Keikhlasan dan kecintaan yang tulus pada Rasulullah terkadang membuat seseorang tak sadar bahwa ia mendapat perlakuan istimewa dari Rasulullah. Seperti tiga buah cerita nyata yang diceritakan oleh guru saya dari Bantul berikut ini. Kisah pertama datang dari Kota Kebumen Jawa Tengah. Konon ada seorang pemuda yang masih menuntut ilmu menjadi santri di kota tersebut. Sebut saja namanya Abdullah. Abdullah merupakan seorang pemuda mukmin yang mempunyai rasa cinta amat besar pada Rasulullah. Ia tak pernah mengharapkan balasan apapun dalam rasa cintanya. Yang ia tahu bahwa ia membaca sholawat dan mengikuti ajaran Rasulullah atas dasar ketaatan dan kecintaan pada Rasulullah.
Suatu hari tanpa ia sadari, ada seorang laki-laki yang
mendatanginya. Ia tak tahu siapa sebenarnya laki-laki tersebut. Laki-laki itu
mengaku bahwa ia adalah Nabi Muhammad SAW. Namun Abdullah tidak percaya dengan
pengakuannya. Ia berfikir bahwa tak mungkin Rasulullah datang padanya, karena
ia bukanlah orang yang istimewa dan bukanlah orang yang pantas ditemui oleh
Rasulullah SAW. Oleh karenanya, Abdullah menyambut kedatangan laki-laki
tersebut seperti wajarnya sambutan pada tamu. Laki-laki itu kemudian berpesan:
“Anak muda, tolong sampaikan salamku ini pada gurumu”. Setelah berkata
demikian, laki-laki itu pun pergi.
Karena ia tidak pada orang itu, Abdullah pun tidak
menyampaikan salamnya pada sang guru. Berselang satu bulan kemudian, laki-laki
itu datang kembali pada Abdullah. Untuk kedua kalinya ia mengaku bahwa dirinya
adalah Nabi Muhammad SAW. Namun lagi-lagi Abdullah tidak percaya terhadap
pengakuan lelaki itu. Laki-laki itu kemudian berkata: “Kenapa kamu tidak mau
menyampaikan salamku?. Sekarang sampaikan pada gurumu bahwa Rasulullah
menitipkan salam padanya”. Setelah berkata demikian, laki-laki itu pun pergi.
Dengan segenap rasa penasaran, Abdullah sowan pada
gurunya. Di kediaman sang guru ternyata kedatangan Abdullah telah dinanti oleh
sang guru. Abdullah kemudian menceritakan kejadian yang ia alami dua kali
tersebut. Mendengar cerita tersebut sang guru tersenyum, pertanda ia tahu
sesuatu. “Sekarang kamu ingin mengelak bahwa ia bukan Rasulullah SAW?” wajah
Abdullah semakin menyiratkan rasa bingung. “Kamu tak usah bingung, Beliau
memang benar Rasulullah SAW. Beliau baru
saja datang mengunjungiku, seperti kunjungannya sebulan lalu padaku”. Perkataan
sang guru membuatnya begitu terkejut dan justru membuatnya semakin mencintai
Rasulullah SAW.
Kisah kedua adalah cerita tentang seorang ulama besar
yang kharismatik, pemimpin para umat, mempunyai sifat-sifat yang mulia dan yang
terpenting mempunyai rasa keikhlasan yang besar dalam mencintai dan taat pada
Rasulullah SAW. Sebut saja namanya Kyai Abdullah.
Suatu saat Kyai Abdullah berada pada sebuah dunia antara
alam sadar dan tak sadar. Wallahu a’lam tentang alam yang ia alami.
Hanya saja untuk seorang ulama-ulama yang istimewa dengan kecintaan yang besar
pada Allah dan rasul-Nya, alam ini sering terjadi. Di alam ini Kyai Abdullah
menemukan dirinya sedang berdiri di sebuah tanah lapang bersama orang-orang
yang lain. Saat itu hujan sedang mengguyur mereka. Anehnya, bukan hujan air
seperti yang biasa terjadi dimana pun, melainkan hujan mutiara. Ribuan mutiara
jatuh bertebaran menimpa orang-orang.
Kyai Abdullah dengan segenap kemampuannya berusaha
mengumpulkan mutiara itu sebanyak-banyaknya. Entah apa arti dari mutiara
tersebut, ada yang mengartikannya sebagai sebuah pertolongan, atau syafaat yang
patut dinantikan umat mukmin. Namun dalam keadaan yang menggembirakan itu, Kyai
Abdullah juga melihat orang yang hanya berdiri tanpa sedikitpun merespon
mutiara-mutiara yang amat berharga tersebut.
Setelah itu Kyai Abdullah mengumpulkan para jama’ahnya
dan berkata: “Para jama’ahku, bersiap-siaplah kita akan mengunjungi Rasulullah
SAW”. Setelah semua siap, mereka pun berangkat menuju sebuah bangunan putih,
tinggi, dan megah. Siapapun akan takjub jika melihatnya. Di depan pintu masuk
ada seorang penjaga yang telah menyambut mereka dan dengan penuh keramahan ia
berkata, “Selamat datang untuk kalian semua... silahkan masuk, Rasulullah dan
para sahabat telah menunggu kalian di dalam”. Mereka kemudian masuk ke tempat
yang sangat indah itu. Dan di dalam tempat itu Rasullah SAW dengan memakai baju
hijau menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah, seperti menyambut
kedatangan tamu istimewa. Di belakang Rasulullah SAW ada 4 sahabat
khulafaurrasyidin dan sahabat-sahabat lain yang juga menyambut dengan ramah.
Begitulah kisah seseorang yang penuh keikhlasan dalam mencintai.
Dan begitu mudahnya Rasulullah mengunjungi para hamba-hamba tersebut. []Um_
