Aku hanya menatap
Terukir senyum simpul berlambang rasa syukur
Tetes-tetes anugrah menjatuhi tanah kering di telapakku
Meski bisa saja mereka berkata “terlambat” tapi tak ada
kata terlambat untuknya
Ia bertamu di saat mereka merindukannya
Ia jatuh mengusir dahaga panjang berselimut terik yang
mencekik
Selamat datang!
Kami merindukanmu wahai tamu agung pendulang bumi
Biarkan aku menyentuh lembut tarianmu
Dan berkata tak ada yang boleh mengeluh tentangmu, karena
kau bisa marah pada mereka
Biarkan aku menggenggam sapaanmu yang terpatri indah dalam
keramahan
Dan dengarkan suara lirih penuh ketulusan
Suara jiwa-jiwa sahabatku
berucap syukur memelukmu
yang tak sedikit pun menilik ragu menengadah
selamat datang
hujanku
kelembutanku
28
Okt 2013, 12:49 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar