"Kesempatanku denganmu.”
Kata-kata
itu masih terngiang jelas dalam pikiranku. Hampir tiap waktu selama tiga hari
ini kalimat itu selalu menghantui pikiranku. Kata-kata terakhir yang ku dengar
dari Surur, sahabatku. Tak hanya terngiang, kata-kata itu bagaikan duri yang
menancap dalam-dalam dan begitu susah tuk dilepaskan. Sebuah duri yang hingga
kini membuahkan rasa penyesalan mendalam segenap hatiku. Maka tanpa komando peluh
bening pun kembali mengalir di kedua pipiku, mengiringi memori itu.
“Surur...,
dimana kamu?” ucapku lirih di tengah kesepianku, di halaman asrama ini saat aku
duduk sendiri di sebuah kursi kayu di bawah payung-payung hijau yang teduh.
“Kuni....
kamu masih di sini?”, sebuah suara yang ku kenal sebagai Ifah terdengar dari
arah belakangku. Meski belum ku tolehkan wajahku, tapi aku pikir tak mungkin
aku salah menebaknya. Sudah tiga tahun aku mengenalnya, tepatnya setahun
sebelum mengenal Surur.
“Ya, di
sini udaranya segar, di kamar suntuk.” Sambil ku tolehkan kepalaku.
“Ku
harap kau memilih tempat ini bukan karena kenanganmu masih memikirkan Surur”,
Ifah berharap.
“Tapi
sayangnya harapanmu itu tak terpenuhi. Semalem aku kembali memimpikan dia. Aku
melihatnya tersenyum kepadaku, ia menggodaku kalau aku sedang merindukannya.
Aku belum bisa melupakannya Fah, aku yakin suatu saat dia akan kembali... aku
sangat yakin..” ucapku sambil terisak.
“Aku tahu perasaanmu Kun,.. tapi yang bisa kita
lakukan hanyalah berusaha dan berdoa. Polisi masih berusaha mencarinya, kita
pun sudah mengerahkan warga sekitar tempat itu dan orang-orang yang kita kenal
untuk mencarinya. Keyakinanmu adalah harapan terbesarmu, jadi ku harap jangan
kau terus bersedih.”
Aku pun
langsung memeluk erat Ifah, menenggelamkan semua kesedihanku bersamanya. Aku
tahu Ifah begitu peduli padaku, ia salah seorang teman dekatku di asrama ini.
###
Seminggu
sebelumnya.
“Maen ke
pantai yuk berdua!”, ajak Surur yang secara mengejutkan menghadapkan wajahnya
ke arahku. Mengangkat alisnya dengan senyum khasnya yang seakan menggodaku.
Tapi dari tatapan matanya ku tahu ia tak bercanda.
“Aku
sibuk” jawabku singkat.
“Kayaknya
asyik pagi-pagi habis subuh ke pantai, udaranya masih fresh banget agak
dingin-dingin gitu, efeknya mampu menjernihkan suasana hati yang ruwet, dan
tentu akan memunculkan senyum indah enak dipandang... nggak kayak wajah di
depanku ini”, Surur masih merayu sambil mengangkat kepalanya, mengarahkan
pandangannya ke atas, terlihat jelas ia sedang memainkan imajinasinya.
“Kita bisa kan bertindak biasa ja? Aku ingin
semuanya biasa di depan orang-orang Surur,” jawabku datar.
“Kuni sahabatku tersayaaaaaang... aku mengerti
perasaanmu, aku paham apa yang kamu maksudkan. Tapi.. untuk sekali-kali lah,
sudah tiga minggu kita nggak jalan bareng loh...”
“Surur sayaaang... kita udah sering
melakukannya dulu to? Jalan bareng. Tapi sekarang keadaannya berbeda, aku hanya
ingin kita tak sesering dulu atau seerat dulu. Ada orang-orang di luar sana
yang mungkin ingin bersamamu, atau bersamaku”.
“Hmmmm... kamu khawatir Ifah canggung pada kita
ya? Hahaha, tenang saja meski kadang ia iri padaku, tapi ia teman yang baik
bagimu. Aku pernah bercerita padamu. Dulu aku pernah mengalami persahabatan
yang pecah, karena kesalahan komunikasi. Kami benar-benar berbeda sekarang, bahkan
seperti tak pernah terjalin apa-apa, sekalipun aku udah mencobanya lagi. Tak
tahu kenapa terjadi. Dan itu bagiku benar-benar menyakitkan, sakit yang tahu
apa obatnya. Aku hanya ingin menggunakan kesempatan bersamamu, karena keadaan
nanti akan berbeda. Aku yakin kita pun bisa membawa hubungan baik dengan
orang-orang di luar sana. Percayalah padaku Kun...” kini nada bicara Surur
mulai merendah dan serius.
“Aku mengerti Sur... tapi...” belum selesai
kata-kataku, ia udah memutusnya.
“Ssstt...... aku pengen ke toilet dulu..hahaha”
“Dasar Surur jelek!!!”
Seperti
itulah ia.. dalam tiap tindakannya selalu dipenuhi kejahilan-kejahilan yang
kadang membuatku jengkel. Tapi harus ku akui sikapnya yang terlihat agak
kekanak-kanakan mampu melengkapi sikapku yang lebih dewasa, begitu kata
orang-orang.
###
“Haloooo
penghuni kamar pojok...” sapa Surur tiba-tiba mengejutkanku yang sedang asyik
mengerjakan tugas kuliah.
“Walah kamu nyebelin selalu. Sana
pergi-pergi... ganggu saja,” jawabku ketus.
“Hahaha... WEEEK. Aku kuliah dulu ya.. nanti
mesti kangen nek nggak ada aku, hahaha”, goda Surur.
Ia pun pergi sambil puas menertawakanku.
“Nggak bakal Yoooo....” kataku setengah
berteriak.
Setelah
kejadian pagi itu, Surur tak pernah menjahiliku lagi, bahkan tak terdengar
kabar tentangnya. Aku pun biasa menanggapinya, “maen mungkin” pikirku. Karena
memang ia berbeda kamar denganku. Namun yang mengejutkan bagiku adalah ketika
keesokan harinya aku menerima telpon dari teman kampusnya bahwa Surur mengalami
kecelakaan sepeda motor. Menurut keterangan polisi, di suatu jalan dengan medan
berkelok naik-turun ia bertabrakan dengan sebuah truk sehingga ia pun terjatuh
di jurang yang agak dalam dan kemungkinan ia hanyut ke sungai yang jaraknya tak
jauh dari tempat itu.
Aku
benar-benar terpaku mendengar kabar itu, spontanitas air mataku deras mengaliri
kedua pipiku. Dengan diantar Ifah, akupun datang melihat TKP. Disana ku lihat
orang-orang dan beberapa polisi masih ramai berembug dan mencari Surur. Ku
lihat speda motor Surur yang rusak tertabrak truk, dan tas punggung berisi
barang-barangnya. Ia pasti tak memakai tasnya dan meletakkannya di bagian depan
tempat duduk. Di tempat itu aku hanya bisa diam, terpaku dan tak tahu apa yang
ku pikirkan.
Hingga kini, Surur belum juga ditemukan. Tak ada yang tahu apakah
ia masih hidup, terdampar di pemukiman penduduk dengan luka-luka yang ia
derita. Atau bahkan ia tak terselamatkan lagi. Aku tak berani memikirkan
pilihan kedua. Aku hanya dapat berdoa setidaknya pilihan pertama dengan keadaan
baik-baik saja. Aku pun yakin bahwa suatu saat ia akan datang menemuiku
kembali. Kembali akan menjahiliku, dan tersenyum misterius padaku.
###
“Kun... jika kau mengalami hal sepertiku.. apa yang akan kau
lakukan? Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyanya suatu hari. Wajahnya
menampakkan keputusasaan, menandakan sebuah masalah besar menghantamnya.
“Kau
lihat kau lihat bintang itu Sur........” kataku padanya. Saat itu kami berada
di gedung lantai 3 di asrama kami. Lantai tertinggi tak beratap. Tak ada yang
menghalangi pandangan kami untuk memandangi indahnya para bintang.
Bintang-bintang yang bersinar terang mendampingi bulan sabit di sebelahnya.
Kami menatapnya, sambil saling bercerita. Ku rangkul pundak sahabatku. Sebuah
rangkulan yang tak ingin kulepas darinya.
Kenangan itu muncul begitu saja dalam mimpiku. Begitulah, tiap
malam kenangan tentangnya muncul. Pernah pada suatu hari, saat aku mengikuti
perkuliahan di kelas dari jendela kelas ku lihat Surur tersenyum dan
menggodaku, ia menjulurkan lidahnya ke arahku. Aku pun tersenyum balik dan
membalas juluran lidahnya. Aku baru tersadar setelah seorang temanku
memanggilku. Semua itu hanya halunisasi, dan kupikir aku baru saja terlihat
seperti orang aneh. Pernah juga pada suatu hari saat aku berjalan di halaman
asrama, ku lihat seseorang duduk di bangku di bawah payung-payung hijau. Dengan
wajah sumringah aku menghampirinya. “Surur...” kataku. “Kuni...” kata orang
itu. “Kamu mengantuk ya? Masak memanggilku Surur.”
“Maaf,
ya aku agak ngantuk.”
Suatu
siang hpku berdering. Ku lihat nama yang tercatat di panggilan masuk itu.
SURUR. Tanganku gemetar, tak tahu apa yang kurasakan, yang jelas pada saat itu
aku merasa sangat bahagia. Keyakinanku ia kembali akan terwujud. Ia memang
selalu mengejutkanku.
“Halo Surur..... kemana saja kamu? Dimana kamu
sekarang?”
“Halo juga.. maaf Mbak Kuni, saya bukan Surur,
saya Tantri.”
“Oh ya... maaf. Surur dimana?”
“Dia tidak bisa langsung menghubungimu Mbak.
Saya menemukannya terluka parah tiga hari yang lalu di sungai dekat rumah saya.
saya hanya menemukan sebuah Hp rusak di sakunya dan saya lihat sms-sms di kartu
memorinya yang tertulis Kuni. Saya yakin pilihan tepat jika saya menghubungimu
Mbak. Saya dan keluarga merawatnya, tapi....... pagi lalu teman Mbak telah
menghembuskan nafas terakhirnya.”
“Sur... Surur....”
“Halo...halo Mbak.....”
Tuutt... tuutt... tuuttt. Telepon terputus. Aku
tertunduk lemas. Air mataku mengalir. Aku memejamkan mata, pikiranku hanya
bertulis kata-kata terakhir Surur.
Yogyakarta, 26 Okt 2013

