Oleh: Um_Roh
Aku mulai
membuka mata. Tersadar pada alam yang yang tak kusadari. Entah pada arah mana
ku menatap, namun tetap kutatap arah itu. Hijau. Putih. Dua kata yang kan
mewakili ceritaku. Pohon-pohon rindang dengan variasi warna buah tiap jenisnya.
Pohon mangga, pisang, jambu, beringin, dan masih banyak pohon yang tak kukenal
definisinya. Rumput-rumput jepang yang ditanam begitu rapi, menampakkan begitu telaten
pemilik kebun ini. Semilir angin mengelus kulitku dengan kekhasannya.
Subhanallah. Aku tak pernah melihat alam seindah ini sebelumnya. Aku mencoba
menyadarkan imajinasiku, aku mencoba menahan alam mimpiku. Tapi semuanya nyata
dan kini aku merasa dalam nyata. Tapi.... ah sudahlah, lebih baik kunikmati
anugrah agung ini. Aku masih ingat sebuah kata yang telah tercatat dalam
serpihan ikatanku. Syukur. Kini aku harus benar-benar menyelimuti jiwaku pada
catatanku. Aku langkahkan kakiku
menelusuri alam penuh keharmonisan ini tanpa terpecik rasa takut sedikitpun.
Hingga puluhan meter terasa hitungan langkahku, namun tak ku temukan arti dari
semua ini.
Kini tiba-tiba
jantungku berdebar, takut tanpa alasan yang jelas. Semakin kulangkahkan kakiku
semakin hati ini berdebar dan tiba-tiba aku terjatuh, tersungkur pada
rumput-rumput lembut ini dan terpejam. Gelap. Ya Allah... apa yang terjadi?
Mana orang-orang? Mana sahabat-sahabatku? Aku takut Ya Allah... tolong aku Ya
Allah... Laailaaha illa Allah. Ku buka
mataku perlahan. Kulihat sebuah bangunan yang tak asing dalam benakku. Sebuah
gedung lantai tiga dengan warna krem, tegak bediri penuh arti di tengah-tengah
hunian masyarakat desa. Bangunan itu adalah pondok pesantren tempat yang telah
kutinggali selama dua tahun ini. Kenapa tiba-tiba ku sampai di sini? Sungguh
aneh, apa aku berjalan dari tempat indah tadi? Atau.... mana motorku yang biasa
mengantarku kemanapun ku mau? Sudahlah, sebaiknya aku masuk dan merebahkan
tubuhku dalam kamarku penuh kenyamanan.
Hanya dengan
tiga langkah aku telah sampai pintu masuk. “Assalamu’alaikum” ucapku
sambil melangkah memasuki ruangan pondok. Sepi. Kemana orang-orang? Apa mereka
semua sedang kuliah atau mengaji? Tapi ini sudah sore, jam 3. Kumasuki kamar
An-Nur, yang telah 2 tahun ini menjadi tempat singgahku. Kulihat ada Mbak Desi
sedang membaca sebuah komik Conan, dan ada Isna sedang sholat. “Mbak Desi...
yang lain mana, kok sepi banget?” sapaku pada Mbak Desi.
Diam, dia tetap
diam dengan pertanyaanku. “Mbak Desi... yang lain mana?” hingga tiga kali ia
tak menjawab pertanyaanku. Apa dia marah denganku? Akhirnya ku sentuh ia. Tapi
ia tak bergumim, seakan-akan aku tak pernah ada di sampingnya. Apa yang
terjadi? Lalu ku dekati Isna yang telah selesai sholat, ku mencoba menyentuhnya
namun ia tak merasakan sedikitpun. Hatiku bercampur aduk merasakan keanehan
yang sebelumnya tak pernah kurasakan. Apa aku telah mati? Tanganku bergetar.
Aku merasakan bahwa jiwaku benar-benar ketakutan. Aku berlari meninggalkan
kamarku, menuju ke kamar lain, berharap mereka dapat menolongku. Namun, semua
sia-sia, meski aku telah berteriak dan mencoba menyentuh mereka, tapi tak ada
seorangpun yang merasakan kehadiranku. Aku semakin kacau. Tak terasa air mata
telah mengalir di pipiku. Aku tertunduk dalam dudukku yang tak tentu dan masih merasa
bahwa semua buruk.
Aku
berlari ke kamar An-Naim mencari seseorang yang kuanggap sebagai sahabat dalam
hari-hari panjangku. Hal yang juga tak kuinginkan kembali terjadi. Lalu lalang
penghuni kamar telah menepis kehadiranku. Tak ada secercah tanda kesadaran
mereka atas hadirku. Yang lebih mendesak kemelutku bahwa tak kutemukan kak Ummi
di kamar ini. Lalu kemana dia? Ya Allah kemana ia? Aku hanya melihat dua
temanku di kamar itu saling berbincang-bincang.
“Bib... kapan kita mau jenguk Rima di
rumah sakit?” Tanya Selli, salah seorang penghuni kamar An-Naim.
DEG.
Aku semakin tak mengerti, bukankah aku
tegak berdiri di sampingnya, kenapa ia bilang aku di rumah sakit. Apa yang
terjadi?
“Hai... aku ada di sini, dengarkan aku!!
Apa kalian tak dapat melihatku? HAIIII....” teriakku.
Percuma, tak ada
yang seorangpun terganggu dengan teriakanku. Kakiku lemas, lunglai, tak ada
cahaya terang dalam semangatku. Tak ada setitik tanda pelita tujuanku. Entah
sekarang aku dalam keadaan dan cobaan apa, aku tak tahu dan sungguh tak
mengerti apapun. Yang ku tahu, tak ada seorang pun dapat melihat dan merasakan
kehadiranku. Hingga kusadari jam menunjukkan pukul 17.30 WIB, aku masih terdiam
di kamar itu, berharap dapat menemukan kehadiran kak Ummi. Lagi-lagi harapku
kosong, tak ada tanda kedatangan kak Ummi. Lalu ku ingat Selli menyebutkan
‘Rumah Sakit’. Aku ingin ke sana, tapi bagaimana aku kesana? Rumah sakit mana?
Aku benar-benar bingung. Aku ayunkan langkahku kemanapun ia mau, karena hatiku
pun tak tahu kemana ku harus melangkah.
Beberapa saat
kemudian, aku merasa tubuhku telah hadir pada tempat yang sepertinya pernah
kuinjakkan kakiku ke tempat ini. Ya, ini rumah sakit Hidayatullah. Kenapa aku
tiba-tiba berada di tempat ini? Bagaimana aku dapat berjalan ke tempat ini? Kenapa
dan bagaimana? Tak ada guna semua pertanyaan ini, karena aku tak dapat
menjawabnya. Lebih baik ku cari tahu apa yang dapat ku temukan di sini.
Benar, tiba-tiba
saja aku memasuki kamar nomor 12. Hatiku tergoncang dan benar-benar kaget
dengan pemandangan di depanku. Apakah aku sedang bermimpi atau apa? Tubuh di
depanku itu, wajah itu, sangat tak asing bagiku. Itu.... AKU. Itu benar-benar
aku. Tapi... Astaghfirullah, apa yang terjadi Ya Allah... Ku tatap wajah yang
ku anggap sebagai aku itu tertidur, terpejam. Kulihat perban putih melingkar di
kepala, dan beberapa luka tergores di wajah dan tangannya. Ia diam tanpa ada
tanda waktu tuk terbangun, ia terpejam dalam mimpi yang tak pernah kumengerti.
Hingga tak terasa pipiku basah oleh air mata yang tak tersadarkan.
Ku tatap
seseorang duduk di samping tubuh itu sambil tertunduk dalam ekspresi yang
kuungkapkan sebagai kesedihan. Sesekali ia mengalihkannya dengan memainkan
handphone yang ia genggam. Tetap dalam kesedihan ia dengan kasih sayangnya
menjaga tubuh itu sendiri. Kak Ummi, orang yang sedari tadi kuharapkan
kehadirannya, ternyata sedang berada di sampingku, tepatnya tubuhku. Ya
Allah... Ya Robbi... aku memang tak mengerti semua ini, tapi aku mengerti ia
sangat menyayangiku. Terima kasih Engkau berikan aku sahabat sebaik dia.
“Rima, semoga di
manapun kau berada saat ini... kau akan temukan apa yang selama ini kau cari.
Obat dari semua masalahmu, ketenangan hati yang selama ini hilang dalam binar
jiwamu. Sudah tiga hari kau terbaring dalam mimpi yang tak pasti. Aku hanya
berharap mimpimu kali ini benar-benar menemukan mimpi kehidupanmu” ucap kak Ummi
dengan nada penuh lemas.
Aku tak tega
mendengarnya. Namun, kata-katanya menyadarkan hatiku tentang apa yang selama
ini kucari. Jawaban atas benang kusut yang membelenggu jiwaku. Ketenangan jiwa
yang ku dambakan. Dan kini aku ingat apa yang telah terjadi padaku.
###
Aku masih terpaku
di tempat sempit ini, kamar mandi. Sambil terus mengeluarkan air mata kepiluan.
Tak kuasa ku menahan duka dan lara yang menghimpit hidupku. Cobaan ini begitu
terasa menusuk semua organ tubuhku, membelenggu nadiku dan membuyarkan semua
isi kepalaku.
Aku tak mengerti
kenapa jiwaku seperti ini. Kenapa jiwa begitu panas, tatapanku sepedas kilat
yang siap manyambar. Aku sering memuntahkan amarahku pada semua yang ada di
sisiku, tak peduli orang ataupun benda. Seakan-akan tak ada seharipun waktu
untuk tak geram. Jiwaku, apa terjadi denganmu? Jawablah aku! Apakah kau lelah
dengan semua bebanmu? Dengan semua problem keluargamu? Dengan semua mimpimu
yang seolah kini selalu terhalang? “Jiwaku, jawab aku!”
Aku tak tahu.
Aku lelah. Aku ingin berteriak, lari dari semua ini. Namun semua tak sanggup
kulakukan. Aku hanya dapat menangis sederas-derasnya di tempat ini, berharap
tak ada seorangpun melihatku. Ingin rasanya aku pergi ke suatu tempat atau
orang yang dapat mengerti penderitaanku. Sudah tiga bulan aku menahan semua ini
dalam dadaku dan kini aku tak dapat menahannya lagi. Aku harus pergi kemanapun
langkahku membawaku.
Lalu
ku tinggalkan ruangan sempit itu, beranjak ke kamar pondokku. Seakan jiwaku
menarikku pada sebuah tujuan yang tak ku tahu dimana dan apa itu. Aku tak tahu
kemana aku pergi, entah ke kampus entah kemana, yang jelas jiwaku menuntunku
untuk keluar dari tempat ini. Kupakai selembar jilbab dan jaket, lalu kusambar
kunci motor Revoku. Ku pacu motorku entah berapa kecepatan yang
kugunakan, aku tak tahu.
Namun, tiba-tiba
konsentrasi pudar. Di sebuah bundaran kampus, padahal harusnya aku lebih
menajamkan pandangan dan kewaspadaan. Aku ingin kubelokkan motorku ke arah
kiri, namun di depan dan belakangku terhalang mobil-mobil yang mengapitku.
Ketika aku berhasil sedikit membelokkan motorku, tiba-tiba...
BRAKK!!!!
Kurasakan ada
sesuatu yang menabrak motorku dari belakang dengan kencang. Aku kehilangan
kendali, membuatku dan motorku teseret lima meter dan menghantam batas jalan.
Aku pun lepas dari setang motor dan berguling-guling menabrak sebuah tembok.
Tubuhku terasa begitu sakit, perih, darah mengucur dari kaki dan tanganku
hingga bergerak pun aku tak mampu. Lalu kurasakan pandanganku kabur dan semakin
kabur. Samar-samar ku dengar suara orang-orang yang berdatangan. Tiba-tiba
semua berubah menjadi gelap dan hanya gelap.
###
Terbang, melayang dalam penjelajahan jiwaku. Karena hatiku lah yang kan tahu kemana aku pergi dan berjelajah. Langkah kakiku hanyalah penegak gontainya hatiku, namun hatiku tetap pemimpin penjelajahan ini. Entah berapa lama ku merepopong perjalananku, tak pernah ada rasa ingin makan atau minum. Aku terus berjalan meninggalkan ragaku yang tergolek di rumah sakit entah bersama siapa kini ia, aku tak pernah menjenguknya lagi semenjak penjelajahan ini.
Terkadang ku rasakan semilir angin sejuk menyelimuti jiwaku. Sejuknya tak pernah kurasakan dalam kehidupan nyata. Hatiku berkata bahwa semua itu adalah doa-doa yang dikirim ayah ibuku, sahabat, keluarga bahkan guru-guruku. Memang alam maya ini indah, tapi keindahannya pun berbeda dengan indahnya nyata.
Tak dapat kuceritakan kenapa beberapa kali aku tiba-tiba berada di suatu tempat kemudian setelah beberapa waktu tiba-tiba aku pergi begitu saja. Dan tak terpungkiri akupun beberapa kali tiba-tiba berada di rumah seseorang, menyaksikan aktifitasnya.
Suatu waktu aku terdampar di sebuah pasar yang berisi puluhan orang dengan aktifitas masing-masing. Hati menuntunku mendekati seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahun yang sedang duduk menjajakan dagangannya. Beberapa jenis mainan anak-anak ia gelar pada layar sederhana. Ia pasang wajah penuh keramahan dengan beberapa kata halus ia tujukan pada para pengunjung pasar. “Pak, mainan pak,.. buat anaknya di rumah”
Parasnya penuh ketenangan dan kesabaran menanti rizki datang lewat usahanya. Namun semenjak tadi tak ada seorangpun mampir untuk membeli barang dagangannya, bahkan untuk mendekat dan menyentuh pun tak ada. Hatiku perih menyaksikan perjuangan nyata seorang kepala keluarga itu. Apakah manusia juga pasti merasakan perjuangan itu?
Aku ingin pergi dari hadapan orang ini, namun langkahku tertahan dan tak tahu kenapa, akupun juga tak akan bisa melawannya. Tak terasa ternyata aku telah berjam-jam berada di sampingnya, tapi satupun tak ada barang yang terjual. Namun kulihat wajahnya tetap menunjukkan ketenangan dan kesabaran. Tak ada secuil jengkelpun muncul dalam rautnya, hanya saja lelahlah yang memang tampak. Lalu tepat sebelum waktu dhuhur, ia memberesi dagangannya dan beranjak pulang. Langkahku tak lepas dari perjalanan pulangnya. Sampai ia tiba di sebuah kayu rumah kecil dengan alas tanah, kulihat seorang wanita cantik berjilbab biru muda tersenyum ramah ke arah kami. Lalu mendekati laki-laki ini, mencium tangannya.
“Ayah sudah pulang, bagaimana
dagangannya Yah? laris?” tanyanya dengan kelembutan.
“Alhamdulillah, hari ini Ayah belum bisa
membawa pulang uang Bu, maaf ya.”
“Iya tak apa-apa Yah, saya senang Ayah
pulang seperti biasa. Masalah uang bisa dicari lagi kan Yah, yang penting kita
tetap nikmat Allah” katanya lembut.
“Ya bu, ibu’ udah masak belum? Ayah
lapar nih” katanya sambil mengelus perutnya.
“ Sudah, ayo masuk Yah”
Mereka pun berlalu dalam kesabaran dan
keikhlasan mereka. Sungguh indah dan ringannya hidup mereka, bagaikan tak ada
beban sama sekali, padahal secara ekonomi mereka terlihat kurang.
Tiba-tiba tubuhku kembali tertarik oleh hal yang tak kusadari, melayang dan melayang. Hingga hal itu menurunkanku di sebuah tempat asing yang sama sekali belum pernah kukenal. Aku berdiri di depan sebuah rumah berukuran sedang. Rumah tembok bercat biru muda, di kanan kirinya tumbuh beberapa pohon pisang dan mangga.
Aku masih berada di halaman rumahnya yang cukup luas. Hati menuntunku untuk memasuki rumahnya yang begitu tenang dan sejuk. Tak kukenali hawa itu, yang ku tahu aku merasa begitu nyaman berada di rumah itu. Aku masuk dengan pelan menuju sebuah ruang tamu beralas karpet hijau. Kulihat di tempat itu beberapa orang lelaki, berpenampilan sopan dengan gaya yang kuanggap seperti santri. Mereka duduk berkumpul dengan sebuah kitab berwarna kuning di pangkuan mereka, sambil menghadap seorang lelaki berumur 50an. Lelaki itu berbaju putih, sarung hijau kotak-kotak dan peci putih. Wajahnya bersih tanpa kumis dan jenggot sama sekali, hanya terlihat rambutnya telah memutih. Hatiku merasakan ketenangan dan kewibawaannya. Di depannya sebuah kitab yang tampaknya sama dengan kitab para lelaki itu. Rupaya pada saat itu mereka sedang mengaji kitab kuning. Kusimpulkan bahwa lelaki tua itu adalah seorang guru dan mereka adalah para santri.
Akupun tertarik mendengar pengajian itu, aku duduk di belakang para santri. Meski aku sadar mereka tak dapat melihatku, tapi aku harus tetap menjaga jarak dari tempat mereka.
“Semua yang ada di dunia ini, tak ada yang terlepas dari kuasaNya... semua ada karenaNya, kesusahanmu, kebahagianmu dan begitu juga dirimu. Sehingga, semua yang terjadi sangatlah sia-sia jika tidak kalian ikhlaskan karena Allah, karena semua adalah milikNya” ucapnya.
“Wallahu a’lam bisshowab. Kita lanjutkan
minggu depan, aku sedang kedatangan tamu sekarang” ia menutup pengajiannya.
Para santri pun berhambur pergi setelah berjabat tangan dengannya. Dan aku
masih tetap duduk di tempat itu, menatapnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini nak?,
bukankah tempatmu bukan di sini?” ucapnya setelah semua santri telah pergi,
tinggal ia sendiri.
Aku bingung, dengan siapa ia berbicara?
Bukankah di sini tak ada orang lagi.. atau mungkin ia dapat melihatku?? Aku
semakin bingung, dan aku merasa takut.
“Apa yang sedang kamu cari di tempatku
ini nak?” tanyanya lagi.
“Bapak dapat melihat saya?” tanyaku
gugup.
“Ya, kalau aku tak dapat melihatmu, lalu
aku berbicara dengan siapa, hemm?” wajahnya tetap tenang. Hatiku pun menjadi
tenang menatapnya. Ia mendekatiku, lalu duduk bersila tepat di depanku.
“Saya tidak tahu pak, tiba-tiba saya
berada di tempat ini” aku mencoba memberanikan diri menjawab.
“Nak... kamu jangan terlalu menyusahkan
diri dengan kesulitanmu. Kita sering inginkan ketenangan, tetapi Allah lebih
tau bahwa kesusahan itu mengajarkan kita tentang arti kehidupan, arti
kesabaran, dan terutama keikhlasan. Kita hanya bisa seperti ini, berdoa,
memohon, berserah dan jika kita sudah tak mampu maka letakkan, pasrahkan semua
pada Allah. Semua harus ikhlas, legowo. Amalkan itu dalam hidupmu, ikhlaskan
semua masalahmu karena dan pada Allah. Satu kata untukmu nak... ikhlas. Jika
kau dapat mengamalkannya, hidupmu akan selalu tenang.
Sekarang... pulanglah ke tempat asalmu,
banyak orang menunggumu, banyak orang menyayangimu dan dirimu juga sangat
menunggumu.” Ia berkata dengan penuh wibawa dan kelembutan.
“ Ya pak... kalau boleh tahu siapa Bapak
sebenarnya?”
“ Namaku Abdullah. Pulanglah nak.!”
“Pak....”
Belum selesai ucapanku, tiba-tiba aku kembali tertarik seperti beberapa kali terjadi. Aku melayang dan melayang. Aku pun tak tahu kemana lagi aku akan dibawa pergi. Hingga akhirnya ia kembali menurunkanku. Terasa berat ku coba membuka mata, meski dengan pandangan kabur. Tubuhku pun tak se-ringan tadi.
“Rima...” panggil seseorang di sampingku.
“Ibu, kak Ummi....”
“Alhamdulillah Rim, kau sudah sadar, sudah 9 hari kamu tak sadarkan diri” Ucap Ibu dan Kak Rima hampir bersamaan.
Aku tersenyum lemas, tapi ku rasa lepas.
###