10 Jun 2015

KESEMPATANKU DENGANMU



"Kesempatanku denganmu.”
Kata-kata itu masih terngiang jelas dalam pikiranku. Hampir tiap waktu selama tiga hari ini kalimat itu selalu menghantui pikiranku. Kata-kata terakhir yang ku dengar dari Surur, sahabatku. Tak hanya terngiang, kata-kata itu bagaikan duri yang menancap dalam-dalam dan begitu susah tuk dilepaskan. Sebuah duri yang hingga kini membuahkan rasa penyesalan mendalam segenap hatiku. Maka tanpa komando peluh bening pun kembali mengalir di kedua pipiku, mengiringi memori itu.
“Surur..., dimana kamu?” ucapku lirih di tengah kesepianku, di halaman asrama ini saat aku duduk sendiri di sebuah kursi kayu di bawah payung-payung hijau yang teduh.
“Kuni.... kamu masih di sini?”, sebuah suara yang ku kenal sebagai Ifah terdengar dari arah belakangku. Meski belum ku tolehkan wajahku, tapi aku pikir tak mungkin aku salah menebaknya. Sudah tiga tahun aku mengenalnya, tepatnya setahun sebelum mengenal Surur.
“Ya, di sini udaranya segar, di kamar suntuk.” Sambil ku tolehkan kepalaku.
“Ku harap kau memilih tempat ini bukan karena kenanganmu masih memikirkan Surur”, Ifah berharap.
“Tapi sayangnya harapanmu itu tak terpenuhi. Semalem aku kembali memimpikan dia. Aku melihatnya tersenyum kepadaku, ia menggodaku kalau aku sedang merindukannya. Aku belum bisa melupakannya Fah, aku yakin suatu saat dia akan kembali... aku sangat yakin..” ucapku sambil terisak.
“Aku tahu perasaanmu Kun,.. tapi yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha dan berdoa. Polisi masih berusaha mencarinya, kita pun sudah mengerahkan warga sekitar tempat itu dan orang-orang yang kita kenal untuk mencarinya. Keyakinanmu adalah harapan terbesarmu, jadi ku harap jangan kau terus bersedih.”
Aku pun langsung memeluk erat Ifah, menenggelamkan semua kesedihanku bersamanya. Aku tahu Ifah begitu peduli padaku, ia salah seorang teman dekatku di asrama ini.
###
Seminggu sebelumnya.
“Maen ke pantai yuk berdua!”, ajak Surur yang secara mengejutkan menghadapkan wajahnya ke arahku. Mengangkat alisnya dengan senyum khasnya yang seakan menggodaku. Tapi dari tatapan matanya ku tahu ia tak bercanda.
“Aku sibuk” jawabku singkat.
“Kayaknya asyik pagi-pagi habis subuh ke pantai, udaranya masih fresh banget agak dingin-dingin gitu, efeknya mampu menjernihkan suasana hati yang ruwet, dan tentu akan memunculkan senyum indah enak dipandang... nggak kayak wajah di depanku ini”, Surur masih merayu sambil mengangkat kepalanya, mengarahkan pandangannya ke atas, terlihat jelas ia sedang memainkan imajinasinya.
“Kita bisa kan bertindak biasa ja? Aku ingin semuanya biasa di depan orang-orang Surur,” jawabku datar.
“Kuni sahabatku tersayaaaaaang... aku mengerti perasaanmu, aku paham apa yang kamu maksudkan. Tapi.. untuk sekali-kali lah, sudah tiga minggu kita nggak jalan bareng loh...”
“Surur sayaaang... kita udah sering melakukannya dulu to? Jalan bareng. Tapi sekarang keadaannya berbeda, aku hanya ingin kita tak sesering dulu atau seerat dulu. Ada orang-orang di luar sana yang mungkin ingin bersamamu, atau bersamaku”.
“Hmmmm... kamu khawatir Ifah canggung pada kita ya? Hahaha, tenang saja meski kadang ia iri padaku, tapi ia teman yang baik bagimu. Aku pernah bercerita padamu. Dulu aku pernah mengalami persahabatan yang pecah, karena kesalahan komunikasi. Kami benar-benar berbeda sekarang, bahkan seperti tak pernah terjalin apa-apa, sekalipun aku udah mencobanya lagi. Tak tahu kenapa terjadi. Dan itu bagiku benar-benar menyakitkan, sakit yang tahu apa obatnya. Aku hanya ingin menggunakan kesempatan bersamamu, karena keadaan nanti akan berbeda. Aku yakin kita pun bisa membawa hubungan baik dengan orang-orang di luar sana. Percayalah padaku Kun...” kini nada bicara Surur mulai merendah dan serius.
“Aku mengerti Sur... tapi...” belum selesai kata-kataku, ia udah memutusnya.
“Ssstt...... aku pengen ke toilet dulu..hahaha”
“Dasar Surur jelek!!!”
Seperti itulah ia.. dalam tiap tindakannya selalu dipenuhi kejahilan-kejahilan yang kadang membuatku jengkel. Tapi harus ku akui sikapnya yang terlihat agak kekanak-kanakan mampu melengkapi sikapku yang lebih dewasa, begitu kata orang-orang.
###
“Haloooo penghuni kamar pojok...” sapa Surur tiba-tiba mengejutkanku yang sedang asyik mengerjakan tugas kuliah.
“Walah kamu nyebelin selalu. Sana pergi-pergi... ganggu saja,” jawabku ketus.
“Hahaha... WEEEK. Aku kuliah dulu ya.. nanti mesti kangen nek nggak ada aku, hahaha”, goda Surur.
Ia pun pergi sambil puas menertawakanku.
“Nggak bakal Yoooo....” kataku setengah berteriak.
Setelah kejadian pagi itu, Surur tak pernah menjahiliku lagi, bahkan tak terdengar kabar tentangnya. Aku pun biasa menanggapinya, “maen mungkin” pikirku. Karena memang ia berbeda kamar denganku. Namun yang mengejutkan bagiku adalah ketika keesokan harinya aku menerima telpon dari teman kampusnya bahwa Surur mengalami kecelakaan sepeda motor. Menurut keterangan polisi, di suatu jalan dengan medan berkelok naik-turun ia bertabrakan dengan sebuah truk sehingga ia pun terjatuh di jurang yang agak dalam dan kemungkinan ia hanyut ke sungai yang jaraknya tak jauh dari tempat itu.
Aku benar-benar terpaku mendengar kabar itu, spontanitas air mataku deras mengaliri kedua pipiku. Dengan diantar Ifah, akupun datang melihat TKP. Disana ku lihat orang-orang dan beberapa polisi masih ramai berembug dan mencari Surur. Ku lihat speda motor Surur yang rusak tertabrak truk, dan tas punggung berisi barang-barangnya. Ia pasti tak memakai tasnya dan meletakkannya di bagian depan tempat duduk. Di tempat itu aku hanya bisa diam, terpaku dan tak tahu apa yang ku pikirkan.
Hingga kini, Surur belum juga ditemukan. Tak ada yang tahu apakah ia masih hidup, terdampar di pemukiman penduduk dengan luka-luka yang ia derita. Atau bahkan ia tak terselamatkan lagi. Aku tak berani memikirkan pilihan kedua. Aku hanya dapat berdoa setidaknya pilihan pertama dengan keadaan baik-baik saja. Aku pun yakin bahwa suatu saat ia akan datang menemuiku kembali. Kembali akan menjahiliku, dan tersenyum misterius padaku.
###
“Kun... jika kau mengalami hal sepertiku.. apa yang akan kau lakukan? Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyanya suatu hari. Wajahnya menampakkan keputusasaan, menandakan sebuah masalah besar menghantamnya.
“Kau lihat kau lihat bintang itu Sur........” kataku padanya. Saat itu kami berada di gedung lantai 3 di asrama kami. Lantai tertinggi tak beratap. Tak ada yang menghalangi pandangan kami untuk memandangi indahnya para bintang. Bintang-bintang yang bersinar terang mendampingi bulan sabit di sebelahnya. Kami menatapnya, sambil saling bercerita. Ku rangkul pundak sahabatku. Sebuah rangkulan yang tak ingin kulepas darinya.
Kenangan itu muncul begitu saja dalam mimpiku. Begitulah, tiap malam kenangan tentangnya muncul. Pernah pada suatu hari, saat aku mengikuti perkuliahan di kelas dari jendela kelas ku lihat Surur tersenyum dan menggodaku, ia menjulurkan lidahnya ke arahku. Aku pun tersenyum balik dan membalas juluran lidahnya. Aku baru tersadar setelah seorang temanku memanggilku. Semua itu hanya halunisasi, dan kupikir aku baru saja terlihat seperti orang aneh. Pernah juga pada suatu hari saat aku berjalan di halaman asrama, ku lihat seseorang duduk di bangku di bawah payung-payung hijau. Dengan wajah sumringah aku menghampirinya. “Surur...” kataku. “Kuni...” kata orang itu. “Kamu mengantuk ya? Masak memanggilku Surur.”
“Maaf, ya aku agak ngantuk.”
          Suatu siang hpku berdering. Ku lihat nama yang tercatat di panggilan masuk itu. SURUR. Tanganku gemetar, tak tahu apa yang kurasakan, yang jelas pada saat itu aku merasa sangat bahagia. Keyakinanku ia kembali akan terwujud. Ia memang selalu mengejutkanku.
“Halo Surur..... kemana saja kamu? Dimana kamu sekarang?”
“Halo juga.. maaf Mbak Kuni, saya bukan Surur, saya Tantri.”
“Oh ya... maaf. Surur dimana?”
“Dia tidak bisa langsung menghubungimu Mbak. Saya menemukannya terluka parah tiga hari yang lalu di sungai dekat rumah saya. saya hanya menemukan sebuah Hp rusak di sakunya dan saya lihat sms-sms di kartu memorinya yang tertulis Kuni. Saya yakin pilihan tepat jika saya menghubungimu Mbak. Saya dan keluarga merawatnya, tapi....... pagi lalu teman Mbak telah menghembuskan nafas terakhirnya.”
“Sur... Surur....”
“Halo...halo Mbak.....”
Tuutt... tuutt... tuuttt. Telepon terputus. Aku tertunduk lemas. Air mataku mengalir. Aku memejamkan mata, pikiranku hanya bertulis kata-kata terakhir Surur.



Yogyakarta, 26 Okt 2013

8 Jun 2015

Malas



Malas aku ke sana, jalannya terlalu jauh
Malas aku naik tanjakan itu, terlalu tinggi
Malas aku berlari, melelahkan kakiku
Malas aku berjalan, terlalu lama tuk sampai
Malas aku berdiri, kakiku kaku
Malas aku duduk, pantatku panas
Malas aku berbaring, alasnya terlalu keras
Malas aku! Aku hanya malas!
Malas apalagi yang masih tersisa untukku?
Karena semua telah merasuk dalam jiwa malasku
Maka untuk semua malasku... tinggal satu malas yang tersisa
Malas aku untuk malas.

Krapyak, 06 Juni 2015

Purnama


Langkahku pilu menginjak duri-duri masa lalu
Genggamanku layu terhempas geliat bebanku
Hatiku kaku memendam dendam kegagalanku
Tatapanku semu tanpa kacamata penopangku
Lalu.... masih adakah sisa kekuatanku?
Aku pun termangu.
Tiba-tiba jiwaku menembus ingatan lamaku
Ku topang langkahku, ku genggam genggamanku
Ku buka hatiku, ku buka kacamataku
Tuk menyiram pendanganku menuju sinar terang pembawa ketenangan
Langit.
Singgasana agungnya berdiam indah ciptaan pemilik semesta
Tersenyum syahdu
Menyambutku di kaki purnama
Terang... jernih... sebulat bentuknya.
Rembulan.


(Krapyak, 06 Juni 2015)