19 Oktober. Tiap
tahun tanggal itu selalu berisi kenangan dan kesan berbeda. Namun bagaimanapun
peristiwa yang meliputinya, aku tetap bahagia untuk diriku sendiri. Hari ini...
bahagia itu terasa bertumpuk mesti tak sempurna. Puluhan ucapan selamat
mengalir lewat berbagai media sosial, seperti Facebook, BBM, WA, Messenger, sms,
dan ucapan langsung. Bisa dikatakan tangan dan mulutku sibuk tuk membalas semua
ucapan itu.
Sore hari kemudian,
bukan hanya sekedar ucapan yang aku terima tapi juga tindakan. Beberapa penghuni
kos sukses menyiramku beberapa adonan ke tubuhku. Telor, tepung, dan entah benda
apa lagi, ditambah siraman beberapa ember air. Tak bisa dibayangkan betapa
kacaunya diriku. Meski parah, tapi terima kasih kawan-kawan atas
adonannya.hahaha.
Perayaan selanjutnya
pun berada di kamarku sendiri. Kamar kosku yang begitu sempit mendadak dipenuhi
sebagian besar penghuni lain. Sesak. Mereka sengaja berkumpul untuk sedikit
berpesta dan mengucapkan berbagai doa untukku. Sungguh mengharukan. Rupanya tak
berselang lama rombongan lain yang biasa disebut trio GP diam-diam datang
membawa kejutan dan kado menyenangkan. Oh... terima kasih kawan.... aku bahkan
tak pernah menduga hal itu sama sekali.
Hari belum
berakhir, malam masih terus bergulir. Sang malam amat bersahabat denganku,
karena hari ini memang benar-benar untukku. Malam hari di masjid yang hanya
berjarak beberapa meter dari kosku, sedang menggelar burdahan yang cukup
meriah. Meski momentnya kebetulan, bagiku itu suatu keberkahan. Berkah sholawat
dan ulang tahun. Lewat lantunan sholawat beriring tabuhan rebana itu doa
bergulir. Indah didengar, khusyuk dirasa. Aku merasa acara itu bagian dari
perayaan hariku, bagian doa itu adalah untukku. Perayaan spesial untuk Kanjeng
Nabi itu aku ambil alih juga sebagai bagian perayaanku. Aku yakin Beliau takkan
marah, bahkan bisa jadi ikut mendoakanku yang saat ini juga berbahagia
menyambut kedatangannya. Ya Rasululallah... di hari spesialku ini, doakan aku serta
berilah aku syafaatmu untuk sowanku pada-Nya.
Begitulah hariku.
Maka kuucapkan terima kasih pada semuanya, atas ucapan, doa dan hadiah yang diberikan padaku. Semoga kebaikan-kebaikan itu terbalaskan dan doa-doa itu juga akan kembali pada yang mendoakan. Amiin. Dan di akhir tulisan ini, aku ingin mengucapkan ucapan selamatku pada diriku. Ucapan
sesungguhnya dari sanubariku yang terdalam.
Selamat
Ulang Tahun UM...
Kau
pasti bahagia untuk hari ini
Kau
pasti tak berhenti tersenyum untuk hari ini
Kau
pasti berbinar pada hari ini
Selamat
Ulang Tahun UM...
Aku
pun amat berbahagia sepertimu
Aku
pun ikut merayakannya sepertimu
Aku
pun tak berhenti tersenyum untukmu
Selamat
Ulang Tahun UM...
Semakin
berkurang saja jatah kehidupanmu
Semakin
menua saja detak jantungmu
Semakin
cepat saja hari-harimu
Selamat
Ulang Tahun UM...
Sudah
sesenja ini langkahmu, apa kau sudah puas?
Sudah
sejauh ini penjelajahanmu, apa kau sudah lelah?
Sudah
selama ini perjalananmu, apa kau sudah sukses?
Apakah
seperempat dari keinginanmu telah terwujud?
Apakah
setonggak impianmu telah menjadi nyata?
Apa
kau telah membuatku tersenyum?
Selamat
Ulang Tahun UM...
Sungguh
“Belum” untuk semua pertanyaanku padamu
Kau
bahkan belum mampu menggoreskan senyum di wajahku
Kau
belum mampu meneduhkan pandanganku
Kau
belum mampu merangkul tubuhku
Kau
belum mampu menggenggam tanganku
Selamat
Ulang Tahun UM...
Dengarkan
hatiku UM
Berjanjilah
padaku UM
Semenjak
hari ini kau tetap diriku
Saat
kau mampu menggenggam janjimu
Berjanjilah
untuk membuat kedua sosok itu tersenyum
Buat
mereka menitikkan tetes bahagia
Saat
kau mendekap mereka berada di atas semua impianmu
Berjanjilah
untuk membuat mereka embun pagimu bahagia
Saat
kau bermanfaat untuk mereka
Berjanjilah
untuk membuatNya bangga
Saat
tundukmu di setiap hembusan nafasmu
Berjanjilah
untuk membuatnya cinta
Saat
cinta dan teladanmu padanya
Berjanjilah
Berjanjilah
UM
Selamat
Ulang Tahun UM...
Aku
selalu mendoakanmu setiap detak jantungmu
Aku
selalu mendoakanmu setiap gerakan tubuhmu
Aku
selalu mendukungmu untukku dan untukmu
Selamat
Ulang Tahun UM ^_^

