23 Mei 2015

Sambutan dan Kunjungan Rasulullah SAW



 
Keikhlasan dan kecintaan yang tulus pada Rasulullah terkadang membuat seseorang tak sadar bahwa ia mendapat perlakuan istimewa dari Rasulullah. Seperti tiga buah cerita nyata yang diceritakan oleh guru saya dari Bantul berikut ini. Kisah pertama datang dari Kota Kebumen Jawa Tengah. Konon ada seorang pemuda yang masih menuntut ilmu menjadi santri di kota tersebut. Sebut saja namanya Abdullah. Abdullah merupakan seorang pemuda mukmin yang mempunyai rasa cinta amat besar pada Rasulullah. Ia tak pernah mengharapkan balasan apapun dalam rasa cintanya. Yang ia tahu bahwa ia membaca sholawat dan mengikuti ajaran Rasulullah atas dasar ketaatan dan kecintaan pada Rasulullah.
Suatu hari tanpa ia sadari, ada seorang laki-laki yang mendatanginya. Ia tak tahu siapa sebenarnya laki-laki tersebut. Laki-laki itu mengaku bahwa ia adalah Nabi Muhammad SAW. Namun Abdullah tidak percaya dengan pengakuannya. Ia berfikir bahwa tak mungkin Rasulullah datang padanya, karena ia bukanlah orang yang istimewa dan bukanlah orang yang pantas ditemui oleh Rasulullah SAW. Oleh karenanya, Abdullah menyambut kedatangan laki-laki tersebut seperti wajarnya sambutan pada tamu. Laki-laki itu kemudian berpesan: “Anak muda, tolong sampaikan salamku ini pada gurumu”. Setelah berkata demikian, laki-laki itu pun pergi.
Karena ia tidak pada orang itu, Abdullah pun tidak menyampaikan salamnya pada sang guru. Berselang satu bulan kemudian, laki-laki itu datang kembali pada Abdullah. Untuk kedua kalinya ia mengaku bahwa dirinya adalah Nabi Muhammad SAW. Namun lagi-lagi Abdullah tidak percaya terhadap pengakuan lelaki itu. Laki-laki itu kemudian berkata: “Kenapa kamu tidak mau menyampaikan salamku?. Sekarang sampaikan pada gurumu bahwa Rasulullah menitipkan salam padanya”. Setelah berkata demikian, laki-laki itu pun pergi.
Dengan segenap rasa penasaran, Abdullah sowan pada gurunya. Di kediaman sang guru ternyata kedatangan Abdullah telah dinanti oleh sang guru. Abdullah kemudian menceritakan kejadian yang ia alami dua kali tersebut. Mendengar cerita tersebut sang guru tersenyum, pertanda ia tahu sesuatu. “Sekarang kamu ingin mengelak bahwa ia bukan Rasulullah SAW?” wajah Abdullah semakin menyiratkan rasa bingung. “Kamu tak usah bingung, Beliau memang benar Rasulullah SAW.  Beliau baru saja datang mengunjungiku, seperti kunjungannya sebulan lalu padaku”. Perkataan sang guru membuatnya begitu terkejut dan justru membuatnya semakin mencintai Rasulullah SAW.
Kisah kedua adalah cerita tentang seorang ulama besar yang kharismatik, pemimpin para umat, mempunyai sifat-sifat yang mulia dan yang terpenting mempunyai rasa keikhlasan yang besar dalam mencintai dan taat pada Rasulullah SAW. Sebut saja namanya Kyai Abdullah.
Suatu saat Kyai Abdullah berada pada sebuah dunia antara alam sadar dan tak sadar. Wallahu a’lam tentang alam yang ia alami. Hanya saja untuk seorang ulama-ulama yang istimewa dengan kecintaan yang besar pada Allah dan rasul-Nya, alam ini sering terjadi. Di alam ini Kyai Abdullah menemukan dirinya sedang berdiri di sebuah tanah lapang bersama orang-orang yang lain. Saat itu hujan sedang mengguyur mereka. Anehnya, bukan hujan air seperti yang biasa terjadi dimana pun, melainkan hujan mutiara. Ribuan mutiara jatuh bertebaran menimpa orang-orang.
Kyai Abdullah dengan segenap kemampuannya berusaha mengumpulkan mutiara itu sebanyak-banyaknya. Entah apa arti dari mutiara tersebut, ada yang mengartikannya sebagai sebuah pertolongan, atau syafaat yang patut dinantikan umat mukmin. Namun dalam keadaan yang menggembirakan itu, Kyai Abdullah juga melihat orang yang hanya berdiri tanpa sedikitpun merespon mutiara-mutiara yang amat berharga tersebut.
Setelah itu Kyai Abdullah mengumpulkan para jama’ahnya dan berkata: “Para jama’ahku, bersiap-siaplah kita akan mengunjungi Rasulullah SAW”. Setelah semua siap, mereka pun berangkat menuju sebuah bangunan putih, tinggi, dan megah. Siapapun akan takjub jika melihatnya. Di depan pintu masuk ada seorang penjaga yang telah menyambut mereka dan dengan penuh keramahan ia berkata, “Selamat datang untuk kalian semua... silahkan masuk, Rasulullah dan para sahabat telah menunggu kalian di dalam”. Mereka kemudian masuk ke tempat yang sangat indah itu. Dan di dalam tempat itu Rasullah SAW dengan memakai baju hijau menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah, seperti menyambut kedatangan tamu istimewa. Di belakang Rasulullah SAW ada 4 sahabat khulafaurrasyidin dan sahabat-sahabat lain yang juga menyambut dengan ramah.
Begitulah kisah seseorang yang penuh keikhlasan dalam mencintai. Dan begitu mudahnya Rasulullah mengunjungi para hamba-hamba tersebut. []Um_


8 Mei 2015

Sholawat untuk Sang Bayi


Kisah mengesankan ini diceritakan oleh Ibu Nyai Rokhmawati Syahid dari Rembang Jawa Tengah. Beberapa tahun lalu ketika ia mengandung 7 bulan anak keduanya yaitu Ning Syafiqah, dokter telah memvonis bahwa bayi dalam kandungannya sungsang. Berbagai usaha telah dilakukan agar posisi sang bayi normal, dengan kepala di bawah. Berbagai usaha yang dilakukan telah membuatnya merasa kelelahan dan kesakitan, tapi posisi bayi tetap dalam keadaan sungsang. Hal itu mengharuskannya melakukan operasi kelahiran di rumah sakit. Waktu selanjutnya adalah menjadi sebuah penantian untuk operasi.

Waktu kelahiran tiba, semua persiapan telah siap, mulai dari penandatangan persetujuan, persiapan para perawat dan keluarga. Hanya saja masih menunggu kedatangan dokter untuk pelaksanaan operasi. Para perawat memberikan kata motivasi dan semangat kepadanya yang sedang kesakitan. Pada saat itu, sang suami Bapak KH. Syahid (Alm.) yang merupakan seorang alim dan cinta sholawat setia berada di sampingnya. Bapak K. Syahid berpesan: “Tolong semua yang ada di ruangan ini, mari kita bersholawat bersama-sama!. Tolong semua kata-kata apapun, dan motivasi apapun diganti dengan sholawat, hingga proses kelahiran ini selesai. Sekeras apapun, dan sesemangat mungkin”.

Akhirnya semua yang berada di ruang itu serempak mengucapkan sholawat, dengan berbagai macam ekspresi dan perasaan. Sehingga ruangan operasi berubah menjadi lautan sholawat membuat suasana terasa mencekam dan mengharukan. Tak khayal air mata mengalir tanpa adanya perintah. Mengalir dan terharu.

Belum sampai operasi dilaksanakan, kejadian aneh terjadi. Ibu Rokhmawati merasakan bahwa bayi yang ada di kandungannya bergerak. Setelah diperiksa, ternyata bayi yang mulanya sungsang mendadak menjadi normal dengan posisi kepala di bawah. Hal itu membuat semua yang ada di ruang operasi terkejut dan takjub. Hingga akhirnya diputuskan bahwa operasi batal dilakukan, dan kelahiran dapat dilaksanakan secara normal. Begitulah pertolongan yang Allah berikan karena keutamaan sholawat yang mereka lafadzkan.