisi beliau.
REMBANG
Ketika
langit menyiramkan hujannya
kau
kebagian gerimisnya
ketika
matahari membagi sinarnya
kau
kebagian teriknya
ketika
laut mengibahkan ikan-ikannya
kau
kebagian amisnya
dan
keringatmu hanya menghasilkan
garam
penambah perih luka
o,
kota kemarauku
pohon-pohon
asam
yang
menjaga jalanmu
pohon-pohon
tanjung
yang
menghias alun-alunmu
seperti
raden-ajeng-kartini-mu
yang
menjadi tugu tinggal jadi
cerita
tahunan para pensiunan
(nelayan-nelayan-telanjang-mu
Kuli-kuli-tambak-mu
Petani-petani-tadah-hujan-mu
pencari-pencari-kayu-krecek-mu
pencuri-pencuri-hutan-mu
apalagi
pengemis-pengemis-pasar-mu
mana
tahu raden-ajeng-mu?)
o,
jiwa kemarauku
mereka
yang lalu-lalang mengejar sesuatu
hanya
melewatimu, sayang
seperti
matahari, angin, dan awan
Matahari,
Siap?
Matahari,
siap?
Tak
perlu kita tunggu
Bulan
ayo berangkat
Trobos
gelap
Yang
membungkus jagad!
Tembakkan
cahayamu
Kemana
saja biar aku
Yang
memunguti
Bayang-bayang
berkaparan
Ku
timbun di sini tembaki lagi!
Yang
lepas biar bulan
Yang
mencarinya
Sampai
kita bangkit lagi
Dari
rehat kita yang sekejap.
Kepada
Semut
Kepada
semut rayap berucap
Kami
pun semut, jangan takut!
Kepada
rayap kecoa berkata
Kami
rayap juga, jangan curiga!
Kepada
kecoa tikus mendengus
Kami
kecoa lihatlah, jangan salah!
Kepada
tikus ular berucap
Kami
juga tikus ini, jangan sangsi!
Kepada
ular manusia berbicara
Kami
ular kok mas, jangan cemas!
Aku
Burung
Aku
burung yang pulang ke sarang
Bukan
karena lelah terbang
Tapi
sekedar menghibur rindu
Pada
damai yang selalu
Mengusik
mimpi
Dalam
perjalanan
Selama
ini.
Berteriak
Seniman
yang berseni tiba-tiba berteriak
Tidaaaaaaaaaak!
Pemikir
yang berpikir tiba-tiba berteriak
Tidaaaaaaaaaak!
Mahasiswa
yang kuliah tiba-tiba berteriak
Tidaaaaaaaaaak!
Kiai
yang mengaji tiba-tiba berteriak
Tidaaaaaaaaaak!
Mubaligh
yang berkhotbah tiba-tiba berteriak
Tidaaaaaaaaaak!
Wartawan
yang merekam tiba-tiba berteriak
Tidaaaaaaaaaak!
Penguasa
yang berkuasa tiba-tiba berteriak
Tidaaaaaaaaaak!
(Aku
pun dan kawan-kawanku yang cukup banyak menyembunyikan mulut dan kupingku dalam
sajak)