21 Jul 2017

Kau… Sang Malam itu



Aku sering mendengar cerita tentangmu
Aku sering mendengar keramaian di waktumu
Ya… kau tahu banyak insan mendiskusikanmu
Bahkan mereka ramai berlomba merayu kebaikanmu
Kau tahu kenapa?
Karena kau telah bersahabat dengan kemuliaan
Karena kau selalu berselimut kedamaian
Hingga sang mutiara pun mendaftarkan persahabatan
Membuat iri seisi alam
Hingga para malaikat ikut menyodorkan bintang
Membuat ribuan harapan terpampang
Kau malam itu… malam yang selalu bergelimang keindahan
Kau malam itu… malam yang selalu dijanjikan
Kau malam itu… malam jum’at penuh kemuliaan.

Rembang,
Kamis, 20 Juli 2017

19 Jul 2017

Nenek, Cucu, & Cicitnya

Tulisan ini aku buat sebagai salah satu caraku untuk mencurahkan rasa sayang sekaligus kerinduanku pada almarhumah nenekku yang baru saja meninggalkanku dan keluarga besarku untuk selama-lamanya. Ya, nenek. Beliau ibu dari ibuku.

Nenek. Beliau ibu dari ibuku. Ibuku adalah anak pertama beliau, dan aku adalah putri pertama ibuku. Yang artinya aku adalah cucu pertama nenekku. Cucu yang diberi kesempatan pernah melihat nenek lebih lama dari 8 adikku yang lain. Aku pernah mendengar ungkapan bahwa “Biasanya cucu itu lebih lengket dengan neneknya”, atau “Biasanya nenek itu lebih sayang pada cucunya daripada anaknya”. Mungkin ungkapan itu ada benarnya juga. Tapi kalau ungkapan nenek lebih sayang pada cucu daripada dengan anaknya ini salah menurutku. Lebih tepatnya karena anak-anaknya sudah mendapatkan kasih sayang ibunya (nenek) dari kecil sampai dewasa, jadi sudah saatnya anak itu mandiri. Kemudian saatnya nenek mencurahkan kasih sayangnya pada cucunya yang belum dewasa. Begitu.
Seperti halnya nenekku. Beliau seorang nenek yang telah hidup menjanda semenjak 18 tahun lalu, setelah ditinggal kakek meninggal dunia. Sebagai seorang janda, rasa kesepian tak ubahnya seorang teman sejati yang selalu menyelimutinya tiap waktu. Beliau lalu melampiaskan dan berusaha menghilangkan rasa sepi itu dengan rajin berkunjung pada anak-anaknya dan pada cucu-cucunya. Seperti kulihat selama bertahun-tahun, saat nenek di rumah tiap hari tak terhitung berapa kali nenek wira-wiri ke rumahku dari rumahnya yang ada di barat rumahku. Tak terhitung berapa kali beliau selalu memanggil-manggilku dan adik-adikku juga orang tuaku saat masih berjalan santai di belakang rumah. Tak terhitung entah dengan membawa barang apa, minta bantuan apa, atau sekedar lewat saja.
Beliau nenek yang baik dan sangat sayang pada cucu-cucunya. Lihat saja, saat beliau punya makanan apapun, beliau selalu berusaha memberikannya pada kami. Meskipun hanya sedikit. Misalnya ada pisang, ketela, krupuk, dan apapun. Intinya ada jajan apa saja di rumah beliau, beliau selalu ingat cucunya. Atau saat beliau minta bantuan cucu-cucunya dipijitin, menata kamarnya, merebus air, saat selesai beliau selalu memberikan kami jajan. Aku tahu itu adalah tanda terima kasihnya. Atau juga saat kami mengirimkan sedikit makanan untuk nenek, nenek pun selalu juga memberikan makanan balik. Ibaratnya, aku mengirimkan makanan sepiring, aku akan pulang dengan membawa jajan sepiring lagi.
Aku dan adik-adikku yang kebanyakan dari kami menuntut ilmu merantau mondok ke kota lain, selalu bersalaman dengan beliau saat mau berangkat atau saat pulang dari belajar. Nah saat berangkat itu nenek selalu berusaha memberikan uang saku pada kami plus memberikan seplastik jajan untuk dibawa ke pondok. Meskipun terkadang sedang tidak punya uang. Kulihat, ada rasa puas dan kebahagiaan saat beliau memberikan itu pada kami.
Lalu, saat aku masuk kuliah di UGM Yogyakarta, beliau orang yang paling semangat bilang akan ikut mengantarkanku ke Yogyakarta. Begitu pun saat aku diwisuda, beliau jauh-jauh hari sudah mendaftarkan diri untuk ikut hadir memberikan selamat dan berfoto bersama. Lihat saja beliau bahkan dengan semangat minta foto berdua saja denganku yang masih memakai toga kelulusan. Foto itu sudah kuberikan pada beliau, dan langsung dipajang di kamar beliau. Kulihat senyum lebar menghiasi wajahnya.

Kemudian saat aku akan menikah. Beliau dengan wajah sangat bahagia menyambut kedatangan calon suami dan keluarganya saat berkunjung ke rumahku. Semua melihat wajah ceria dari nenek. Bahkan berkali-kali beliau bertanya bagaimana bisa aku berkenalan dengan calon suamiku di Jogja itu. Beberapa waktu kemudian saat aku menikah, beliau selalu ambil andil ikut mengurusi proses pernikahanku dan ikut menyambut para tamu. Begitupun saat berfoto. Beliau minta foto bersamaku yang sedang memakai baju pernikahan. Lalu ku berikan cetakan foto itu pada beliau. Dan layaknya orang yang berbahagia, beliau lalu memajang foto itu di kamarnya.
Kisah berlanjut beberapa bulan kemudian, ada kabar kalau aku dinyatakan positif hamil. Kabar itu sudah tersebar di seluruh keluarga besar. Dan orang yang terlihat paling bahagia adalah nenek. “Aku mau punya cicit”, kata beliau. “Piye buyute kabare?”, tanya beliau saat aku sedang mudik ke rumah orang tuaku. Betapa bahagianya beliau. Nenek sangat menantikan kelahiran cicitnya.
Namun di balik semua perhatian dan kasih sayang nenek pada cucunya, sebenarnya beliau sedang diuji dengan penyakit yang berat. Berbagai penyakit singgah di tubuh beliau. Berawal dari penyakit diabetes mellitus yang kemudian menjalar ke penyakit-penyakit yang lain, seperti: mata, punggung, lambung, hingga jantung. Selama bertahun-tahun nenek juga bersahabat erat dengan sakit-sakit itu. Suntikan-suntikan insulin tiap hari beliau tusukkan 4 kali dalam sehari. Obat-obatan begitu memenuhi porsi minumannya tiap saat, pantangan demi pantangan menghalangi menu makannya. Pengobatan demi pengobatan menjadi penjelajahan hidupnya dan operasi demi operasi menentukan fase-fase hidupnya.
Ujian kesabaran selalu diperuntukkan untuknya. Kami yakin betapa sakit yang dideritanya tak ringan. Hanya doa yang selalu kami panjatkan untuknya untuk kesabaran, kesembuhan, dan panjang umurnya.
Mei 2017 menjadi peristiwa penting bagiku dan bagi nenek. Aku telah berada di rumah orang tuaku selama sebulan, menanti kelahiran putra dalam kandunganku. Nyatanya kelahiranku mundur hampir dua minggu dari perkiraan kelahiran. Dan selama penantian kelahiran itu, nenek telah bolak-balik ke Semarang untuk pengobatan di rumah sakit. Dalam hati mendalam sebenarnya nenek ingin segera pulang, karena ingin menanti kelahiran cicitnya. “Saya ingin cepet pulang Dok… saya mau punya cicit, cicit pertama”. Begitu ucap beliau dengan wajah sangat sumringah pada dokter. Hingga beliau pulang lagi, ternyata cicitnya belum juga lahir.
Beberapa hari kemudian dengan diantar dua orang santri nenek datang ke rumahku. Beliau menjengukku di rumah, sambil melihat-lihat rumah. Saat itu wajah beliau terlihat cerah, cantik, & sumringah. Nenek pun berpesan, “Nek lahiran ora usah wedi, Mbahe wae nglahirno ping limo” (Kalau kamu melahirkan nggak usah takut, Mbahe saja dulu melahirkan lima kali). Esok harinya saat aku olah raga jalan pagi, nenek memanggilku dari halaman rumahnya. “Cu… mau kemana? Kok sampai sana?”. “Mau jalan-jalan Nek…” jawabku. “Oh ya wis”, jawab beliau sambil tersenyum. Kemudian beliau balik badan sambil olah raga ringan dan jalan-jalan di halaman rumahnya. Dan kenapa tak seperti biasanya saat beliau memanggil seperti itu rasanya aku ingin melihat wajah beliau lagi. Tapi sayang beliau sudah berjalan pergi menuju rumahnya.
Hari berikutnya siang hari sebelum nenek berangkat ke Semarang, beliau menyuruh seorang santri untuk mengirimkan jantung pisang ke ibuku. “Nduk, berikan jantung pisang ini pada anakku Rus”. Jantung pisang itu kecil dan sudah agak kisut. Seperti berasal dari pisang yang tidak lagi segar. Aku sekeluarga pun bertanya-tanya kenapa juga nenek memberikan hanya jantung pisang yang bentuknya seperti itu. Dan hanya jantung pisang, tidak dengan benda lain. Tapi kata ayah dan ibu, “Nek orang tua memberikan benda-benda itu mesti ada maksudnya”. “La memang maksudnya apa Buk?”, tanyaku. “Ya tak tahu, besok juga tahu sendiri”.
Beberapa hari kemudian, hari Minggu malam aku melahirkan seorang anak laki-laki melalui operasi cesar di RS Rembang. Sebelum dan sesudah melahirkan, suamiku sempat menelpon nenek untuk mengabarkan cucu dan cicitnya. Adikku juga sempat mengirimkan foto keponakannya pada nenek di Semarang. Mendapat kiriman foto itu, nenek tak henti-hentinya memandang foto kiriman itu. Selang 3 hari, Bulek mengabarkan kalau nenek harus menjalani operasi pemasangan ring di jantung, karena dada nenek sesak. Kamis saat sahur jam 3 pagi Bulek kembali mengabarkan kalau nenek ngedrop dan sekarang dirawat di ruang ICU. Dengan suara yang sedih, beliau meminta agar ibukku dan yang lainnya segera datang ke Semarang.
Maka setelah sholat subuh, berangkatlah rombongan ke Semarang untuk menjenguk keadaan nenek kecuali aku. Karena keadaanku yang masih lemah dan puteraku yang baru berusia 4 hari. Maka aku jaga rumah bersama ayah dan budeku. Satu jam kemudian, pak lek berlarian dari rumahnya disertai telpon ayah yang berdering, yang ternyata Bulek yang menelepon. “Pak De…. Mbah kapundut”, begitu kata pak lek secara langsung dan bulek di telepon. Kami yang di rumah kaget bukan main. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Entah apa yang terlintas di pikiranku. Yang jelas ada rasa tidak percaya dalam hati. “Mungkin yang dikatakan Pak Lek bisa dicabut lagi”, seperti itu pikirku. Tapi apapun perasaan dan pikiranku, rasa ikhlas harus digenggam erat dalam hati. Itu juga yang pelan-pelan harus disediakan para anggota keluarga lainnya.
Dan dengan adanya kabar duka ini maka seketika rumah nenek mendadak ramai. Ramai disiapkan untuk menyambut kedatangan jenazah nenek. Ramai dengan para penta’ziah, ramai dengan bacaan tahlil dan tadarus al-qur`an hingga nanti menjelang dhuhur, perkiraan jenazah tiba. Dan benar saja, saat mobil ambulan yang memuat jenazah nenek datang dan lewat depan rumahku tanpa ada aba-aba aku yang sedang istirahat seketika terbangun. Begitu juga dengan si cicit, langsung saja dia menangis kencang seperti halnya tangisan anak yang kaget. Maklum saja anak bayi yang baru berusia 4 hari dan masih murni bisa merasakan hal-hal ghaib di sekitarnya. Dia seperti menyadari dan merasakan lewatnya nenek dan makhluk ghaib yang melewatinya.
Sekarang aku paham bahwa Beliau memberikan pesan kematiannya lewat jantung pisang, yang melambangkan beliau meninggal karena sakit jantung. Begitulah kisah dari nenek. Nenek yang sangat menyayangi cucu-cucunya. Nenek yang sangat bahagia dengan kehadiran cicit pertamanya, namun belum sempat melihat cicit kesayangannya. Takdir Allah yang membuat seperti itu. Saat Allah memberikan anggota baru dalam keluarga ini, Allah lalu mengambil anggota keluarga yang paling sepuh. Atau bisa juga dibalik. Saat Allah mengambil nenek, Allah memberikan ganti cicit di keluarga ini. Begitulah takdir Allah untuk ‘Nenek, Cucu, & Cicitnya’. Allahummaghfirlaha warhamha wa’fu’anha.